Tampilkan postingan dengan label Campus Life. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Campus Life. Tampilkan semua postingan

12 Januari 2014

H-18 Proposal Skripsi

udah 18 hari gue lewati dengan perasaan nggak tenang. tanggal 30 nanti, adalah batas akhir pengumpulan proposal skripsi. gilak, skripsi coy! hahaha nggak nyangka loh masa-masa itu akan datang juga.

pusing rasanya. apalagi banyak buku dan referensi yang harus dibaca. belum lagi data yang dipakai belum pasti asik. sekalinya udah asik, ternyata meragukan. pfft.

deg-degan nih besok mau ketemu PA lagi. semoga besok kebingingan-kebingungan gue nggak akan menjadi kebingungan yang berlanjut. tetapi dapat pencerahan yg berarti lah.

dan semoga PA nggak membuat gue untuk lebih bingung lagi. tapi udah mulai nyuruh gue untuk nulis. bismillah~

28 Oktober 2013

Dongeng: Nawangsih dan Rinangku

Suasana pesantren sedang tegang. Aku sadar, Ayah sedang berususah payah mengembalikan semua keadaan seperti semula. Aku juga tahu, Ayah sedang berusaha mencari bukti bahwa yang terdengar dan digunjingkan akhir-akhir ini adalah salah.
Di pesantren, tiada hari tanpa aku melihat banyak santri membicarakan tentang fitnah yang disebarkan Cabolek. Pria itu telah berhasil membuat Rinangku masuk dalam perangkapnya. Kini Ayah semakin diuji kebijaksanaannya sebagai pemimpin di pondok pesantren. Semua ini terjadi hanya karena Cabolek iri hati pada Rinangku.
Sudah sejak lama aku tahu jika Ayah sedang mencari seorang menantu untuk dijodohkan denganku. Dalam hal ini, sebagai seorang guru di pondok pesantren, Ayah pun tidak sembarangan memilih calon suami untukku. Ayah mulai memperhatikan para santri di pondok pesantren, terutama para santri yang pandai-pandai. Kelak, Ayah ingin memiliki seorang menantu yang dapat dipercaya tanggung jawabnya terhadap keluarga.
Hingga akhirnya Ayah seakan telah menentukan pilihan. Tak kusangka Ayah merasa simpati pada salah seorang santri yang bernama Cabolek. Sungguh aku terkejut mengetahui hal itu. Tak pernah kubayangkan, aku akan mengabdi seumur hidupku pada pria bertubuh cebol itu. Sudah cebol, wajahnya pun tak tampan. Itulah mengapa orang-orang memanggilnya Cebolek.
“Anakku, sebagai seorang ayah, sudah tanggung jawabku mencarikanmu calon pendamping hidup yang kelak dapat dipercaya dan bertanggung jawab kepada keluarga. Telah kuputuskan, Cebolek memang pria yang pantas untukmu, Nak,” begitulah kata-kata Ayah begitu aku dipanggil untuk berbicara empat mata dengannya.
Kuberanikan diri membuka suara. “Maafkan aku jika aku lancang, Ayah. Aku berterima kasih karena Ayah mau repot-repot mencarikanku calon suami, tapi… sungguh aku belum ingin menikah. Apalagi dengan pria pilihan Ayah saat ini,” kusadari suaraku bergetar. Seumur hidupku, aku belum pernah membantah Ayah.
“Jangan terburu-buru, Nawangsih, Anakku,” Ayah menyentuh bahuku seakan memberi kekuatan. “Kau bisa melakukan pendekatan dulu dengan Cebolek. Sering-seringlah bicara dengannya, maka kau akan tahu tentangnya lebih jauh dan dalam lagi. Hanya dia yang kupercaya dapat mendampingimu dibanding santri yang lain,”
Aku terdiam tak menjawab perkataan Ayah. Aku mengigit bibir bawahku menahan kekesalan di dalam hatiku. Sungguh aku tak mengerti mengapa Ayah dengan begitu mudahnya bersimpati kepada Cebolek. Sejak saat itu, kuperhatikan Cebolek mulai mendekatiku lebih gencar. Sebisa mungkin aku terus menghindarinya. Rupanya, Cebolek tidak mudah menyerah. Kudengar dari para santri yang lain, Cebolek terlanjur menaruh hati padaku. Tuhan, jangan persulit aku pada keadaan ini.
Sejenak aku berpikir, Tuhan mendengar rintihan doaku. Hingga Tuhan kirimkan seorang pemuda ke pondok pesantren Ayah. Ia bernama Rinangku, putra dari Ki Pangandaran yang kutahu sangat berkuasa di daerah Semarang lewat cerita Ayah. Sebagai pemimpin pondok pesantren, Ayah menyambut kedatangan Rinangku. Ia pemuda tampan dan memikat hati. Pertama kali aku melihatnya, aku merasakan ada sesuatu yang membuatku ingin mengetahui lebih banyak tentang putra Ki Pangandaran itu.
Di suatu hari, aku dan Rinangku bertemu pandang. Kudapati ia memberi salam hormat padaku. Tingkah sopannya membuatku semakin jatuh hati padanya.
“Bolehkan hamba bertanya pada Tuan Putri?” tanya Rinangku.
“Dengan senang hati, aku akan menjawabnya,” jawabku.
“Benarkah engkau wahai putri nan cantik jelita adalah Nawangsih, putri dari Sunan Muria, pemimpin dari pondok pesantren ini?”
“Betul, Pangeran. Aku adalah Nawangsih, anak Sunan Muria. Jika boleh aku meminta, cukuplah engkau memanggilku dengan nama Nawangsih,”
Lagi-lagi kudapati Rinangku agak membungkuk menghormatiku. “Baiklah jika engkau meminta, Tuan Putri,”
“Cukup Nawangsih, Rinangku,” sekali lagi, kutatap Rinangku yang juga menatapku. Setelah itu, dengan segera aku pergi dari hadapannya. Aku tidak ingin terlalu lama bertatapan dengannya. Sebab aku tak kuat menahan pesona kharismanya.
Tetapi tak kusangka, pertemuanku yang singkat itu diketahui oleh Cebolek. Api cemburu telah membakar hatinya. Kecemburuan itu membuatnya tak dapat berpikir jernih. Ia menghalalkan segala cara untuk mencelakakan Rinangku. Pada suatu hari di kerusuhan perampok, Cebolek dengan kepandaiannya mengambil hati Ayah agar Ayah menyuruh Rinangku menangkap perampok-perampok itu. Ayah pun menanggapi saran Cebolek dengan kewajaran. Sudah sepantasnya sebagai santri di pondok pesantren, Rinangku diuji kepandaiannya. Di balik itu semua, Cebolek justru menginginkan Rinangku mati di tangan perampok-perampok. Tapi kenyataan berkata lain, Rinangku justru berhasil menangkap perampok-perampok itu dan membawanya ke pondok pesantren. Bahkan perampok-perampok itu ingin bertobat dan berguru kepada Ayah. Mengetahui hal itu, Cebolek semakin tersisihkan dan dendam pada Rinangku.
Dendam Cebolek berlanjut. Ia menyebarkan fitnah tentang Rinangku yang diam-diam memasuki kamarku yang jelas-jelas melanggar kesopanan dan adat sebagai santri. Aku tahu Cebolek telah merencanakan ini semua. Ia menjebak kami. Malangnya, Ayah tidak percaya jika Cebolek pelaku dari semua ini. Hingga akhirnya Ayah menghukum Rinangku untuk menjaga burung-burung yang memakan padi di sawah Ayah. Sejak itu kami terpisah.
“Kuperintahkan engkau untuk menjaga burung-burung yang memakan padi di sawah Dukuh Masih. Janganlah engkau kembali sebelum aku sendiri yang memanggilmu,” perintah Ayah pada Rinangku. Aku menyaksikan perintah itu. Ada Cebolek juga di sana dengan senyum kemenangannya.
Kutatap Rinangku yang dengan mantap menuruti perintah Ayah. Ia segera meninggalkan pondok pesantren, terlebih lagi meninggalkanku. Aku tak mampu mencegahnya, sekalipun untuk mengucapkan salam perpisahan. Ayah yang terlanjur terhasut, melarangku untuk berhubungan dengan Rinangku. Hal ini membuatku semakin tersudut. Sejak awal, aku tahu bahwa Cebolek tidak benar-benar baik untukku. Tidakkah Ayah menyadari itu?
“Tenanglah, Anakku. Aku yakin Rinangku tidak benar-benar melakukan hal buruk itu. Bersabarlah, aku akan mencari tahu kebenarannya,” kata Ayah.
“Ayah percaya padaku bahwa Rinangku tidak bersalah? Rinangku hanya difitnah, Ayah. Mungkin ada seseorang yang tidak menyukainya,” tuturku setengah menangis pada Ayah.
“Bersabarlah,” pesan Ayah.
Aku akan bersabar, Ayah. Kusadari kau begitu bersusah payah mencari tahu kebenaran ini. Kau yakin bahwa Rinangku memang tidak bersalah. Dan aku yakin bahwa kau adalah pemimpin yang bijaksana.
Ketegangan demi ketegangan pun terus kuhadapi. Tuduhan-tuduhan pada Rinangku terus kuterima dengan besar hati. Aku bersabar hingga akhirnya Ayah berhasil menemukan jawabannya bahwa Rinangku tidak bersalah. Segeralah Ayah, aku, dan para santri mendatangi Rinangku hendak mengajak pulang.
Kulihat gubuk yang menjadi tempat Rinangku tinggal selama di sawah. Kudapati ia sedang duduk di depan gubuk menghadap sawah. Ingin sekali aku berlari dan mengatakan padanya bahwa Ayah telah percaya dirinya tidak bersalah, dan aku sangat merindukan wajah tampannya.
Akan tetapi, raut wajah Ayah berubah begitu sampai di depan gubuk. Hal itu membuat khayalan indahku pun buyar.
“Ayah, ada apa?” tanyaku lembut.
Ayah tak menjawab. Dengan menahan amarah, ia bertanya pada Rinangku. “Hei Rinangku, mengapa tak kau usir burung-burung itu? Jika burung-burung terus memakan padiku, padiku tidak akan bisa dipanen,”
Dengan hormat dan santun, Rinangku menjawab, “Bapak Guru, di manakah kesalahanku yang mendengar perintahmu untuk menjaga burung-burung yang memakan padi? Jika semua ini rusak, izinkan aku memperbaikinya,” dalam sekejap, padi-padi itu pulih kembali dan siap panen.
“Lancang kau, Rinangku. Aku tahu kau hebat, tapi tidaklah kau pantas berpamer dihadapan gurumu ini!” marah Ayah.
“Ayah, sudah, Ayah,” aku memohon pada Ayah yang tersinggung hatinya melihat niat baik Rinangku. Bagi Ayah, tidaklah pantas seorang murid menunjukkan keahliannya tanpa diminta atau pamer di hadapan gurunya.
“Diam kau, Nawangsih. Aku sungguh kecewa padanya!” bentak Ayah.
“Ayah, aku mohon, Ayah. Sungguh tentu bukan maksud Rinangku menghina Ayah dengan apa yang dilakukannya,” aku menangis sambil memohon. Aku terlanjur mengharapkan ada akhir yang indah setelah Ayah menjemput Rinangku, bukan akhir yang justru akan sangat dinikmati oleh Cebolek.
“Aku tidak terima, Rinangku. Sekarang, rasakan kerisku ini!”
“Jangan, Ayah….!” Aku berlari ke arah Rinangku dan memeluknya. Bersamaan dengan keris Ayah yang hendak Ayah hujamkan ke dada Rinangku, justru tertancap ke punggungku.
“Nawangsih!” kudengar teriakan Ayah bersamaan dengan Rinangku. Mereka sama-sama terkejut.
Kurasakan sakit yang amat sangat di punggungku. Tak kuasa aku menahannya. Dalam pelukan Rinangku, aku menatapnya. Dan melihat wajah Ayah yang menatap kosong ke arahku.
“Ayah…” rintihku.
“Anakku…” kulihat Ayah menitikkan air matanya. “Anakku… mengapa harus dirimu…?”
“Maafkan aku, Ayah… Tolong, jangan sakiti Rinangku, Ayah tahu Rinangku tidak bersalah… Ayah tahu bukan Rinangku dalang dari semua ini…” ucapku terbata-bata. Darah keluar dari mulutku. Kurasakan kehangatan yang Rinangku hantarkan lewat genggaman tangannya. Kutatap wajahnya lekat. Mungkin bisa menjadi sebuah kehangatan dalam kepergianku.
“Mengapa kau lakukan ini, Nawangsih? Harusnya aku yang mati… Jangan tinggalkan aku, Nawangsih…” itulah kata-kata Rinangku yang terakhir kali kudengar. Setelah itu, semuanya gelap. Aku tak mendengar apa-apa lagi. Semoga di kehidupan selanjutnya, aku dan Rinangku akan bertemu lagi.

------------------------------------------
Depok, 20 Oktober 2013
Digubah dari cerita dongeng Kudus berjudul Kisah Cinta Nawangsih dan Rinangku sebagai tugas kuliah Penulisan Populer di FIB UI.

Kantin Sastra


Matahari cukup terik ketika kulirik jarum jam menunjukkan pukul satu siang. Kuputuskan untuk membelokkan langah kakiku menuju kantin. Orang-orang menyebutnya Kansas, singkatan dari Kantin Sastra.

Kansas sudah berdiri sejak aku kuliah di Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya. Bahkan, sudah berdiri jauh sebelum aku diterima menjadi mahasiswa UI. Pertama kali aku melihat Kansas, bentuknya hampir mirip seperti gubuk. Tak kusangka ada juga banyak dosen yang menyebut Kansas seperti kandang sapi. Dari luar, Kansas memang terlihat menyedihkan dan kurang meyakinkan. Tetapi, bagi sebagian orang yang betah di sana, mereka menganggap Kansas sebagai rumah kedua mereka.

Kini, aku terduduk di salah satu kursi kosong ditemani dengan segelas Capucinno yang baru saja kubeli. Sekilas, Kansas yang sekarang jauh berbeda dengan Kansas tiga tahun yang lalu. Atap Kansas tidak lagi terbuat dari jerami, kondisinya jauh lebih baik sekarang. Kursi-kursi dan mejanya tidak lagi berwarna merah-kuning-hijau-biru, semuanya berwarna putih. Sekarang siapa saja bisa duduk di mana saja. Tidak seperti dulu, setiap jurusan memiliki wilayahnya sendiri sesuai dengan warna kursi.

“Aku tunggu di Kansas,” kukirim sebuah pesan singkat ke nomor ponsel sahabatku. Aku janjian dengan sahabatku di kampus. Sepertinya ia masih les bahasa Jepang di LBI. Kuputuskan untuk menunggu.

Capucinnoku mulai berkurang sedikit demi sedikit. Hawa Kansas sangat panas jika siang-siang seperti ini. Tapi anehnya, banyak orang yang betah makan siang sambil kipas-kipas atau sibuk mengelap keringat yang terus mengalir. Dua kipas angin yang terpasang di atap Kansas semakin tidak berguna. Buang-buang listrik.

Kansas terlihat lebih sepi pada hari Sabtu dibandingkan hari kuliah seperti hari Senin hingga Jumat. Pada kelima hari itu, kursi Kansas jauh lebih penuh diduduki. Bahkan terbilang sangat padat. Semua orang menuju satu titik untuk menyumpal caing-cacing di perut mereka sedangkan waktu yang mereka punya untuk makan siang tidak banyak. Tidak ada jalan lain, hanya Kansas tempat makan yang paling dekat dan terjangkau. Meskipun harus makan dalam kondisi terburu-buru, kursi yang terbatas, banyak piring kotor di meja-meja yang baru saja ditinggalkan oleh penghuni setia Kansas, dan puluhan lalat ikut meramaikan.

Tak peduli hari ini hari apa, Kansas tetap panas dan berlalat. Beberapa kursi kosong tak berpenghuni. Hanya ada sekitar 5 meja yang terisi oleh sekelompok mahasiswa. Aku duduk di salah satu sisi Kansas yang menghadap ke arah taman pohon Kamboja. Sekilas dari kejauhan, kursi dan meja Kansas memang dicat putih. Jika dilihat lebih dekat, warnanya justru terbilang mendekati abu-abu. Coretan di mana-mana. Bahkan ada juga gambar-gambar ilustrasi di sana.

Beberapa mahasiswa berbondong-bondong mulai memasuki Kansas dari arah taman pohon Kamboja. Sepertinya para peserta kelas LBI baru saja usai kelas. Kansas pun mulai ramai. Di belakang saya, duduklah segerombol mahasiswi dengan obrolan yang cukup mengasyikkan. Sebab suara mereka hampir mendominasi di Kansas. Meskipun musik koplo dari warung satai di sudut sebelah kiri dari aku duduk, masih jauh lebih keras berkumandang. Di hadapanku, ada beberapa pria-pria yang duduk sendirian di meja yang berbeda. Mereka menyantap makan siang mereka dengan tatapan kesepian, berharap ada seorang teman mengajaknya makan siang sambil berbincang-bincang.

Tiba-tiba suara cicit burung mengalihkan pandanganku. Sekelebat beberapa burung gereja tampak mondar mandir terbang menyebrangi Kansas. Beberapa penjual makanan juga seliweran ke sana kemari untuk mengantarkan pesanan. Di hari Sabtu begini, Mas Roni, penjual ayam penyet yang paling terkenal di Kansas, masih sibuk menyiapkan pesanan. Ayam penyetnya selalu laku. Tidak jauh dari warung Mas Roni, terdapat dua orang pria sedang beradu kepintaran di atas papan catur.

Aku semakin tidak tahan dengan hawa panas yang meyerangku. Juga para lalat yang sejak tadi mampir mendarat di mejaku. Selain itu, kutatap pula seekor kucing yang berhasil naik ke meja untuk menghabiskan sisa-sisa makanan dan beberapa remahan di sekelilingnya. Kesal karena tak punya kipas, kukibas-kibaskan tanganku demi mendapatkan sebuah angin. Tetapi hasilnya, nihil. Atap Kansas yang mengerucut sepertinya tidak berfungsi dengan baik, udara yang masuk seakan-akan terperangkap dan tidak bisa keluar.

Kuputuskan untuk menghabiskan Capucinnoku yang tinggal sedikit. Sejak tadi aku mencari-cari, tetapi sahabatku belum juga muncul di Kansas. Jangan-jangan pesan singkatku tadi belum dibacanya dan ia meninggalkanku di sini. Baru saja aku akan menelponnya, ia lebih dulu menghubungiku.

“Halo, Ra,” serunya di seberang.

“Halo, Ti, di mana? Masih kelas?” tanyaku tak sabar.

“Aku baru baca SMS-mu. Maaf, Ra, aku lupa memberitahumu bahwa aku tidak ke kampus hari ini. Lesku libur dan sekarang aku masih di kosan, baru bangun.”

Kudengar tawa renyah cekikikan di seberang sana. Geram sekali rasanya dibiarkan menunggu di tengah hawa panas seperti ini dan tidak menghasilkan apa-apa. Tanpa membalas ucapan sahabatku tadi, aku langsung memutus telepon.

“Awas saja kamu, akan aku guyur kamu nanti setibanya aku di kosanmu!” ancamku dalam hati. Segeralah dengan kesal, aku bergegas menuju kosan sahabatku.

-------------------------------
Depok, 29 September 2013
Ditulis dalam rangka tugas mata kuliah Penulisan Populer di FIB UI mengenai Deskripsi Tempat

Ruang 9303


            Sejujurnya, aku tidak suka dingin. Seperti saat ini, aku duduk di kursi kelas tepat di bawah pendingin ruangan dengan suhu sekitar 25 hingga 24 derajat celcius. Bagi orang lain, mungkin suhu itu tidak terlalu dingin. Akan tetapi, duduk di bawah pendingin ruangan seperti ini bukan hal yang bagus bagiku.
            Beberapa kali kulirik jam tangan di tangan kiriku. Detaknya belum beranjak melewati angka 1. Kualihkan tatapanku ke arah depan. Pak Sunu masih betah dengan posisinya, bersandar di pinggiran meja, berceramah memberikan perkuliahan. Sesekali beliau menyisipkan lelucon-lelucon untuk mencairkan suasana kelas agar tidak membosankan. Penampilan beliau tidak jauh berbeda dengan minggu lalu, masih setia dengan setelan kemeja garis-garis dan bercelana longgar. Kali ini, celananya berwarna hijau army. Rambutnya sedikit beruban dan beliau terbilang santai dalam mengajar.
            Di tengah perkuliahan yang mulai membuatku gelisah akan tanda tanya kapan jarum jam berpindah ke angka 1, kulihat Pak Sunu masih semangat bercerita tantang dunia sastra dan tulis menulis. Sesekali beliau menyeruput air mineral di atas meja, pasti tenggorakan beliau kering juga bicara panjang lebar selama hampir dua jam. Meja pengajar diisi oleh buku-buku yang dibawa oleh Pak Sunu. Sangat mengherankan, saat masuk kelas tadi, beliau menggendong ransel yang hampir mirip tas orang naik gunung. Akan tetapi, tangannya masih sibuk membawa buku-buku berhalaman sekitar 100-150 halaman. Mungkin beliau akan terlihat lebih baik jika membawa para jendela dunia itu dengan tangannya sendiri, bukan disimpan di dalam ransel.
            Kudengar tawa membahana memenuhi atsmorfer ruang 9303. Rupanya aku ketinggalan kalimat-kalimat lucu mengundang tawa yang diucapkan Pak Sunu. Kutengok ke barisan kursi di sisi kiri dari tempat kududuk. Kursi nyaris terisi penuh oleh mahasiswa-mahasiswa tingkat akhir. Beberapa di antaranya adalah teman satu jurusanku. Beberapa lainnya, ada yang kukenal dan asing di mataku. Salah satunya di pojok belakang, aku kenal siapa yang duduk di sana. Namanya Tito, mahasiswa jurusan Ilmu Sejarah yang pernah satu kelas di kelas MPKT saat semester satu. Tak terasa sudah tiga tahun masa itu berlalu. Tito juga pasti lupa bahkan sama sekali tidak tahu siapa aku. Baru kusadari, hampir semua kursi di deretan baris belakang terisi oleh pria-pria bersuara besar.
            Sebetulanya, perkuliahan ini tidaklah membosankan. Aku sangat menantikan kelas Penulisan Populer dibuka di setiap semester. Aku cinta menulis, apalagi kisah cinta. Hanya saja, ruang kelasnya yang tidak menyenangkan. Selain karena pendingin ruangannya, juga karena kelas ini berada di lantai 3. Satu lagi, aku benci terlambat sampai di kelas. Kebencianku akan semakin bertambah jika sudah terlambat, aku harus berlari menaiki tangga ke lantai tiga. Betapa semangatnya menjadi mahasiswa, bukan? Seandainya aku boleh mengganti cat tembok kelas yang berwarna kuning kusam ini dengan warna biru muda atau hijau muda, agaknya lebih menyenangkan dan memberikan efek segar dalam berkuliah. Ah sialnya, kondisi langit-langit di bagian sudut depan ruang kelas memperburuk kenyamanan belajar di sini. Warnanya bukan lagi putih bersih, tetapi coklat bergaris-garis. Warna itu pasti ditimbulkan oleh rembesan air hujan yang masuk lewat atap yang bocor. Akan sangat bahaya jika kondisi itu dibiarkan saat hujan. Sebab di dinding yang sejajar dengan atap rusak itu, terdapat kabel-kabel panjang dan berantakan.
            Pak Sunu jarang menggunakan LCD saat berkuliah. Tetapi hari ini, ia juga belum menggunakan spidol untuk membagi ilmunya di papan tulis. Papan berukuran hampir tiga per empat dinding masih putih bersih. Penghapus papan tulis pun masih tenang bersandar di tempatnya. Pintu kelas beberapa kali dibuka dan ditutup oleh Pak Sunu untuk mencontohkan sebuah cerpen yang beliau bacakan. Sungguh, kuliah di kelas ini haruslah ekspresif. Itu menurutku. 23 orang mahasiswa tampak serius mengamati setiap pergerakan yang dicontohkan beliau. Di sebelah kananku, seorang mahasiswa beberapa kali mengadu bahwa ia mengantuk. Sementara yang di sebelah kiriku, sibuk bolak-balik bertanya jam berapa sekarang. Menurutku, kelas ini asyik dan menyenangkan, mengapa kedua mahasiswa di kedua sisiku merasa kuliah ini membosankan bagi mereka.
            Jika dipikir-pikir lagi, memang akan sangat membosankan bagi yang tidak suka menulis. Tidak ada salahnya jika aku melihat jam untuk mengecek apakah kelas ini sudah seharusnya selesai atau belum. Lagi-lagi, ruang ini bahkan tidak memiliki jam dinding. Di dinding, justru hanya ada 2 lembar kertas berukuran A4 ditempel di sebelah kiri papan tulis. Satu lembar berisi tentang larangan mengaktifkan ponsel dan satunya lagi berisi tentang larangan plagiarisme.
            “Kumpulkan tugas hari Jumat, hari Senin akan kita bahas di kelas. Selamat siang dan terima kasih.”

            Suara Pak Sunu cukup menyadarkanku dari lamunan. Rupanya kelas telah diakhiri dengan tugas yang harus dikumpulkan hari Jumat. Minggu depan, tugas itu akan dibahas bersama-sama di kelas. Oh, aku sangat menantikan menit-menit untuk mengerjakan tugas itu di rumah sesegera mungkin. Minggu depan, semoga yang kukerjakan tidak mengecewakan Pak Sunu saat membacanya.

---------------------------------------------
Depok, 19 September 2013
Ditulis dalam rangka tugas pertama mata kuliah Penulisan Populer di FIB UI mengenai Deskripsi Ruang.

22 Agustus 2013

Sejarah? Dislike banget.

IRS sudah disetujui di saat gue lagi galau mau skripsi atau nggak. jika jumlah sks 144 sudah tercapai, apa boleh ikutan skripsi? baru pengen drop mata kuliah sejarah indonesia dan sejarah korea kontemporer, taunya IRS sudah disetujui. PA gue memang kelewat rajin.

biasanya kalau IRS sudah disetujui itu bawaannya bahagia. tapi sekarang, gue malah jadi ragu, apa gue sanggup menjalani 7 matakuliah di semester tahun terakhir ini. sementara tadi temen gue bilang, semester ini waktunya fokus cari skripsi. aduuuuh, tobat.. tobat.. gue pusing sekarang.

seandainya gue boleh nonskrip dan seandainya gue skripsi pun sudah ketemu topiknya apa. ck

gue cuma gak suka sejarah, tapi gue pengen sks gue 21 semester ini. tuh, gue jadi galau sendiri kan? sekarang kalau sudah begini, gue terus maju atau mundur? omaigat.... di sini kedewasaan gue diuji. *apa sih, gak ada hubungannya! *ada!!!!!!

pusing puisng pusing! ck

9 Juni 2013

Ruang Koleksi Skripsi Perpustakaan UI

Sebenernya ini bukan postingan tentang deskripsi ruang koleksi skripsi di perpustakaan UI sih, hehe, tapi cuma mau ngepost tentang foto-foto yg sempet saya ambil waktu lagi baca-baca skripsi. Bosan dan ngantuk, jadi untuk mengusir kedua rasa itu, maka saya bernarsis ria hahaha

Sebelumnya, cerita dulu deh tentang ruang koleksi skripsi di perpustakaan UI. Ruang koleksi skripsi ini terletak di lantai 3 Perpustakaan UI. Tempatnya cukup luas. Koleksinya juga banyak, ada skripsi, thesis, dan disertasi. Dulu, pertama kali masuk ke ruang koleksi skripsi pas semester 5 setelah kuliah hampir 2 tahun lebih hahaha. Ya, itu juga karena kepepet akhirnya berkunjung ke sana. Apalagi kalau bukan gara-gara satu mata kuliah yg mengharuskan saya baca-baca skripsi sebagai data penelitian terdahulu, pfft.

Nah, yg kali ini gak beda jauh sih. Alasan mengapa saya ke ruang koleksi skripsi juga sama, karena harus mencari data penelitian terdahulu dan sekedar membaca suatu analisis mengenai puisi. Tapi apa daya, saya kurang tidur karena baru pulang jam 1 malam (habis jalan-jalan ke PRJ sama keluarga). Alhasil, ngantukkkk banget di situ. Haha sempet ketiduran. Gimana nggak? Tempatnya itu udah super nyaman deh. Dingin, ber-AC, agak pengap sih, tapi nggak terlalu juga lah, sepi hanya saya sendiri waktu itu, tenang, full pemandangan danau UI. Waaahh, tempat untuk bobok paling enak hihihi.

Tapi jangan salah, kalau malam hari, suasana di sini agak-agak bikin iseng -__-"

pemandangan danau UI

ruang baca skripsi, lantai 3, perpustakaan UI




Pink hijab and floral clothes by owner collection
Location at Ruang Skripsi Lantai 3, Perpustakaan UI
Fotografer by Mr. Samsung Phone

16 Maret 2013

Salem in PBJ UI 2012

waktu menunjukkan pukul 1 dini hari dan gue belum kepingin tidur. pacar baru sampe rumahya setelah menempuh perjalanan yg melelahkan dari Garut ke Depok. well.. sekarang kayaknya dia ketiduran, sms ku tak dibalas-balas. hiks..

jadi, malam ini mau post keceriaan pas acara Pekan Budaya Jawa UI 2012 sekitar bulan November tahun lalu. waktu hari pertama, semua panitia diwajibkan memakan kebaya (cewek) dan kemeja (cowok). lagi-lagi, keluar deh kebaya yang dibuat khusus wisuda SMA 2 tahun lalu. kebetulan banget gue sengaja pake kebaya warna cream/salem ini supaya bisa senada dengan kemeja wisky. tapi.. pas difoto, ternyata warnanya serupa tapi tak sama hehehe..

bermodalkan keahlian zenny dalam mengaplikasikan jilbab, jadilah hari itu moment para hijabers bergentayangan di FIB. karena semua panitia yg cewek berjilbab, jilbabnya 1 model semua. hasilnya, beautiful :3

with Ken Kinasih

with my friends: Winda Tiswati, Zenny R, Marina Dwija, Galuh S, and me.

ini hasil jepretan Asti Diautami loh

kalo ini.. with my R <3

kebaya and hijab paris by own collection (me), kemeja Alisan (Rizky)
pink wedges by St. Yves
fotografer by Asti Diautami and Arie Tursino
location at Auditorium Gedung 9 FIB UI

17 Desember 2012

Ngomong Sama Laptop

hai! jadi ceritanya itu gue lagi galau nyaris semaput gini deh gara-gara tugas bikin proposal skripsi. asli deh tiap gue garap tugas ini setiap minggu, pasti gue langsung gelisah nggak karuwan. segala ikutan panas dingin dan cepet laper. suntuk, mentok, aaarrrggghhh.. muak lah pokoknya.

gue ngerti apa yang ada di otak gue. gue mau meneliti soal novel jawa dari segi tema/amanatnya. tapi ya itu, nggak bisa to the poin. kudu dijabarin dulu apa novelnya, kenapa tema/amanat yang diteliti, apa itu novel jawa, bla bla bla.. #garukgaruktembok


ya allah.. gimana mau selesai kalau begini? sumber primer bahkan belum ada. yg ada cuma setumpukan buku teori ttg sastra yg gue nggak tau harus gimana menguraikannya. semangat kuliah gue menghilang perlahan pelan-pelan. gue nggak ngerti lagi lah.. padahal gue pengen lulus 4 tahun jadi sarjana. nggak mau kelamaan kuliah. kuliah itu nggak enak tauuuuu..


terus gue harus gimana sekarang? *ngomong sama laptop*

28 Februari 2012

si 'eek' udah selesai~

AKHIRNYAAAAAAA YAAAAAAA~~~~~~~~
itu tugas pfpm yg kayak eek udah selesai malem ini, sejam sebelum deadline!! bener-bener kayak eek dah itu tugas! HAHA~~~~~~~ sumpah ya plong banget rasanya di hati ckck
tinggal presentasinya nih ntar kayak orang mencret2. ah sebodo teuing lah, itu mah urusan belakangan!
yg penting malem ini gue bs tidur nyenyak, mimpi indah, dan mulai besok bisa baca novel atau nulis cerita bareng temen gue ckckckc- senangnya dunia kalo begini mah! wkwk~

mimpi apa sih gue dapet matakuliah kayak eek begini ckck #plak #mintaditendang

26 Februari 2012

tugas filsafat kayak ee --"

gue benci banget bahasa inggris. kenapa ya gue harus ketemu lagi sama bahasa yg satu itu. di pelajaran filsafat pula. astagaaaaaaa (bhs jawa: blaik, biyuh biyuh, ngudubillahi!) dalam bahasa indonesia aja gue nggak ngerti ttg filsafat, apalagi bahasa inggris!! j*ncok emang nih ck

rasanya pengen banget marah-marah gara-gara nih satu mata kuliah. dapet dosen nggak enak karena semena-mena ngajarnya, dapet temen sekelompok juga nggak enak karena nggak mau susah bareng, dan gue benci kenapa harus bahasa inggriiiiiiiiiiiss! apa gak bisa ya pake bahasa indonesia aja?

gue tau bahasa inggris itu penting, tapi ampun deh! gimana bahasa indonesia mau diminati oleh bangsanya kalo bangsanya sendiri belajar pake bahasa orang *haaaahh alasan aja nih rara #plak

well, gue udah mencoba alternatif terakhir untuk pake tranletnya mbah gugle. tapi ngetik sebanyak 10 halaman kertas A4? siapa yg mau cobaaaaaaa??? ckck #nyerah #ngakattangan

edan tenan iki dosene! ckck~

tidur aja deh gue. soal tugas besok aja deh, gue cari dulu tuh temen sekelompok gue, terus gue suruh dia baca, artiin, bikin ringkasan peta konsep ama penjelasannya! makan tuh tugas! huh

#emosi #ngamuk #gigitbantal

15 Juli 2011

bang astroy, bukan cewek biasa!

sekarang hampir pukul 12 siang. posisi gue saat ini ada di perpus pusat UI yg katanya perpus paling terbesar dan terlengkap di dunia. awalnya waktu perpus ini udah selesai dibangun dan diresmiin boleh dimasuki pengunjung, gue nggak begitu tertarik untuk berkunjung. nggak seperti temen-temen gue yg hampir keseluruhan menyambut dengan amat gembira atas terbangunnya gedung megah ini. gue juga bingung kenapa gue nggak begitu interest menyambut pembangunan perpus yg fix udah jadi ini. but anyway, gue kali ini nggak akan membahas lebih lanjut tentang perpus kebanggan kampus gue ini. tapi gue mau menulis tentang 'seseorang' yg nggak lain adalah temen kuliah gue yg sudah gue kenal selama satu tahun terakhir.

dengan bermodal ngenet gratisan di perpus pusat, cerita gue dimulai :)

namanya asti. lengkapnya asti diautami. tapi dia suka menyebut dirinya astroy atau super astroy. tapi hampir keseluruhan teman-temannya manggil dia dengan sebutan 'mas ganteng' atau 'bang ganteng' :D
ya wajar saja sih kalau cewek yg sebentar lagi berumur 19 tahun ini dipanggil begitu, karena dia bukan cewek biasa. dia itu cowok! (loh?!) haha :p
jangan sampe abis nulis kayak gini, pulang-pulang gue dijegat di tengah jalan sama si super astroy. ya kalo dijegat buat diajak pulang bareng sih nggak apa-apa hahaha

lanjut...
temen gue yg satu ini beda dari cewek-cewek pada umumnya. biasanya kan kalo cewek itu seneng banget punya rambut panjang, isi tasnya nggak jauh dari make up-kaca-kipas-sisir-dsb, belum lagi hobi mereka yg doyan banget nyalon plus dandan, dari segi pakaian mereka lebih suka pake rok atau jins yg ketat sehingga bentuk kaki mereka terlihat. apa lagi ya yg jadi kebiasaan cewek-cewek itu? hmm... ya kurang lebih begitu lah.

nah, kalo asti ini sama sekali nggak kayak gitu. serus deh nggak bohong! suwer terkewer-kewer~~
asti rambutnya pendek. pendek banget waktu pertama kali gue ketemu dia. kalau sekarang sih, yaa lumayan sudah agak panjang tapi tetep aja itu masih terbilang sangat pendek buat ukuran cewek. belum lagi soal pakaian. gue nggak pernah liat asti itu pake jins. tiap hari, ke mana pun dia pergi (mau ke kampus, main ke rumah temen, jalan-jalan ke tempat-tempat hiburan, undangan nonton wayang sekalipun) dia nggak pernah pake jins. selalu dengan celana kesayangannya, celana bahan. dia pernah bilang katanya kalau pakai celana bahan lebih enak dan lebih nyaman. dia bisa bergerak bebas sesuka hatinya tanpa harus merasa kegerahan (menurutnya kalau pakai jins itu gerah) -_______-"
aneh-aneh aja si asti haha

pertama kali lihat asti, bentuknya begini nih :p

sekarang kita intip isi tasnya. JRENG!
sebelum lu buka tasnya dia, mendingan pikiran lu buat minjem yg namanya bedak-sisir-pensil alis dan apapun semua itu lebih baik dibuang jauh-jauh. dari pada lu kecewa waktu ngeliat isi tasnya asti itu cuma ada buku, laptop, headset, 'kuman-kuman' (tentunya istilah ini cuma orang-orang tertentu yg tau), dan beberapa benda lain tapi yg pasti itu bukan peralatan make up! sama sekali bukan.

kebanyakan cewek paling males sama yg namanya olahraga. jangan salah, asti paling jago main bulutangkis. dia bahkan bisa juga main voli, dan dia anak karate loh! di rumahnya, asti punya sepeda lipat yg sudah pasti itu menandakan asti hobi sepedaan. cewek hebat memang! gara-gara sering olahraga ini, makanya dia sehat. subur, man! hahaha :D saking sehat dan suburnya, badannya ini juga ikut-ikutan subur, wkwk
oke oke, tenang, di sini gue nggak mau mainan fisik. cukup tau saja buat lu-lu semua kalau temen gue yg satu ini punya 'ketembaman' pipi yg lebih 'tembem' dari gue. urusan berat badan gue nggak ikutan dah yg pasti asti itu subur hahaha #dijitakasti

coba perhatikan, ada yg hilang nggak di wajah asti? ;p

di kampus, temen-temen sejurusan gue yg lain paling seneng nih ngeledekin asti gara-gara dia 'nggak punya hidung'. eits, tapi bukan nggak punya hidung beneran. maksud gue ini lain. tapi yang pasti, kalau kita melihat wajah asti, seakan ada yg hilang. haha entahlah hidungnya dia itu ke mana perginya atau di mana bersembunyinya. wkwk makanya kenapa dia masuk dalam kategori 'manusia pesek' di jurusan gue hahaha dan lucunya, asti selalu menimpali dengan kalimat seperti ini saat orang-orang mulai 'main fisik' dengannya, "Dulu gue waktu pembagian hidung nggak dateng, coy. makanya hidung gue nggak ada!" dan tetap dengan senyum lebarnya :')

ada lagi kebiasaan asti yg membedakan dia dengan cewek-cewek pada umumnya. dia selalu membawa sapu tangan di kantong celananya. sapu tangan yang dibawanya juga berbeda lho, nggak seperti saputangan-saputangan cewek-cewek yg ada gambar barbie-nya atau winnie the pooh-nya hahaha, sama sekali nggak kayak gitu bentuk saputangannya asti. saputangan asti itu lebih ke saputangan yg sering dipake sama bokap gue, bokap lu, dan bokap-bokap yg lain. kadang gue suka mikir, yg dibawa asti jangan-jangan saputangan bokapnya, hahaha
tapi memang itu kenyataannya. unik. ya, cewek ini memang unik. selain dia ini berbeda, dia ini unik. dan sejujurnya, gue kagum banget sama cewek model asti.



tapi jangan salah. meskipun asti ini tomboi, dia pernah loh pake kebaya waktu wisudaan pas SMA. ya meskipun kain yg seharusnya dia pake dengan cara dililit tapi justru dia bawa ke tukang jahit dan dimodifikasi menjadi celana. kriik kriik kriik sih.. tapi jenius juga tuh bocah hahaha
selain pernah pake kebaya, asti juga pernah nangis sama seperti cewek-cewek yg lainnya. yaa meskipun dia tomboi kan tetep lah kodart dia kan cewek, bisa nangis juga. sampai saat ini sih gue belum pernah liat asti nangis, yaa mungkin di antara lu semua ada yg pernah lihat asti nangis :p pasti jelek banget deh mukanya, hidungnya pasti tambah nggak kelihatan hahaha
dan yg paling HEBOH #lebay, asti juga pernah pacaran loooh, ciyeee ciyeee :D
tapi gue masih belum bisa ngebayangin kalo dia punya pacar. ekspresi kalo asti lagi diajak jalan, diajak kencan, diajak nonton berdua, diajak duduk berdua di taman, sama si pacar kayak apa yaaa? hahaha
semoga suatu hari akan ada 'pangeran berkuda putih berparas kodok' mendatangimu dengan membawakanmu cinta sejati, nak! hehehe :p



tomoboi-tomboi begini, asti masih kenal kok sama dapur. dia jago masak loh, jangan salah... tiap malam bokapnya pasti selalu minta dimasakin mie instan sama dia, hahaha. kalau bukan asti yg masak katanya nggak mau. ciyeee asti... punya predikat jadi master chef mie instan hahaha :D

yang paling gue suka dari asti itu, dia bukan cewek jaim. bahkan bener-bener nggak pernah jaim. tiap dia dateng ke rumah gue, jangankan nanyain gue yg punya rumah lagi ngapain atau basa-basi apa kek gitu, yg ditanya justru "ra, nyokab lu masak apa?", "ra, ada yg dingin-dingin nggak? yg berwarna juga boleh,", dan masih banyak lagi tapi nggak jauh-jauh dari soal makanan, urusan perut! hahaha
asti paling hobi wisata kuliner. makaaaaan mulu kerjaannya. jelas aja badanya subur kayak yg gue bilang di atas tadi wkwk
selain nggak pernah jaim, asti juga royal orangnya. gue menyadari, sebagai temennya, gue mengakui banget kalau asti orangnya sangat royal. royal dalam urusan traktiran, royal waktu buat curhat, royal bensin buat tebengan pulang bareng pake motornya, dan royal-royal yg lain. hoaaaaaa dia memang teman yg baik :') *yah, geer dah orangnya dipuji-puji gue mulu. semoga aja abis ini gue dapet traktiran makan es krim, wkwk :D*



gue bingung mau nyeritain tentang asti ke lu semua di bagian sisi mananya lagi. yg selama ini gue dapet dan gue tahu, asti yg gue kenal ya seperti inilah. asti yg apa adanya :')
dia paling pinter menjaga perasaannya dan perasaan orang lain. dia nggak pernah mau nyakitin orang lain sekalipun hal itu menyakitkan buat dia. dia... bener-bener 'memegang komitmen' kalau sudah menyangkut urusan teman dan sahabat. intinya, kalau kita baik sama dia, diapun juga akan baik sama kita :')
aaaaaaaa sayang asti deh pokoknya, muach muach :* :* #kissandhug

cerita gue cukup segini dulu yaa. semoga kalau asti baca, dia nggak marah, nggak ngamuk, dan nggak dendam. percaya deh, ti, ini hanya fiktif belaka. bila ada kesamaan nama tokoh, karakter, dan tempat, mohon dimaklumi saja karena memang begini adanya :D ahahahaha



so, buat lu, asti diautami, thanks a lot sudah mau jadi temen, sahabat, sodara, kakak, adik, dan 'peta kuliner' buat gue :D
sukses selalu yaaa :D