15 Mei 2014

John Legend - All of Me Lyrics

Ceritanya gue lagi suka banget sama lagu ini. Awalnya sering denger di radio Delta FM hampir tiap pagi, tiap hari, dan sepanjang waktu tiap gue nyalain radio. Lagu ini selalu diputar dan terngiang-ngiang. Tapi buruknya gue ya begitu deh, suka lagu, tapi nggak tahu siapa yang nyanyi dan judul lagunya apa. Gue cuma bisa menggumamkan nada-nadanya doang di saat lagu itu muncul atau bahkan nggak muncul sama sekali.


Suatu hari gue ketemuan sama temen gue di McD. Tiba-tiba lagu ini muncul dan gue sama temen gue langsung ngobrolin lagu ini. Ternyata kita berdua sama-sama suka lagu ini tapi nggak tahu siapa yang nyanyi. Hahahaha konyooool!

Sampe akhirnya, tadi pagi pas gue bangun tidur, lagu ini muncul lagi di radio. Gue berusaha untuk menyimak dan mendengarkan lagunya. Mendengarkan dengan seksama tiap lirik bahasa Inggris yang selalu lemah ditangkap sama pendengaran gue. Dengan sotoynya, langsung saja yang menurut gue beberapa kata di lirik itu bisa gue ngerti, gue ketik di pencarian mbah Google. And than, finally i find this lyrics song! Yes yes yes! And i knew who is singer! *jungkir balik bahagia*

Langsung deh gue download lagunya HAHA. dan gue putar-putar-putar dan putar lagi lagunya sebanyak yang gue mau. Sampe bosen, sampe muak dengerin lagu ini. Seneng itu adalah ketika lo berhasil nemuin sebuah lagu yang tadinya lo nggak tahu itu lagu apa dan siapa yang nyanyi, berhasil lo temukan dan lo nyanyikan dengan fasih--alias sambil baca liriknya--HAHAHA!

So, enjoy this song! Ini ampuh banget buat mellow-mellow-an hehe.

--------------------------------------

JOHN LEGEND "ALL OF ME"

[Verse]
What would I do without your smart mouth
Drawing me in, and you kicking me out
Got my head spinning, no kidding, I can’t pin you down
What’s going on in that beautiful mind
I’m your magical mystery ride
And I’m so dizzy, don’t know what hit me, but I’ll be alright

[Bridge]
My head’s under water
But I’m breathing fine
You’re crazy and I’m out of my mind

[Hook]
Cause all of me
Loves all of you
Love your curves and all your edges
All your perfect imperfections
Give your all to me
I’ll give my all to you
You’re my end and my beginning
Even when I lose I’m winning
‘Cause I give you all of me
And you give me all of you

[Verse]
How many times do I have to tell you
Even when you’re crying you’re beautiful too
The world is beating you down, I’m around through every mood
You’re my downfall, you’re my muse
My worst distraction, my rhythm and blues
I can’t stop singing, it’s ringing, in my head for you

[Bridge]
My head’s under water
But I’m breathing fine
You’re crazy and I’m out of my mind

[Hook]
Cause all of me
Loves all of you
Love your curves and all your edges
All your perfect imperfections
Give your all to me
I’ll give my all to you
You’re my end and my beginning
Even when I lose I’m winning
‘Cause I give you all of me
And you give me all of you
Give me all of you
Cards on the table, we’re both showing hearts
Risking it all, though it’s hard

[Hook]
Cause all of me
Loves all of you
Love your curves and all your edges
All your perfect imperfections
Give your all to me
I’ll give my all to you
You’re my end and my beginning
Even when I lose I’m winning
‘Cause I give you all of me
And you give me all of you
I give you all of me
And you give me all of you

31 Maret 2014

Akhirnya, Novel Layak Terbit!

Holaaa~ Lama tak jumpa! Ada kabar baik di bulan Maret kemarin loh. Mau tau apa kabar baiknya? Penasaran? Yuk cuss~

Jadi begini, di tengah kesibukan gue akhir-akhir ini dengan skripsi, hal yang tak terduga datang menghampiri gue. Kala itu siang hari, gue lupa lagi ngapain, yang gue inget lagi siap-siap mau ke kampus. Tiba-tiba ada pesan masuk di inbox facebook. Kebetulan orang yang kirim pesan itu nggak gue kenal. Setelah gue baca, intinya orang itu memperkenalkan diri sebagai editor fiksi di Gramedia Pustaka Utama dan memberitahu gue bahwa naskah gue yg berjudul JURNALIS IDOLA, layak terbit.

Wow~

Hening sejenak. Berkali-kali gue baca pesan itu. Percaya nggak percaya. Tapi seneng juga sih.. Bayangkan saja! Novel JURNALIS IDOLA adalah novel yang gue kirim (bahkan gue antar sendiri ke kantor Gramedia Pustaka Utama) saat SMA kelas 2. Itu tuh sudah 5 tahun yang lalu. Nggak nyangka banget (sampai detik ini gue nulis blog) kalau naskah yg gue tulis itu bener-bener akan diterbitkan sebentar lagi. Gue beneran akan jadi penulis. Itu cita-cita gue sejak SMP!

Kegembiraan datang begitu cepat. Begitu kesepakatannya sang editor meminta gue untuk mengirimkan soft copy naskah via email, gue langsung kalang kabut! Masalahnya, novel itu sudah nggak punya soft copy-nya lagi. Sudah hilang entah ke mana. Jarak 5 tahun yang gak sebentar, membuat gue sudah berkali-kali ganti flasdisk bahkan komputer. Untungnya gue inget, kalau gue punya hardcopy-nya 1 eksemplar di rumah. Alhamdulillah... beneran masih ada. Inilah alasan mengapa gue selalu menolak perintah bokap gue untuk membuang segala macam kertas yg tak terpakai di kamar. Sebab di kamar gue, banyak banget berkas penting! Salah satunya hardcopy naskah ini.

Gue pikir... novel itu sudah resmi ditolak karena sudah lebih dari dua tahun nggak ada kabar. Ternyata dari pihak editor memang sudah sejak lama ingin menghubungi gue. Sayangnya, naskah gue terselip dan kelewat, terlebih lagi mereka kehilangan biodata gue katanya. Jadi mereka kesulitan untuk menghubungi gue. Awalnya gue takut ini penipuan. Tapi lagi-lagi pacar gue menyemangati dan berkata bahwa nggak mungkin ini penipuan, buat apa mereka tetap mencari gue sampai rentang waktu lima tahun berlalu? Setelah gue pikir-pikir, iya juga ya...

REZEKI EMANG NGGAK KE MANA!

Syukur alhamdulillaaaaahhh banget! Ini cita-cita terbesar gue loh *salah satunya* bahkan gue juga pernah bilang pokoknya sebelum nikah, gue harus bisa nerbitin satu buku dan buku itu mejeng di toko buku. Bener-bener ajaib! Mimpi gue sebentar lagi jadi nyata. Sebenernya sudah jadi nyata sih... tinggal pengesahan dan bukti konkretnya aja hihihi :p

Berhubung gue gak punya soft copy untuk dikirim via email, akhirnya gue meminta tolong beberapa temen kampus untuk bantu ngetik ulang naskah gue. Alhamdulillah, seminggu kelar 150-an halaman :D Nah sekarang, naskah gue lagi proses pengeditan katanya hihihi. Gue masih nggak nyangka deh beneran, kok bisa ya naskah gue terpilih sebagai naskah yang layak terbit? Bahkan gue saja lupa itu ceritanya seperti apa. Dan setelah gue baca-baca lagi, ya ampuuuuun, kisahnya memang teenlit banget hahaha *maklum itu ditulis saat SMA*

Doa gue, semoga novel gue ini cepet terbit, mejeng di rak buku, laris di pasaran, banyak tawaran talkshow *haha ngarep* dan seiring dengan itu, skripsi gue juga selesai berbarengan. AMIIIIIN! :D

Buat kamu-kamu yg baca postingan saya ini, jangan lupa nanti mampir ke Gramedia ya, terus beli novel saya hihihi. Semoga nanti di postingan berikutnya, bentuk konkret novelnya sudah bisa dipublish! Yeah! :D

Quotes kali ini:
Nggak ada yang nggak mungkin! Percaya deh kalau semua mimpi itu bisa jadi nyata! :D

Salam,
@wawawisky

8 Maret 2014

Analogi Rasa by Sekar Sriwedari

Aku melihatmu 
Dalam tiap sore yang diberikan malam
Pada lagu persembahan
Cahaya untuk kelam
Pada tiap memar dalam keluhan

Aku melupakanmu
Seperti api yang terbakar abu
Seperti musim semi
Yang merayu layu
Seperti merah muda dalam duka

Reff:
Aku membutuhkanmu untuk apa saja
Seperti jantung yang penuh detaknya
Seperti mata dan udara
Kapan saja terasa


lyrics: Sekar Sriwedari
vocal: Indah @nurrind_sassal
gitar: Tera @terragila
bass: Harris @oct_harris
violin: Rizky @rramadhani
drum: Tyo @setiyo40
keybord & backing vocal: Fergi @Ferginadira


Download lagunya di sini.
Follow Twitter @SekarSriwedari di sini.

6 Maret 2014

Perpus UI (Mulai) Nggak Aman Karena Banyak "Volunteer"

Saya mau cerita sedikit mengenai pengalaman tidak enak di kampus sendiri. Saya mahasiswa UI angkatan 2010 yang sering sekali berkunjung ke Perpustakaan UI. Sejak awal perpustakaan ini dibangun, saya merasa nyaman-nyaman saja berkunjung ke sini. Tapi beberapa hari terakhir, saya merasa kuatir dan tidak nyaman jika berkeliaran di Perpus UI. Mengapa? Begini ceritanya.

Saat itu hari Jumat (sekitar akhir bulan Februari), saya sedang bertemu dengan teman SMA saya yang kebetulan tidak berkuliah di UI. Mereka ingin sekali melihat-lihat dan berkunjung ke Perpustakaan UI. Kami bertiga, cewek semua, kebetulan sedang menikmati sore di Taman Lingkar perpus. Setelah dirasa cukup ngobrol tralala-trilili, akhirnya kami memutuskan untuk masuk ke dalam perpus.

Kami baru saja bangkit dari duduk, tiba-tiba ada dua orang mencegat kami. Satu orang laki-laki dan satu orang perempuan. Kami sempat diminta waktu sebentar untuk diberikan informasi oleh mereka. Awalnya, saya biasa saja. Saya berpikir mungkin mereka mahasiswa UI yang sedang mengadakan kegiatan kampus dan ingin berbagi cerita atau semacam memberikan info tentang acara mereka. Oleh karena itu, saya menerima kehadiran mereka dan mengajak kedua teman saya duduk kembali.

Dua orang itu mulai memperkenalkan diri kepada kami bertiga. Si cowok yang menjadi jubirnya, mengatakan bahwa mereka adalah mahasiswa dari salah satu kampus swasta di Depok (yang letak kampusnya nggak sebelahan dengan UI itu loh, agak diujung jalan Margonda). Mereka juga memulai cerita mereka dengan membawa-bawa suatu komunitas yang peduli dengan kanker (saya lupa dia nyebut nama komunitas itu apa). Si cowok juga menyebut-nyebut salah satu penderita kanker bernama Rizki, katanya masih balita, sakitnya sudah lama, parah, dan bla bla bla dan seterusnya.

Saya mulai sadar bahwa mereka bukan mahasiswa UI yang sedang mempromosikan acara kampus. Tapi orang luar, yang saya tidak kenal, seperti "volunteer" kanker. Sejak itu juga, saya pun sadar, pasti ujung-ujungnya pasti saya diharapkan memberikan sumbangan untuk membantu pengobatan. TAPI, ternyata sumbangan yang mereka harapkan itu JAUH berbeda dengan yang saya pikirkan.

Kedua "volunteer" ini mengatakan bahwa mereka ingin sekali kami bertiga "membantu pengobatan Rizki" dengan cara membeli sebuah buku kecil, panjang, dan berwarna pink biru, mirip seperti buku kwitansi tetapi lebih tebal, dan saya tidak tahu apa isi buku itu, dengan seharga Rp. 100.000 per buku. Ia juga menambahkan begini, "Yah masa sih Kakak untuk beli minuman di Starbucks saja sanggup, untuk membantu pengobatan Rizki tidak mau menyisihkan uangnya. Apalagi kan Rizki tidak bisa setiap hari merasakan seperti yg kalian rasakan. Cuma seratus ribu rupiah kok Kak, bukunya masih tersisa lima. Kalau Kakak mau beli satu atau lima-limanya juga boleh kok. Dengan senang hati."

Sontak, saya dan kedua sahabat saya kaget mendengarnya. Salah seorang teman saya sempat nyeletuk sambil tertawa kecil, katanya, "Wah, kalau segitu mah, kita nggak punya uang. Bahkan bawa uang hari ini saja nggak sampai segitu."

Ternyata ucapan teman saya itu dibalas oleh si "volunteer" ini, katanya, "Yaa mungkin bisa patungan. Kalian kan bertiga. Jadi bisa beli satu atau dua, mungkin. Masa sih nggak pengen bantu sama sekali."

Di sini saya mulai nggak nyaman dengan cara dan arah bicara si "volunteer" ini. Hmm... terkesan agak memaksa dan bagi mereka pokoknya kami harus memberikan mereka uang senilai Rp. 100.000. Kami bertiga mulai berpandang-pandangan dengan tatapan saling bertanya. Sementara dari awal saya sudah bertekad jika memang kedua "volunteer" ini meminta sumbangan, saya akan memberi seikhlasnya dan tidak sejumlah seratus ribu rupiah atau malah ya tidak memberikan sama sekali. Awalnya saya sudah berniat baik, tapi karena adanya kesan pemaksaan ini membuat saya jadi malas untuk membantu. Bukannya pelit atau bagaimana, caranya ini loh...

Karena kedua "volunteer" ini terus nyerocos dengan rayuan-rayuan dan kata-kata seperti memojokkan kami (seperti "masa sih anak UI yang banyak duit nggak mau bantu? nggak mau ngasih duit seratus ribu doang? pelit banget!"), apalagi mereka juga mengatakan "Yaa seikhlasnya juga boleh kok, Kak.. Masa sih sudah seikhlasnya saja nggak ngasih juga.." akhirnya saya putuskan untuk angkat suara. Saya katakan pada mereka bahwa kami kemungkinan akan membantu, tetapi tidak untuk membeli buku seharga seratus ribu itu. Kami bertiga putuskan untuk patungan dan memberikan mereka setengah harga.

Tapi jangan salah, setelah diberikan lima puluh ribu saja mereka masih membujuk-bujuk agar kami memberikan setengahnya lagi. Katanya, "Tanggung loh lima puluh ribu lagi." Dengan segera saya katakan, "Tidak, terima kasih. Ini bantuan dari kami." dengan nada sopan dan sedikit tegas. Usai dapat uang, akhirnya mereka mengucapkan terima kasih dan berbasa-basi sebelum akhirnya pergi.

Saya sempat merasa tidak enak sekali dengan kedua teman saya yang baru pertama kali ke Perpustakaan UI, justru tersuguhkan dengan keadaan seperti itu. Bagi saya pribadi, saya cukup kaget mengalaminya. Karena tak biasanya di UI ada kejadian seperti itu. Kasar-kasarnya anak UI membutuhkan sumbangan untuk suatu acara atau kegiatan, biasanya lewat berjualan. Tidak seperti "volunteer" yang saya rasa abal-abal. Entahlah dari awal saya juga tidak tahu apakah mereka betulan volunteer atau bohongan.

Sebab, kejadian seperti ini tidak hanya sekali menimpa saya. Untuk kedua kalinya saya didatangi lagi salah satu dari mereka. Kali ini saya sedang di dalam perpus lantai bawah depan Times, sedang menunggu teman ke toilet. Memang, kondisi saya saat itu sedang melamun. Memikirkan banyak hal. Tiba-tiba ada yang datang meminta waktu sebentar karena ingin memberikan informasi, Saya kira tadinya orang luar yang kesasar di perpustakaan UI. Sebab tidak sekali dua kali, orang bingung jika berjalan-jalan di perpus semegah ini.

Orang ini berperawakan seperti mahasiswa, makanya saya tidak berpikir macam-macam. Hingga akhirnya dia menyebut YKI, Yayasan Kanker Indonesia katanya. Hingga akhirnya ia menyebut nama Rizki, seorang balita yang sedang mengidap kanker, langsung saja saya potong ceritanya. "Oh, Rizki? Adek kecil yg sakit kanker itu? Waktu itu juga ada yang datang ke saya seperti anda."

Agaknya dia kaget. Dia justru balik bertanya, "Oh kakak sudah pernah ya? Beli buku ini? Waktu itu kakak nyumbang berapa?"

Dalam hati, saya bingung. Apa pantas orang ini bertanya saya menyumbang berapa rupiah saat itu? Agaknya tidak etis ya... Karena saya sudah tau siapa dia dan orang ini mau apa, tanpa berlama-lama membuat mulutnya berbusa, saya langsung bilang bahwa saya tidak memberi sumbangan untuk kali ini. Saya langsung lihat raut wajah kecewa dan sedikit kesal dari orang itu. Tapi masa bodo lah! Toh, hak saya ingin memberikan sumbangan atau tidak. Apalagi saat itu saya sedang diburu waktu.

Inilah cuplikan cerita pengalaman saya yang membuat saya jadi merasa tidak nyaman dan tidak aman di kampus sendiri. Terlebih di perpus UI. Pengalaman yang tidak sekali dan cukup atau malah amat menganggu. Mungkin jika mereka "meminta" sumbangan dengan cara baik-baik, tentu akan lebih enak memberikannya. Tapi kalau caranya memaksa dan dipatok harga seperti ini, ya... kurang etis dan harus dicurigai.

Pesan saja, bagi yang membaca postingan ini, terlebih lagi anak UI, untuk lebih berhati-hati di kampus. Kalau bisa jangan jalan sendirian, minimal berdua atau bertiga dengan teman. Jangan bengong, karena mereka senang kayaknya mendekati orang-orang yang lagi sendirian terus bengong pula. Intinya lebih waspada saja sama orang-orang dengan ciri-ciri "volunteer" ini. Dan diharapkan juga untuk petugas-petugas keamaan di UI, agar lebih menindaklanjuti kasus ini. Karena saya yakin, kalau yang mengalami bukan hanya saya.


Salam saya,
Rara Indah (Mahasiswa FIB UI)

29 Januari 2014

Surat, Kartu Pos, dan Perangko

sekitar setengah jam yang lalu, gue baru saja kirim surat dan kartu pos di kantor pos yang ada di perpus UI. ini adalah kali pertama gue kirim surat dan kartu pos pakai perangko. rasanya deg-deg-an banget! kenapa? karena ya pertama kali. ada perasaan nggak ngerti dan takut salah. apalagi bapak-bapak yg jaga di kantor pos agak-agak jutek gitu hehe ^^

tadi gue kirim dua surat dan satu kartu pos. cerita dulu deh, semua ini berawal gara-gara gue sering lihat temen gue upload foto-foto lucu tentang surat, perangko, dan kartu pos di akun Instagramnya. dilihat-lihat, kayaknya seru juga. akhirnya gue cari tau sebenernya dia lagi ngapain sih. dan akhirnya gue tahu kalau fenomena untuk berkirim surat dan kartu pos sedang ngeits banget saat ini.

sebenernya fenomena kayak gini, gue udah pernah diajakin setahun yg lalu. cuma, dasarnya gue nggak mau ribet, akhirnya gue nggak ikut-ikutan. jujur, sekarang gue tertarik nih untuk ikut-ikutan kirim surat dan kartu pos. karena surat yang kita kirim itu nggak harus kaku dengan kertas berwarna putih dan beramplop polos. kita bisa hias surat dan amplop sesuka kita dan semenarik mungkin. nah, kerjaan menghias dan membungkus kayak gini kan hobi gue banget!

tiga hari yang lalu gue dapet surat dari dua orang. nah hari ini, surat mereka gue balas. satu surat menuju semarang, satu surat lainnya menuju jakarta. dan satu kartu pos menuju bogor. wow, selama menulis surat dan membungkusnya dengan amplop coklat buatan gue sendiri, gue menikmati banget proses itu.

gue berterimakasih banget buat teman gue, namanya patre, yang udah ngenalin gue dengan cardtopost.com! akhirnya gue berani juga untuk memulai kegiatan menyenangkan ini. barusan, gue juga udah minta 5 alamat orang lewat web cardtopost.com untuk bertukur kartu pos. wilayahnya masih nusantara sih... tapi ya memang rang-orang di nusantara kok yang lagi gue cari.

gue bukannya nggak mau kirim-kirim surat dengan orang di luar Indonesia. gue hanya belum siap batin kirim surat ke luar negeri hahaha (bilang aja lo takut, ra) karena banyak yang harus gue benahi kalo mau kirim-kirim surat sama orang luar. pertama: bahasa inggris! *plak

yaa.. untuk permulaan, perdalam perkenalan dengan sesama anak negeri lah. untuk yang luar negeri, next time mungkin bisa :)

nah, kamu gimana? yuk, ikutan kirim-kirim surat dan kartu pos! yang berminat tukeran kartu pos dan berkirim surat ke gue, hubungi gue via email ya!

email: raraindah.novanindyah@gmail.com ^^

26 Januari 2014

Ketika Cemburu Menyelimutimu

Akhir-akhir ini kamu cemburuan. Ya, sangat cemburuan.
Apapun sikapku, jika bersama pria itu, akan selalu salah di matamu.
Apapun yang kulakukan, sekalipun hanya menyapa apa kabar, jika kepada pria itu, akan selalu ada mata-matamu yang mengawasi.

Terkadang, saat bersama pria itu, aku telah bersikap wajar dan tak berlebihan seperti dulu.
Aku mengakui bahwa dulu aku memang mencari cara agar mendapat perhatiannya.
Kini, aku berbeda. Aku berusaha untuk memahamimu. Menghormatimu, menghargaimu sebagai kekasihku.
Tapi...
Entah dari sisi mana kau melihat aku masih sama seperti yang dulu.
Kau bilang aku selalu memperlakukan pria itu dengan cara yang beda dibanding aku bersama yang lainnya.
Kau bilang tatapanku tak bisa berbohong, dan kau selalu menangkap bahwa tatapanku teramat dalam masuk ke dalam tatapannya.

Tuhan...
Apakah kesempatanku sudah habis?
Aku tahu aku salah. Sangat salah. Sangat berisiko. Jika kau bukan kau, mungkin aku sudah dicampakkan. Sudah ditinggalkan, dan dilupakan.
Tapi kau adalah kau. Yang selalu mau membuka pintu maaf yang sebesar-besarnya untukku yang pengkhianat ini.

Kau harus tahu.. Bahwa aku takut saat kau cemburu.
Aku takut kau tak mampu mengontrol emosimu. Kau akan melakukan kesalahan tidak di hadapanku saja. tetapi juga di hadapan orang lain. Maka mereka akan tahu ada sesuatu di antara kita.
Aku juga takut.. cemburumu akan lebih menyakitiku, lebih dari ini.

Kau telah memberiku pilihan waktu itu.
Dan aku telah berusaha untuk memilih dan berkomitmen atas pilihanku.
Lalu mengapa alam bawah sadarmu selalu berkata begitu?!

Mungkin alam bawah sadarmu terlanjur amat kecewa dan marah. Hanya saja kenyataannya kau tak mampu berbuat apa-apa.. 

Ketahuilah, aku masih menyayangimu. Aku masih berusaha menjadi yang pantas untukmu..
Aku selalu berusaha agar tak ada yang sia-sia.. Aku mohon.. Jangan membuatku takut lebih dari ini.. 

24 Januari 2014

Cerbung (Part II)

Kacau. Dan semuanya gara-gara Indra.

Sepanjang perjalanan, air mataku nggak juga berhenti mengalir. Supir taksi sejak tadi pasti sudah penasaran atau malah kebingungan melihatku terus-terusan menangis di kursi belakang. Jengkel beradu pedih itu rasanya membuat dada sesak. Cewek memang bisanya cuma nangis saat nggak tahu lagi harus bagaimana untuk menghadapi masalahnya.

Sekitar lima menit lalu, aku meninggalkan Indra di depan toko kue. Aku nggak peduli berapa ratus kali dia mengetuk-ketuk kaca jendela mobil agar aku keluar dan tak jadi pulang. Aku butuh waktu untuk sendiri.

Tak berapa lama kemudian, handphone-ku berdering. Kulihat di layar handphone, sahabatku yang menghubungi. Dengan kesal, akhirnya kuangkat juga telepon darinya.

"Halo," kataku.

"Halo, Sy! Di mana lo?" tanya sahabatku di seberang sana. Mendengar nadanya, sepertinya dia panik.

"Taksi."

"Iya, di mana?"

"Kenapa sih emangnya? Lo bukannya lagi masuk kerja ya hari ini?" tanyaku kesal.

"Iya, tapi gue lagi istirahat. Tadi Indra nelpon gue, katanya kalian berantem? Ada apa lagi sih, Sy?"

"Indra tuh ya?!" aku memejamkan mata sambil menahan kekesalanku mengetahui Indra yang begitu mudahnya mencari orang lain dan menceritakan masalahnya. "Bisa nggak sih dia nggak membawa-bawa orang lain di saat lagi ada masalah sama gue,"

"Jadi gue orang lain, Sy?" protes Tata.

"Setidaknya tuh dia menyelesaikannya sendiri, Ta!"

"Dia panik kali, Sy, lo tiba-tiba ngamuk nggak jelas dan pergi ninggalin dia begitu aja. Lo juga dong, jangan melulu nyalahin Indra yang apa-apa bawa orang lain. Lo sendiri, udah cukup dewasa menyelesaikan masalah lo dengan cara pergi ninggalin semuanya begitu aja kayak sekarang?"

"Lo nggak ngerti, Ta!"

"Lo yang nggak mau membuat diri lo sendiri untuk lebih mengerti sama keadaan yang lagi terjadi, Sy. Lo ada masalah, tapi lo nggak menceritakan masalah lo apa. Gimana Indra mau ngerti kalo lo merasa terganggu dengan kegiatannya? Tapi lo juga nggak bisa ninggalin dia begitu aja,"

"Terus semuanya salah gue? Ta, selama ini siapa sih yang lebih sering pergi? Indra, Ta! Dia nggak pernah sedikitpun mikirin perasaan gue saat dia naik gunung inilah, itulah, ke sanalah, ke sinilah. Nggak, Ta! Dia nggak tau gimana kuatirnya gue saat nggak juga dapet kabar dari dia selama berhari-hari, berminggu-minggu. Yang dia tau itu cuma bagaimana caranya berhasil sampai puncak gunung satu dan lainnya!"

"Ya lo bilang dong sama Indra, jangan lo ceritain hal yang sama aja kayak gini ke gue. Bukan gue yang harus tau tentang perasaan lo, Sy, tapi Indra..." kalimat terakhir Tata terdengar lebih lembut dari sebelumnya. Bibirku bergetar menahan tangis yang tiada hentinya.

Pikiranku berputar-putar membuatku pusing. Hatiku terus saja menyalahkan Indra. Sementara mulutku tak lagi mampu mengeluarkan kata-kata. Kutahan tangisku dengan mengigit bibir bawahku. Tak kuat lagi, kulepas isak tangis yang tertahan sejak tadi.

Sengaja, kumatikan tombol power di handphoneku agar tak ada seorang pun dapat mengubungiku. Benarkah Indra khawatir padaku? Benarkah Indra bingung dengan sikapku ini? Benarkah selama ini Indra tidak mengerti apa yang kumaksud selama ini? Benarkah aku terlalu sibuk memikirkan diriku sendiri?

Nggak adil. Ini nggak adil. Harusnya Indra tahu bagaimana seorang perempuan terlebih pacarnya sendiri saat ditinggal berhari-hari tanpa kabar ke tempat-tempat berbahaya seperti di alam bebas sana. Seharusnya Indra tahu apa yang harus dia katakan untuk sekadar menenangkanku selama dia pergi. Tak bisakah dia memahami itu? Apakah harus aku juga yang mengatakannya?

Satu tahun pacaran, hampir lebih sering sendirian dibanding berdua dengan Indra. Apa ini yang namanya pacaran? Oke, terserah Indra sekarang maunya apa. Aku nggak peduli. Dia mau naik gunung sesering apapun, aku nggak akan peduli lagi. Dia harus tahu, dia harus mengerti bagaimana rasanya jika tak ada lagi yang memperhatikannya seperti dulu.

(Bersambung)


23 Januari 2014

Cerbung (Part I)

"Berangkat lagi?!"

Kesel nggak, sih, setelah berhari-hari nggak bisa ketemu pacar, begitu sekalinya ketemu, eh pacar udah mengabari kalau minggu depan akan berangkat naik gunung lagi. Nggak ketemu lagi. Nggak kontak-kontakkan lagi.

Itu yang aku rasakan sekarang. Pagi tadi, dengan semangat empat lima aku bangun pagi-pagi sekali demi hari ini. Ya, hari ini aku akan ketemuan dengan pacarku. Hari-hari seperti ini, sangat terasa spesial buatku. Sebab, kami sudah berhari-hari tidak bertemu dan saling kirim pesan via telepon. Pacarku baru saja pulang dari pendakiannya di gungung Sindoro-Sumbing. Kini, perasaan bahagiaku dan angan-angan bisa memadu rindu hari ini, pupus sudah.

Aku duduk di kursiku dengan pandangan marah, jengkel. kutatap pacarku yang duduk di hadapanku dengan perasaan biasa saja. Seolah-olah keterkejutanku tadi merupakan hal biasa baginya.

"Iya nih, minggu depan aku ke Semeru, Ndut. Ah, aku seneng banget, Ndut, waktu Aldo bilang di perjalanan pulang kemarin kalau kita semua akan ke Semeru minggu depan. Kerennya lagi, Aldo bahkan sudah mempersiapkan semuanya. Aku sama anak-anak tinggal berangkat aja."

Masih kupandangi wajah pacarku yang berbinar-binar saat bercerita. Aku geram sekali rasanya. Seolah-olah ia bahagia sendiri. Saat dia bercerita tentang kegembiraannya itu, apa dia memikirkan perasaanku?

"Ndut," kini Indra menatapku agak lama setelah dia ketawa-ketiwi sambil menyantap Red Velvetnya. "Kenapa sih, kok diem? Pasti kamu juga kaget, ya?"

Apa dia bilang? Jelaslah aku kaget mendengar ceritanya. Bahkan saking kagetnya, aku jengkel sekali rasanya.

"Ndra, saat kamu naik gunung, kamu pernah mikirin aku?" kini aku melemah. Lebih tepatnya menahan amarah, seperti yang sudah-sudah.

"Loh, kok kamu nanya kayak gitu sih, Ndut?" tanya Indra bingung. "Ya pasti aku inget kamu lah, Sayang... Masa sama pacar aku sendiri, aku lupa," Indra melempar senyumnya yang sejak pertama kali bertemu hingga kini selalu membuatku jatuh cinta.

"Stop tersenyum kayak gitu sama aku, Ndra!" amarahku mulai tak mampu kukontrol. Suaraku meninggi begitu saja. Ada sesuatu yang membuat hatiku terasa sesak. Entahlah sejak kapan, kurasakan air mataku mulai menggenang.

"Kamu kenapa sih, Ndut? Kok jadi marah-marah?"

"Harusnya kamu mikir dulu sebelum kamu nanya kayak gitu!" jawabku. "Kamu tuh nggak pernah mikirin perasaan aku, Ndra! Apa kamu pernah nanya sama aku, gimana perasaan kamu saat kamu tinggal mendaki berhari-hari, berminggu-minggu? Tanpa kabar, tanpa pesan?!"

"Ndut... Kok jadi begini sih?" Indra mulai panik melihat amarahku lepas begitu saja. Ia berusaha menggenggam tanganku, tapi aku segera menepisnya. Air mataku terlanjur jatuh bersama kekesalan dan emosiku yang selama ini terpendam.

"Aku capek, Ndra. Aku capek kalau harus ditinggal-tinggal kamu terus. Aku juga butuh waktu... Kamu itu pacar aku, Ndra. Dan aku ini bukan mainan kesayangan kamu yang hanya kamu temui pada saat-saat tertentu saja. Kamu cerita panjang lebar tanpa kasih aku kesempatan untuk balik bercerita. Aku manusia, Ndra, aku juga punya perasaan. Aku bisa nangis, aku bisa marah!"

Kesal, jengkel, marah. Nafsu makanku hilang seketika. Padahal sejak berhari-hari yang lalu aku begitu menantikan hari ini, berkunjung ke toko kue dan mencicipi Red Velvet berdua dengan Indra. Bahkan tempat ini Indra yang merekomendasikan. Apalah arti penantianku jika sampai di sini, aku hanya mendengar Indra akan berangkat mendaki lagi.

Kuputuskan untuk menyudahi menyantap kue berwarna merah itu. Kulap bibirku dengan kasar dari sisa-sisa kue yang menempel di bibir. Lalu aku bangkit dengan gusar, dan pergi begitu saja.

Indra mengejarku. Tetapi ia tertahan karena harus membayar pesanan kami tadi. Aku tak peduli lagi dia meminta untuk ditunggu. Aku terus berjalan keluar toko begitu seorang pelayan membantu membukakan pintu. Kusunggingkan senyumku yang tertahan padanya sebagai ucapan terima kasih.

"Sissy! Tunggu, Sy!"

Aku dengar Indra berkali-kali memanggilku. Keputusanku bulat. Aku ingin pulang. Aku ingin menjauh darinya. Aku tak ingin bertemu dengannya. Dan aku tak peduli jika minggu depan Indra akan berangkat mendaki lagi.

Segeralah aku masuk ke dalam taksi kosong. Kukunci pintu dan kusuruh supir untuk segera menjalankan mobilnya. Teriakan Indra semakin mendekat. Indra mengetuk-ketuk kaca jelndela taksi yang kunaiki, berharap aku turun dan tidak pulang sendiri. Terlebih lagi dengan suasana kacau seperti ini. Bersamaan dengan itu, taksi melaju meninggalkan Indra yang berdiri mematung memandangiku pergi.

(Bersambung)

17 Januari 2014

Menjelang Valentine

Sadar nggak sadar, menjelang valentine bulan depan, hampir sebulan ini pesan masuk berdatangan tanpa nafas. Dari SMS, Whatsapp, dan Line, banyak orang ingin pesan bunga ke gue. Awalnya memang nggak sadar kalau motif pesan masuk yang datang bertubi-tubi itu karena sebentar lagi mau valentine. wah.. sayang juga rasanya karena gue belum bisa terima orderan lagi. Mengingat proposal skripsi belum juga selesai dan masih banyak yang harus direvisi.

www.wawawiskyflanel.blogspot.com
Teman-teman, mohon maaf sebesar-besar untuk respon yang sangat amat lambat sekali akhir-akhir ini. gue sebagai pemilik online shop wawawisky flanel lagi sibuuuuuk banget sama tugas akhir. kebetulan, semua bunga-bunga flanel itu gue sendiri yang buat. jadi selama gue sibuk, nggak ada orang lain yang bisa menggantikan untuk membuat orderan kalian. sebab dibutuhkan keterampilan dan nggak semua tangan bisa mirip dan serupa untuk membuat mawar flanel tersebut. sepertinya dibutuhkan waktu yg lama untuk mengajari satu atau dua orang agar cepat bisa membuat mawar flanel (khusus jadi pegawai wawawisky flanel), sayangnya gue belum ada niatan untuk buka lowongan :)

Tapi tenang yah teman-teman... Masih banyak jalan menuju Roma. Maka, banyak cara juga untuk memberikan hadiah spesial di hari valentine untuk orang-orang terkasih. Memang sih, valentine itu identik banget sama coklat dan bunga. gue juga menyadari, bahwa produk mawar flanel wawawisky ini punya peran penting di hari-hari spesial seperti valentine. mungkin karena pilihan warnanya yang menarik dan mawar flanel akan lebih awet jadi hadiah ketimbang mawar asli. Tapi tapi tapi... yuk kita pikirkan sama-sama karena di luar sana masih banyak benda-benda lucu untuk dijadikan kado. Harga pun relatif mau mahal atau murah, semua terserah kamu hehehe :p

Hadiah valentine itu biasanya selalu ada coklat. itu udah mainstream banget sih menurut gue. nah biar nggak umum, coba deh kasih coklat dalam bentuk yg berbeda. misalnya, coklat yg dijadikan hadiah bukan silverqueen atau cadburry dsb. tapi, pakai deh coklat koin yg dibungkus dgn kertas emas. itu lho coklat gopean jaman kita SD. Murah sih memang... tapi kamu bisa jadikan coklat itu jadi kelihatan MAHAL lho. Caranya coklatnya jangan hanya satu biji, tapi banyak. terserah jumlahnya berapa. lalu kamu kumpulkan coklat-coklat itu dalam satu toples dan kasih pita. di dalam toplesnya bisa kamu kasih kartu ucapan juga kok. Jaman sekarang, banyak model toples yg berkembang di pasaran. Km bisa beli di toko-toko furniture atau online shop di Instagram dengan keyword "jar".

Selain coklat, kamu bisa kasih pasangan kamu baju atau jam tangan. kategori ini memang relatif mahal sih... tapi ini juga alternatif buat kamu yang ngerasa bosen kalau valentine selalu kasih coklat dan bunga.


Alternatif kado lainnya itu scrapbook, guys. scrapbook yang gue maksud di sini banyak macam sih. bisa scrapbook frame (scrapbook yg dihias di dalam fram 3D), scrapbook album (berbetuk lembaran-lembaran), atau scrapbook jar (dalam toples). Kreasi scrapbook ini bisa kamu buat sendiri kok. Bahkan bisa lebih murah budgetnya dan makna pemberian kado juga lebih romantis karena yang membuat kamu sendiri. Kalau nggak mau repot dan nggak masalah dengan harga, kamu bisa cari online shop yang menerima jasa pembuatan scrapbook. Biasanya harus pesan dari jauh-jauh hari kalau alternatif ini sebab pesanan yang datang ke online shop tersebut pasti nggak sedikit. Apalagi begitu banyak orang yang ingin merayakan hari valentine bersama pasangan dengan memberikan hadiah spesial.


Pengalaman gue selama pacaran tiga tahun ini, kado yang gue berikan untuk pacar beda-beda tiap tahun dan didasari oleh banyak alasan. tahun pertama, gue bikin scrapbook mini model popart dan membuatkan pacar puding coklat berbetuk hati (love). Selama pembuatan kedua kado itu penuh godaan dan rintangan loh. Haha. Gue buat scrapbook itu saat pacar lagi naik gunung ke Sindoro Sumbing, hampir seminggu nggak ketemu. Nah, bermodalkan rindu ini makanya gue membuat scrapbook dengan sepenuh hati dan segenap kasih sayang #halah apalagi bikin scrapbook itu butuh waktu berhari-hari mengingat banyak peralatan dan bahan yang belum terbeli. Karena gue gak pengen kasih coklat, akhirnya gue buatin doi puding coklat. Alasannya supaya bisa dibentuk hati. Kalo coklat yang berbentuk hati mahal harganya hahaha!

Tahun kedua, gue nggak sempat bikin hadiah apa-apa kayak tahun pertama. Akhirnya gue buatin doi roti isi telur dadar buatan gue sendiri. Mungkin terbilang biasa, tapi proses pemberiannya ini yg menurut gue nggak biasa. Gue berangkat dijemput dia. sepanjang perjalanan, doi ngajak ngobrol. susah buat gue untuk ngasih kejutan hadiah itu. akhirnya, saat naik tangga gedung kampus, gue pura-pura jalan di belakang dia dan bilang "Eh tas kamu kebuka sayang, sini aku tutup resletingnya," Nah, itulah kesempatan untuk gue masukin kotak makan berisi roti isi rasa cinta ke dalam tas dia. Dan dia nggak menyadari hal itu. Di kotak makan itu, gue juga buat kartu ucapan hasil karya gue sendiri. Begitu masuk kelas dan kuliah dimulai, doi baru menyadari bahwa di tasnya ada hadiah spesial di hari spesial. Tjieee...

Tahun ketiga, lupa-lupa inget gue kasih apa buat pacar. nggak ada yang spesial sih kayaknya. mungkin karena lagi sama-sama sibuk dan terlalu mainstream untuk merayakan valentine, hehehe. Terkadang, semakin bertambahnya umur seseorang, maka kegiatan-kegiatan unyu seperti akan semakin tertinggal. Mungkin memang masanya sudah lewat hehehe. Tapi bukan berarti orang dewasa sekalipun gak pernah melakukan kegiatan romantis bareng pasangan di hari valentine.

Intinya sih, hari valentine itu bisa dirayakan tanpa harus selalu memberi kado spesial. Terkadang, cukup gandengan tangan sambil duduk di taman saat senja itu aja udah romantis loh. Sambil makan coklat berdua, ihirrrr :3

Semangat yah buat teman-teman yg mau merayakan valentine. Sukses kejutannya! Semoga tulisan ini sedikit banyak membantu hehehe!

Keep love!

12 Januari 2014

H-18 Proposal Skripsi

udah 18 hari gue lewati dengan perasaan nggak tenang. tanggal 30 nanti, adalah batas akhir pengumpulan proposal skripsi. gilak, skripsi coy! hahaha nggak nyangka loh masa-masa itu akan datang juga.

pusing rasanya. apalagi banyak buku dan referensi yang harus dibaca. belum lagi data yang dipakai belum pasti asik. sekalinya udah asik, ternyata meragukan. pfft.

deg-degan nih besok mau ketemu PA lagi. semoga besok kebingingan-kebingungan gue nggak akan menjadi kebingungan yang berlanjut. tetapi dapat pencerahan yg berarti lah.

dan semoga PA nggak membuat gue untuk lebih bingung lagi. tapi udah mulai nyuruh gue untuk nulis. bismillah~

16 Desember 2013

22th.

sekadar mengisi tulisan di blog saja supaya blog nggak sepi. kebetulan juga sudah lama nggak posting dan cerita-cerita. takutnya kamu marah sama aku, Fidho :D

sekadar menulis post yang terlambat, huehehe. ini cerita tentang ulang tahunku yang ke-22. di ulang tahun kali ini, aku masih sama Rizky, alhamdulillah. dan masih punya banyak teman-teman, serta mimpi-mimpi yg selalu siaga diwujudkan.

ulang tahun kali ini, cukup beda dari tahun-tahun sebelumnya. ada acara syukuran di rumah saat malam hari. semua keluarga berkumpul, berdoa, dan makan-makan pastinya. terima kasih tak terhingga untuk mama papa yg udah bela-belain bikin acara dadakan itu :")

pagi harinya, satu persatu ucapan kuterima via sms maupun sosmed. yg langsung juga banyak, alhamdulillah. tahun ini ada peningkatan dibanding tahun kemarin, agak lebih menyedihkan karena ga begitu banyak yg ngucapin *iya, aku memang berharap semua orang ngucapin selamat ulang tahun >,<

kejadian lucu juga ada. perihal kejutan yg gagal gitu hihihi. kasian Asti, salah kirim SMS ke aku untuk nanyain lilin ke Rizky. Wkwk~ gapapa, Ti, gue udah seneng lo masih menyempatkan waktu untuk bikin kejutan. Btw, kuenya enak. sampe detik ini gue masih inget rasa manis dan lembutnya Chocolate Cake Harvest :3

dapet kado apa tahun ini? alhamdulillah cukup berlimpah. dari Asti & Dwi dapet scraf motif warna oranye, dari Wahyu & Zenny dapat novel. yeay :D
dari Rizky? Wow, dia memberikan hal terindah tahun ini. doi berhasil bikin gue klepel-klepek. kenapa? karena Rizky kasih kado scrapbook via toples yg dia buat sendiri. biasanya gue yg suka bikin begituan lho.. sekarang dia mau buatin buat gue. senangnyaaaah :D
makasih ya cintah :*

terima kasih buat semuanya yg sudah doain banyak & sedikit. semoga Allah melimpahkan keberkahan untuk kalian juga! love you all :*







uas vs hobi


#quotesoftheday #keepwriting #gotothenextproject

14 Desember 2013

#nextproject

"Katamu kau mencintaiku?"

"Aku memang mencintaimu," jawabku.

"Tapi kamu mencintaiku dengan kepura-puraanmu. Sebatas untuk membahagiakannya yang paling
kau cintai, hingga saat ini."

"Aku hanya ingin tak ada yang terluka antara kau dan dia."

"Kau salah. Tidak atau denganmu sekalipun, kami berdua akan tetap terluka."



8 Desember 2013

Khilaf

Ketika cinta membawa duka
Tentu bukan itu mauku
Ketika sayang memberi luka
Tentu bukan itu inginku

Ketika cinta lupa mengantarkan rindu
Tentu bukan karena dia mengalihkanku
Ketika sayang lupa memperpanjang waktu
Tentu bukan karena dirinya merebutku

Ketika cinta membawaku kepadanya
Percayalah, ini semua bukan salahmu
Ketika sayang menyeretku ke hatinya
Percayalah, ini semua karena khilafku

Ketika cinta telah membuatmu cemburu
Izinkan aku membasuh amarahmu dengan maafku
Ketika sayang telah menjadikanmu pilu
Izinkan aku menyentuh hatimu dengan jujurku

Di kamar tercinta,
Desember 2013

Me,

15 November 2013

Candu

aku seperti seseorang yang sedang jatuh cinta
hatiku menari-nari bergandengan tangan dengan senyuman
ketika tak sengaja kuhirup aroma
parfum tubuhmu yang sangat kukenal,
kusuka, kucinta, dan membuatku candu
ah... mungkin karena wangi ini aku jatuh cinta padamu
dan mungkin karena kamu yang memakai
wangi ini, aku jatuh hati padamu


Me,

13 November 2013

Blue Jeans Outfits

Ceritanya, hari Sabtu tanggal 9 November lalu nonton pacar manggung di Kemang. Kebetulan pacar diajak sama salah seorang teman untuk ikutan main band karena sedang dibutuhkan iringan biola. Katanya, permintaan dari pihak kafe kepada temennya pacar untuk memainkan lagu-lagu Keroncong. Setelah latihan sekitar dua minggu lamanya, akhirnya pacar dkk membawakan 4 lagu. Satu di antaranya intro pembuka, lagu Sabda Alam, Keroncong Kemayoran, dan Kelinci versi Keroncong. Sayangnya, kemarin lupa video-in saking terpukaunya melihat penampilan mereka. Apalagi vokalisnya kece badai membahana loh suaranya, masih temen satu jurusan juga lho :D

Karena ini pertama kalinya pacar manggung di kafe, apalagi di Kemang, rasanya penasaran juga untuk lihat perfomance-nya :D Ikutlah diri ini ke Kemang meramaikan suasana (atau malah ngeribetin ya? haha, entahlah). Sekalian mau kasih support buat mereka. Ternyata memang keren banget penampilannya. Lagu-lagu yang dibawakan dengan versi Keroncongnya itu easy listening banget. Pacar juga makin hari makin WOW main biolanya. Padahal dulu waktu awal-awal manggung, sumbang fales banget gesekan biolanya hahaha (peace honey :*)

Awalnya sempat ragu juga sih mau ikutan nonton atau nggak ya, soalnya bingung mau pakai baju apa. Akhirnya setelah semedi di kamar, diputuskan untuk ikut. Mulailah ngubek-ngubek lemari cari baju yang cocok untuk dipakai malam itu. Entah kenapa yang dipikirkan itu pokoknya malam ini tampilan gue harus beda dan jangan sampai salah kostum hehe. Akhirnya, ketemulah jaket jeans nyokab yang udah lama banget gak dipakai. Kayaknya bisa nih dimanfaatkan. Selain untuk fashion, jaket jeans cukup bermanfaat untuk menghangatkan tubuh dari angin malam heheu :3

Dan..... jadilah tampilan gue malam minggu waktu itu. Taraaaaaa~~~~




 

Style seperti ini, cocok-cocok aja kok untuk acara yang semi-formal atau santai sekaligus. Jaket jeans yang dipadukan dengan kemeja, memberikan kesan santai tapi formal buat kamu. Untuk paduan warna, bisa disesuaikan dengan selera. Kebetulan hari itu, cuma ada celana jeans warna merah marun yang nganggur dan cuma ada sepatu converse warna tosca. Ini nabrak banget warnanya. Tapi gue nyaman hari itu dengan tampilan gue. Kelihatan kece aja gitu hahahaha (narsis abis)!

Lalu hijabnya, ini memang pasmina favorit gue sih. Warnanya paling favorit, bahannya juga lemes dan nggak kaku. Gampang banget diatur. Pakai pasminanya juga nggak ribet, nggak harus diputer sana-sini yang bikin nyekek leher, apalagi sampai bikin sakit kepala. Wkwk~

Usai nonton pacar manggung, karena itu malam minggu, akhirnya kita menikmati jalan pulang dengan keromantisan tak terhingga. Perjalanan yang indah dihiasi lampu-lampu kota. Wow banget deh. Maklum, nggak pernah malam mingguan hihihihi~

12 November 2013

Talkshow "Ketika Perempuan Menulis" Penerbit Bukune

Mungkin saat ini waktu yang pas untuk ngepost tentang Talkshow "Ketika Perempuan Menulis" yang diadakan oleh penerbit Bukune. Acaranya hari Sabtu, tanggal 2 November 2013 lalu. Penulis-penulis yang bercerita seputar dunia tulis menulisnya ada Aditia Yudis, Ifnur Hikmah, dan Hapsari Anggarani. (Mudah-mudahan nggak salah tulis nama >,<)

Setelah lama nggak mengikuti acara-acara semacam talkshow dan workshop di bidang tulis menulis, akhirnya saya bisa lagi ikutan. Itupun sepulang dari bergabung di Workshop Menulis untuk TV dan FILM, dengan pembicaranya Mas Adi Nugroho.

Acara Bukune ini berlangsung sekitar satu jam lebih, dimulai pukul 16:30 hingga 17:30 WIB. Kebetulan, nggak disangka-sangka bisa ketemu lagi dengan mbak Widya Oktavia selaku editor dari buku-buku ketiga penulis tadi. Syukurnya, Mbak Wid masih ingat sama saya karena sebelumnya kita pernah ketemu di Talkshow Penulis Gagas Media dan Bukune dalam rangkaian acara Festival Pembaca Indonesia di Pasar Festival Jakarta.

Meski acara berlangsung hanya satu setengah jam, banyak hal-hal yang bisa saya bawa pulang. Ketiga penulis bercerita tentang pengalamannya menulis hingga bisa diterbitkan menjadi buku. Dari pengalaman-pengalaman yang mereka ceritakan, banyak hal yang bisa saya pelajari atau setidaknya bisa menggumamkan kata-kata 'Oh, jadi ternyata begitu toh caranya...' sambil manggut-manggut sok paham wkwk~

Talkshow "Ketika Perempuan Menulis" (02/11) di TM Book Store, Depok Town Square

Ketiga penulis ini juga punya pengalaman yang berbeda-beda saat mengawali dunia tulis-menulis. Mbak Hapsari contohnya, ia mulai menulis sejak SMP akibat kecintaannya pada seorang idola pada jamannya. Ia mengabadikan memorinya tentang idola-idolanya itu dalam sebuah diary. Dari situ, mulailah ia terpicu untuk memberikan sedikit imajinasi tentang idola-idolanya. Lahirlah sebuah cerita-cerita pendek. Ia aktif menulis sejak itu. Saat kuliah, ia mulai beralih menulis sejenis karya ilmiah dan jurnal-jurnal. Tetapi, ia pun menyadari bahwa ia merindukan untuk menulis fiksi. Kini, novelnya yang terbit sudah ada tiga buku.

Berbeda dengan Mbak Aditia Yudis yang karya-karya sudah lebih banyak. Padahal ia masih sangat muda. Ia mulai menulis sejak SMP. Awalnya ia ingin membuat komik. Tapi akhirnya ia beralih menulis fiksi dalam bentuk cerpen dan novel. Ia juga bercerita tentang ide-ide cerita dari setiap tulisan-tulisannya, semuanya terinspirasi dari kehidupan sekitarnya. Novel terbarunya berjudul "Mendekap Rasa" ia tulis berduet dengan Ifnur Hikmah. Awalnya mereka bisa berduet karena keduanya sering bertukar tulisan berupa cerita pendek.

Para Penulis Bukune: Hapsari A, Aditia Yudis, Ifnur Hikmah. Editor: Widya Oktavia

Ada banyak hal yang dapat dijadikan ilmu tersendiri untuk saya yang saat ini sedang menulis novel berdua dengan teman saya, Patrisia Devitasari. Novel kami sudah sempat ditawarkan ke sebuah penerbit ternama, tetapi sang editor meminta untuk sebagian ceritanya diubah alurnya. Akhirnya kami jungkir balik lagi untuk menulis cerita dari awal. (Jadi curcol hehehe)

Jujur, menulis duet itu memang tidak semudah menulis sendiri. Begitu juga yang dikatakan oleh Mbak Adit dan Mbak Ifnur. Mereka berbagi pengalaman tentang menulis duet. Salah satunya adalah adanya "kesepakatakan" yang sudah diketahui oleh dua penulis.

Kata mereka: jika ingin menulis duet, kedua penulis harus menjaga komunikasi dengan baik. Agar cerita yang dibuat bisa satu pikiran dan tidak banyak perbedaan. Mereka juga harus membuat outline atau kerangka cerita dengan kesepakatan. Jika ada yang merasa tidak sreg dengan salah satu alur atau bagian cerita, setiap penulis berhak untuk mengubah selama itu ternyata lebih baik. Saat menulis duet, setiap penulis harus mampu meredam keegoisannya masing-masing. Sebab ini kan proyek berdua, jadi "keinginan-keinginan" pribadi itu harus bisa disimpan dulu. Dan yang terpenting adalah, kedua penulis WAJIB HUKUMNYA membuat karakter tokoh yang kuat. Lagi-lagi kedua penulis harus saling mengetahui karakter-karakter tokoh dalam novel mereka.

Hampir satu setengah jam lamanya, obrolan dan diskusi berisi tentang keberadaan "Karakter Tokoh" memiliki peran yang sangat penting dalam menulis novel. Bahkan katanya, kalau bisa karakter tokoh itu dibuat dengan melihat atau memperhatikan orang-orang terdekat dan sudah dikenal agar lebih kuat dan nyata. Ya, sebisa mungkin seorang penulis harus bisa membuat tokoh dalam ceritanya menjadi senyata mungkin. Susah? Tidak jika kamu mau mencoba dan berusaha huehehehe ^^

Nah, begitulah cerita singkat dari pertemuan di talkshow beberapa minggu lalu. Senangnya, karena saya banyak bertanya, saya terpilih untuk menjadi orang beruntung yang mendapat bingkisan dari Bukune. Hahay~~

Intinya, kalau mau menulis itu coba dulu. Atau diawali dengan niat. Nah, setelah itu coba buat kerangka cerita agar kamu lebih mudah menulis hingga ending. Ingat tuh kata mbak-mbak penulis, KARAKTER TOKOH NOVEL harus dibuat senyata mungkin, sedetail mungkin, dan sekuat mungkin. Setelah itu, kamu buat deadline yah teman-teman, supaya kamu bisa disiplin menulis. Jadi deh novelmu :)

Saya ucapkan terima kasih untuk Bukune yang sudah mengadakan acara bermanfaat seperti tu. Semoga lain waktu diadakan lagi dan saya bisa ikutan lagi. Buat kamu-kamu yang sedang menulis, semangat yah! Jangan menyerah! Doain juga yah novel saya cepat selesai. Amin :D

Saya bersama mereka, uhuy ^^

Doa saya setelah ikutan talkshow: semoga suatu hari saya bisa duduk di depan banyak orang menjadi pembicara dan berbagi pengalaman seputar dunia tulis menulis seperti mbak-mbak penulis di atas. AMIIIIN.

See you!

11 November 2013

My November!

Akh! Baru sadar sekarang sudah bulan November hari ke-sebelas! Yihaaaa~
Nggak terasa 9 hari lagi diriku berulang tahun~~ uhuy.

Dapet apa ya dari pacar? *berpikir keras*
Akh, nggak usah banyak berharap. Malu sama umur kalau masih ngarepin kado spesial.
Pacar masih mau mendampingi aja itu udah hadiah terindah dan terbaik kok. *ah masa?*

Eh eh eh~ ini ulang tahun di tahun ketiga gue pacaran sama Rizky. Subhanallah... nggak terasaaaaa, serius deh. Kayaknya baru kemaren dikasih kejutan pake candle light bentuk love di taman kampus. #eaaaa

Akh udah akh. belom ulang tahun udah dibahas. ntar nggak afdol ulang tahunnya.
merananya, menjelang ulang tahun, orderan mawar makin banyak. ckck~
pokoknya tgl 19-20-21 November, tutup PO dulu ahhh~ biar bisa ngerayain ulang tahun :D
*katanya malu sama umur, tapi mau ngerayain ulang tahun???

Bodo amatan. rawr. hobi gue kan NGERAYAIN ULANG TAHUN. hakhakhak~

Iseng-Iseng Berhadiah

malam ini lagi suntuk banget sama tugas Bali. meskipun kuliah di jurusan sastra, tetap aja kalau nggak ngerti bahasanya ya nggak akan bisa nulis. apalagi tugasnya bikin karangan 20 kalimat. gue cuma bisa bilang "adan tiyange Rara" :p

dari pada bengong berkepanjangan, mending nulis tentang khayalan kemarin sore. ampun deh, hidup gue ngayal melulu kayaknya~

kemarin sore, mendadak gue mengkhayal bisa punya toko bunga. bunga flanel maksudnya, bukan bunga asli. memang sih, dulu waktu kecil entah SMP atau SMA, gue pengen banget bisa kerja di toko bunga. hmm, mungkin efek abis nonton FTV. wkwk

seru deh kayaknya kalau bisa buka toko bunga flanel. nanti desain interiornya gue yang tata. banyak bunga di mana-mana, warna-warni. orang mau beli tinggal ambil sesuai dengan keinginan mau bunga apa warna apa. tiap bunga udah ada daftar harganya masing-masing. mau yang paket juga ada harga murah meriah.

selain penataan pot-pot berisi bunga-bunga seperti mawar, gerbera, tuli, sun flower, dan lain-lain, ada juga rak yang isinya pilihan warna pita dan kertas kado. bagi yang ingin dibuatkan kartu ucapan spesial juga bisa, tinggal tunjuk mau seperti contoh yang mana. mau bunganya ditambah boneka-boneka couple juga bisaaaa. apalagi yang mau ngasih buat pacarnya.

urusan order mengorder, bisa langsung datang ke toko atau telp dulu sehari sebelum datang ke toko. bagi yang ingin dikirim via kurir, juga bisa. tergantung pesanannya seperti apa dulu.

hmmm, indah kayaknya. belum lagi di beberapa sisi ada foto-foto gue bareng pacar, keluarga, orang tua, dan orang-orang terdekat. ada papan berisi tempelan pesanan pelanggan, atau digantung pakai wooden clip. aiiih, bayangan gue desain interiornya itu kayak toko bunga di luar negeri aja wkwk pernah pergi ke sana juga nggak.

masih belum tau sih tapinya bisa apa nggak. soalnya gue juga masih kepingin kerja jadi editor novel di penerbit. mungkin kapan-kapan kalau gue udah punya modal yg gede dan lebih serius di bisnis satu itu. amin-amin. apalagi kalau dikelola bareng pacar :3 cicuiiitt :3

ohya!
bagi yang penasaran bunga flanel yang saya jual seperti apa, bisa banget mampir di wawawiskyflanel.blogspot.com yah :D
mari sampaikan isi hatimu melalui bunga~~~ ulalalala~~~~