Tampilkan postingan dengan label Tugas Kuliah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tugas Kuliah. Tampilkan semua postingan

8 Desember 2013

Khilaf

Ketika cinta membawa duka
Tentu bukan itu mauku
Ketika sayang memberi luka
Tentu bukan itu inginku

Ketika cinta lupa mengantarkan rindu
Tentu bukan karena dia mengalihkanku
Ketika sayang lupa memperpanjang waktu
Tentu bukan karena dirinya merebutku

Ketika cinta membawaku kepadanya
Percayalah, ini semua bukan salahmu
Ketika sayang menyeretku ke hatinya
Percayalah, ini semua karena khilafku

Ketika cinta telah membuatmu cemburu
Izinkan aku membasuh amarahmu dengan maafku
Ketika sayang telah menjadikanmu pilu
Izinkan aku menyentuh hatimu dengan jujurku

Di kamar tercinta,
Desember 2013

Me,

28 Oktober 2013

Dongeng: Nawangsih dan Rinangku

Suasana pesantren sedang tegang. Aku sadar, Ayah sedang berususah payah mengembalikan semua keadaan seperti semula. Aku juga tahu, Ayah sedang berusaha mencari bukti bahwa yang terdengar dan digunjingkan akhir-akhir ini adalah salah.
Di pesantren, tiada hari tanpa aku melihat banyak santri membicarakan tentang fitnah yang disebarkan Cabolek. Pria itu telah berhasil membuat Rinangku masuk dalam perangkapnya. Kini Ayah semakin diuji kebijaksanaannya sebagai pemimpin di pondok pesantren. Semua ini terjadi hanya karena Cabolek iri hati pada Rinangku.
Sudah sejak lama aku tahu jika Ayah sedang mencari seorang menantu untuk dijodohkan denganku. Dalam hal ini, sebagai seorang guru di pondok pesantren, Ayah pun tidak sembarangan memilih calon suami untukku. Ayah mulai memperhatikan para santri di pondok pesantren, terutama para santri yang pandai-pandai. Kelak, Ayah ingin memiliki seorang menantu yang dapat dipercaya tanggung jawabnya terhadap keluarga.
Hingga akhirnya Ayah seakan telah menentukan pilihan. Tak kusangka Ayah merasa simpati pada salah seorang santri yang bernama Cabolek. Sungguh aku terkejut mengetahui hal itu. Tak pernah kubayangkan, aku akan mengabdi seumur hidupku pada pria bertubuh cebol itu. Sudah cebol, wajahnya pun tak tampan. Itulah mengapa orang-orang memanggilnya Cebolek.
“Anakku, sebagai seorang ayah, sudah tanggung jawabku mencarikanmu calon pendamping hidup yang kelak dapat dipercaya dan bertanggung jawab kepada keluarga. Telah kuputuskan, Cebolek memang pria yang pantas untukmu, Nak,” begitulah kata-kata Ayah begitu aku dipanggil untuk berbicara empat mata dengannya.
Kuberanikan diri membuka suara. “Maafkan aku jika aku lancang, Ayah. Aku berterima kasih karena Ayah mau repot-repot mencarikanku calon suami, tapi… sungguh aku belum ingin menikah. Apalagi dengan pria pilihan Ayah saat ini,” kusadari suaraku bergetar. Seumur hidupku, aku belum pernah membantah Ayah.
“Jangan terburu-buru, Nawangsih, Anakku,” Ayah menyentuh bahuku seakan memberi kekuatan. “Kau bisa melakukan pendekatan dulu dengan Cebolek. Sering-seringlah bicara dengannya, maka kau akan tahu tentangnya lebih jauh dan dalam lagi. Hanya dia yang kupercaya dapat mendampingimu dibanding santri yang lain,”
Aku terdiam tak menjawab perkataan Ayah. Aku mengigit bibir bawahku menahan kekesalan di dalam hatiku. Sungguh aku tak mengerti mengapa Ayah dengan begitu mudahnya bersimpati kepada Cebolek. Sejak saat itu, kuperhatikan Cebolek mulai mendekatiku lebih gencar. Sebisa mungkin aku terus menghindarinya. Rupanya, Cebolek tidak mudah menyerah. Kudengar dari para santri yang lain, Cebolek terlanjur menaruh hati padaku. Tuhan, jangan persulit aku pada keadaan ini.
Sejenak aku berpikir, Tuhan mendengar rintihan doaku. Hingga Tuhan kirimkan seorang pemuda ke pondok pesantren Ayah. Ia bernama Rinangku, putra dari Ki Pangandaran yang kutahu sangat berkuasa di daerah Semarang lewat cerita Ayah. Sebagai pemimpin pondok pesantren, Ayah menyambut kedatangan Rinangku. Ia pemuda tampan dan memikat hati. Pertama kali aku melihatnya, aku merasakan ada sesuatu yang membuatku ingin mengetahui lebih banyak tentang putra Ki Pangandaran itu.
Di suatu hari, aku dan Rinangku bertemu pandang. Kudapati ia memberi salam hormat padaku. Tingkah sopannya membuatku semakin jatuh hati padanya.
“Bolehkan hamba bertanya pada Tuan Putri?” tanya Rinangku.
“Dengan senang hati, aku akan menjawabnya,” jawabku.
“Benarkah engkau wahai putri nan cantik jelita adalah Nawangsih, putri dari Sunan Muria, pemimpin dari pondok pesantren ini?”
“Betul, Pangeran. Aku adalah Nawangsih, anak Sunan Muria. Jika boleh aku meminta, cukuplah engkau memanggilku dengan nama Nawangsih,”
Lagi-lagi kudapati Rinangku agak membungkuk menghormatiku. “Baiklah jika engkau meminta, Tuan Putri,”
“Cukup Nawangsih, Rinangku,” sekali lagi, kutatap Rinangku yang juga menatapku. Setelah itu, dengan segera aku pergi dari hadapannya. Aku tidak ingin terlalu lama bertatapan dengannya. Sebab aku tak kuat menahan pesona kharismanya.
Tetapi tak kusangka, pertemuanku yang singkat itu diketahui oleh Cebolek. Api cemburu telah membakar hatinya. Kecemburuan itu membuatnya tak dapat berpikir jernih. Ia menghalalkan segala cara untuk mencelakakan Rinangku. Pada suatu hari di kerusuhan perampok, Cebolek dengan kepandaiannya mengambil hati Ayah agar Ayah menyuruh Rinangku menangkap perampok-perampok itu. Ayah pun menanggapi saran Cebolek dengan kewajaran. Sudah sepantasnya sebagai santri di pondok pesantren, Rinangku diuji kepandaiannya. Di balik itu semua, Cebolek justru menginginkan Rinangku mati di tangan perampok-perampok. Tapi kenyataan berkata lain, Rinangku justru berhasil menangkap perampok-perampok itu dan membawanya ke pondok pesantren. Bahkan perampok-perampok itu ingin bertobat dan berguru kepada Ayah. Mengetahui hal itu, Cebolek semakin tersisihkan dan dendam pada Rinangku.
Dendam Cebolek berlanjut. Ia menyebarkan fitnah tentang Rinangku yang diam-diam memasuki kamarku yang jelas-jelas melanggar kesopanan dan adat sebagai santri. Aku tahu Cebolek telah merencanakan ini semua. Ia menjebak kami. Malangnya, Ayah tidak percaya jika Cebolek pelaku dari semua ini. Hingga akhirnya Ayah menghukum Rinangku untuk menjaga burung-burung yang memakan padi di sawah Ayah. Sejak itu kami terpisah.
“Kuperintahkan engkau untuk menjaga burung-burung yang memakan padi di sawah Dukuh Masih. Janganlah engkau kembali sebelum aku sendiri yang memanggilmu,” perintah Ayah pada Rinangku. Aku menyaksikan perintah itu. Ada Cebolek juga di sana dengan senyum kemenangannya.
Kutatap Rinangku yang dengan mantap menuruti perintah Ayah. Ia segera meninggalkan pondok pesantren, terlebih lagi meninggalkanku. Aku tak mampu mencegahnya, sekalipun untuk mengucapkan salam perpisahan. Ayah yang terlanjur terhasut, melarangku untuk berhubungan dengan Rinangku. Hal ini membuatku semakin tersudut. Sejak awal, aku tahu bahwa Cebolek tidak benar-benar baik untukku. Tidakkah Ayah menyadari itu?
“Tenanglah, Anakku. Aku yakin Rinangku tidak benar-benar melakukan hal buruk itu. Bersabarlah, aku akan mencari tahu kebenarannya,” kata Ayah.
“Ayah percaya padaku bahwa Rinangku tidak bersalah? Rinangku hanya difitnah, Ayah. Mungkin ada seseorang yang tidak menyukainya,” tuturku setengah menangis pada Ayah.
“Bersabarlah,” pesan Ayah.
Aku akan bersabar, Ayah. Kusadari kau begitu bersusah payah mencari tahu kebenaran ini. Kau yakin bahwa Rinangku memang tidak bersalah. Dan aku yakin bahwa kau adalah pemimpin yang bijaksana.
Ketegangan demi ketegangan pun terus kuhadapi. Tuduhan-tuduhan pada Rinangku terus kuterima dengan besar hati. Aku bersabar hingga akhirnya Ayah berhasil menemukan jawabannya bahwa Rinangku tidak bersalah. Segeralah Ayah, aku, dan para santri mendatangi Rinangku hendak mengajak pulang.
Kulihat gubuk yang menjadi tempat Rinangku tinggal selama di sawah. Kudapati ia sedang duduk di depan gubuk menghadap sawah. Ingin sekali aku berlari dan mengatakan padanya bahwa Ayah telah percaya dirinya tidak bersalah, dan aku sangat merindukan wajah tampannya.
Akan tetapi, raut wajah Ayah berubah begitu sampai di depan gubuk. Hal itu membuat khayalan indahku pun buyar.
“Ayah, ada apa?” tanyaku lembut.
Ayah tak menjawab. Dengan menahan amarah, ia bertanya pada Rinangku. “Hei Rinangku, mengapa tak kau usir burung-burung itu? Jika burung-burung terus memakan padiku, padiku tidak akan bisa dipanen,”
Dengan hormat dan santun, Rinangku menjawab, “Bapak Guru, di manakah kesalahanku yang mendengar perintahmu untuk menjaga burung-burung yang memakan padi? Jika semua ini rusak, izinkan aku memperbaikinya,” dalam sekejap, padi-padi itu pulih kembali dan siap panen.
“Lancang kau, Rinangku. Aku tahu kau hebat, tapi tidaklah kau pantas berpamer dihadapan gurumu ini!” marah Ayah.
“Ayah, sudah, Ayah,” aku memohon pada Ayah yang tersinggung hatinya melihat niat baik Rinangku. Bagi Ayah, tidaklah pantas seorang murid menunjukkan keahliannya tanpa diminta atau pamer di hadapan gurunya.
“Diam kau, Nawangsih. Aku sungguh kecewa padanya!” bentak Ayah.
“Ayah, aku mohon, Ayah. Sungguh tentu bukan maksud Rinangku menghina Ayah dengan apa yang dilakukannya,” aku menangis sambil memohon. Aku terlanjur mengharapkan ada akhir yang indah setelah Ayah menjemput Rinangku, bukan akhir yang justru akan sangat dinikmati oleh Cebolek.
“Aku tidak terima, Rinangku. Sekarang, rasakan kerisku ini!”
“Jangan, Ayah….!” Aku berlari ke arah Rinangku dan memeluknya. Bersamaan dengan keris Ayah yang hendak Ayah hujamkan ke dada Rinangku, justru tertancap ke punggungku.
“Nawangsih!” kudengar teriakan Ayah bersamaan dengan Rinangku. Mereka sama-sama terkejut.
Kurasakan sakit yang amat sangat di punggungku. Tak kuasa aku menahannya. Dalam pelukan Rinangku, aku menatapnya. Dan melihat wajah Ayah yang menatap kosong ke arahku.
“Ayah…” rintihku.
“Anakku…” kulihat Ayah menitikkan air matanya. “Anakku… mengapa harus dirimu…?”
“Maafkan aku, Ayah… Tolong, jangan sakiti Rinangku, Ayah tahu Rinangku tidak bersalah… Ayah tahu bukan Rinangku dalang dari semua ini…” ucapku terbata-bata. Darah keluar dari mulutku. Kurasakan kehangatan yang Rinangku hantarkan lewat genggaman tangannya. Kutatap wajahnya lekat. Mungkin bisa menjadi sebuah kehangatan dalam kepergianku.
“Mengapa kau lakukan ini, Nawangsih? Harusnya aku yang mati… Jangan tinggalkan aku, Nawangsih…” itulah kata-kata Rinangku yang terakhir kali kudengar. Setelah itu, semuanya gelap. Aku tak mendengar apa-apa lagi. Semoga di kehidupan selanjutnya, aku dan Rinangku akan bertemu lagi.

------------------------------------------
Depok, 20 Oktober 2013
Digubah dari cerita dongeng Kudus berjudul Kisah Cinta Nawangsih dan Rinangku sebagai tugas kuliah Penulisan Populer di FIB UI.

Kantin Sastra


Matahari cukup terik ketika kulirik jarum jam menunjukkan pukul satu siang. Kuputuskan untuk membelokkan langah kakiku menuju kantin. Orang-orang menyebutnya Kansas, singkatan dari Kantin Sastra.

Kansas sudah berdiri sejak aku kuliah di Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya. Bahkan, sudah berdiri jauh sebelum aku diterima menjadi mahasiswa UI. Pertama kali aku melihat Kansas, bentuknya hampir mirip seperti gubuk. Tak kusangka ada juga banyak dosen yang menyebut Kansas seperti kandang sapi. Dari luar, Kansas memang terlihat menyedihkan dan kurang meyakinkan. Tetapi, bagi sebagian orang yang betah di sana, mereka menganggap Kansas sebagai rumah kedua mereka.

Kini, aku terduduk di salah satu kursi kosong ditemani dengan segelas Capucinno yang baru saja kubeli. Sekilas, Kansas yang sekarang jauh berbeda dengan Kansas tiga tahun yang lalu. Atap Kansas tidak lagi terbuat dari jerami, kondisinya jauh lebih baik sekarang. Kursi-kursi dan mejanya tidak lagi berwarna merah-kuning-hijau-biru, semuanya berwarna putih. Sekarang siapa saja bisa duduk di mana saja. Tidak seperti dulu, setiap jurusan memiliki wilayahnya sendiri sesuai dengan warna kursi.

“Aku tunggu di Kansas,” kukirim sebuah pesan singkat ke nomor ponsel sahabatku. Aku janjian dengan sahabatku di kampus. Sepertinya ia masih les bahasa Jepang di LBI. Kuputuskan untuk menunggu.

Capucinnoku mulai berkurang sedikit demi sedikit. Hawa Kansas sangat panas jika siang-siang seperti ini. Tapi anehnya, banyak orang yang betah makan siang sambil kipas-kipas atau sibuk mengelap keringat yang terus mengalir. Dua kipas angin yang terpasang di atap Kansas semakin tidak berguna. Buang-buang listrik.

Kansas terlihat lebih sepi pada hari Sabtu dibandingkan hari kuliah seperti hari Senin hingga Jumat. Pada kelima hari itu, kursi Kansas jauh lebih penuh diduduki. Bahkan terbilang sangat padat. Semua orang menuju satu titik untuk menyumpal caing-cacing di perut mereka sedangkan waktu yang mereka punya untuk makan siang tidak banyak. Tidak ada jalan lain, hanya Kansas tempat makan yang paling dekat dan terjangkau. Meskipun harus makan dalam kondisi terburu-buru, kursi yang terbatas, banyak piring kotor di meja-meja yang baru saja ditinggalkan oleh penghuni setia Kansas, dan puluhan lalat ikut meramaikan.

Tak peduli hari ini hari apa, Kansas tetap panas dan berlalat. Beberapa kursi kosong tak berpenghuni. Hanya ada sekitar 5 meja yang terisi oleh sekelompok mahasiswa. Aku duduk di salah satu sisi Kansas yang menghadap ke arah taman pohon Kamboja. Sekilas dari kejauhan, kursi dan meja Kansas memang dicat putih. Jika dilihat lebih dekat, warnanya justru terbilang mendekati abu-abu. Coretan di mana-mana. Bahkan ada juga gambar-gambar ilustrasi di sana.

Beberapa mahasiswa berbondong-bondong mulai memasuki Kansas dari arah taman pohon Kamboja. Sepertinya para peserta kelas LBI baru saja usai kelas. Kansas pun mulai ramai. Di belakang saya, duduklah segerombol mahasiswi dengan obrolan yang cukup mengasyikkan. Sebab suara mereka hampir mendominasi di Kansas. Meskipun musik koplo dari warung satai di sudut sebelah kiri dari aku duduk, masih jauh lebih keras berkumandang. Di hadapanku, ada beberapa pria-pria yang duduk sendirian di meja yang berbeda. Mereka menyantap makan siang mereka dengan tatapan kesepian, berharap ada seorang teman mengajaknya makan siang sambil berbincang-bincang.

Tiba-tiba suara cicit burung mengalihkan pandanganku. Sekelebat beberapa burung gereja tampak mondar mandir terbang menyebrangi Kansas. Beberapa penjual makanan juga seliweran ke sana kemari untuk mengantarkan pesanan. Di hari Sabtu begini, Mas Roni, penjual ayam penyet yang paling terkenal di Kansas, masih sibuk menyiapkan pesanan. Ayam penyetnya selalu laku. Tidak jauh dari warung Mas Roni, terdapat dua orang pria sedang beradu kepintaran di atas papan catur.

Aku semakin tidak tahan dengan hawa panas yang meyerangku. Juga para lalat yang sejak tadi mampir mendarat di mejaku. Selain itu, kutatap pula seekor kucing yang berhasil naik ke meja untuk menghabiskan sisa-sisa makanan dan beberapa remahan di sekelilingnya. Kesal karena tak punya kipas, kukibas-kibaskan tanganku demi mendapatkan sebuah angin. Tetapi hasilnya, nihil. Atap Kansas yang mengerucut sepertinya tidak berfungsi dengan baik, udara yang masuk seakan-akan terperangkap dan tidak bisa keluar.

Kuputuskan untuk menghabiskan Capucinnoku yang tinggal sedikit. Sejak tadi aku mencari-cari, tetapi sahabatku belum juga muncul di Kansas. Jangan-jangan pesan singkatku tadi belum dibacanya dan ia meninggalkanku di sini. Baru saja aku akan menelponnya, ia lebih dulu menghubungiku.

“Halo, Ra,” serunya di seberang.

“Halo, Ti, di mana? Masih kelas?” tanyaku tak sabar.

“Aku baru baca SMS-mu. Maaf, Ra, aku lupa memberitahumu bahwa aku tidak ke kampus hari ini. Lesku libur dan sekarang aku masih di kosan, baru bangun.”

Kudengar tawa renyah cekikikan di seberang sana. Geram sekali rasanya dibiarkan menunggu di tengah hawa panas seperti ini dan tidak menghasilkan apa-apa. Tanpa membalas ucapan sahabatku tadi, aku langsung memutus telepon.

“Awas saja kamu, akan aku guyur kamu nanti setibanya aku di kosanmu!” ancamku dalam hati. Segeralah dengan kesal, aku bergegas menuju kosan sahabatku.

-------------------------------
Depok, 29 September 2013
Ditulis dalam rangka tugas mata kuliah Penulisan Populer di FIB UI mengenai Deskripsi Tempat

Ruang 9303


            Sejujurnya, aku tidak suka dingin. Seperti saat ini, aku duduk di kursi kelas tepat di bawah pendingin ruangan dengan suhu sekitar 25 hingga 24 derajat celcius. Bagi orang lain, mungkin suhu itu tidak terlalu dingin. Akan tetapi, duduk di bawah pendingin ruangan seperti ini bukan hal yang bagus bagiku.
            Beberapa kali kulirik jam tangan di tangan kiriku. Detaknya belum beranjak melewati angka 1. Kualihkan tatapanku ke arah depan. Pak Sunu masih betah dengan posisinya, bersandar di pinggiran meja, berceramah memberikan perkuliahan. Sesekali beliau menyisipkan lelucon-lelucon untuk mencairkan suasana kelas agar tidak membosankan. Penampilan beliau tidak jauh berbeda dengan minggu lalu, masih setia dengan setelan kemeja garis-garis dan bercelana longgar. Kali ini, celananya berwarna hijau army. Rambutnya sedikit beruban dan beliau terbilang santai dalam mengajar.
            Di tengah perkuliahan yang mulai membuatku gelisah akan tanda tanya kapan jarum jam berpindah ke angka 1, kulihat Pak Sunu masih semangat bercerita tantang dunia sastra dan tulis menulis. Sesekali beliau menyeruput air mineral di atas meja, pasti tenggorakan beliau kering juga bicara panjang lebar selama hampir dua jam. Meja pengajar diisi oleh buku-buku yang dibawa oleh Pak Sunu. Sangat mengherankan, saat masuk kelas tadi, beliau menggendong ransel yang hampir mirip tas orang naik gunung. Akan tetapi, tangannya masih sibuk membawa buku-buku berhalaman sekitar 100-150 halaman. Mungkin beliau akan terlihat lebih baik jika membawa para jendela dunia itu dengan tangannya sendiri, bukan disimpan di dalam ransel.
            Kudengar tawa membahana memenuhi atsmorfer ruang 9303. Rupanya aku ketinggalan kalimat-kalimat lucu mengundang tawa yang diucapkan Pak Sunu. Kutengok ke barisan kursi di sisi kiri dari tempat kududuk. Kursi nyaris terisi penuh oleh mahasiswa-mahasiswa tingkat akhir. Beberapa di antaranya adalah teman satu jurusanku. Beberapa lainnya, ada yang kukenal dan asing di mataku. Salah satunya di pojok belakang, aku kenal siapa yang duduk di sana. Namanya Tito, mahasiswa jurusan Ilmu Sejarah yang pernah satu kelas di kelas MPKT saat semester satu. Tak terasa sudah tiga tahun masa itu berlalu. Tito juga pasti lupa bahkan sama sekali tidak tahu siapa aku. Baru kusadari, hampir semua kursi di deretan baris belakang terisi oleh pria-pria bersuara besar.
            Sebetulanya, perkuliahan ini tidaklah membosankan. Aku sangat menantikan kelas Penulisan Populer dibuka di setiap semester. Aku cinta menulis, apalagi kisah cinta. Hanya saja, ruang kelasnya yang tidak menyenangkan. Selain karena pendingin ruangannya, juga karena kelas ini berada di lantai 3. Satu lagi, aku benci terlambat sampai di kelas. Kebencianku akan semakin bertambah jika sudah terlambat, aku harus berlari menaiki tangga ke lantai tiga. Betapa semangatnya menjadi mahasiswa, bukan? Seandainya aku boleh mengganti cat tembok kelas yang berwarna kuning kusam ini dengan warna biru muda atau hijau muda, agaknya lebih menyenangkan dan memberikan efek segar dalam berkuliah. Ah sialnya, kondisi langit-langit di bagian sudut depan ruang kelas memperburuk kenyamanan belajar di sini. Warnanya bukan lagi putih bersih, tetapi coklat bergaris-garis. Warna itu pasti ditimbulkan oleh rembesan air hujan yang masuk lewat atap yang bocor. Akan sangat bahaya jika kondisi itu dibiarkan saat hujan. Sebab di dinding yang sejajar dengan atap rusak itu, terdapat kabel-kabel panjang dan berantakan.
            Pak Sunu jarang menggunakan LCD saat berkuliah. Tetapi hari ini, ia juga belum menggunakan spidol untuk membagi ilmunya di papan tulis. Papan berukuran hampir tiga per empat dinding masih putih bersih. Penghapus papan tulis pun masih tenang bersandar di tempatnya. Pintu kelas beberapa kali dibuka dan ditutup oleh Pak Sunu untuk mencontohkan sebuah cerpen yang beliau bacakan. Sungguh, kuliah di kelas ini haruslah ekspresif. Itu menurutku. 23 orang mahasiswa tampak serius mengamati setiap pergerakan yang dicontohkan beliau. Di sebelah kananku, seorang mahasiswa beberapa kali mengadu bahwa ia mengantuk. Sementara yang di sebelah kiriku, sibuk bolak-balik bertanya jam berapa sekarang. Menurutku, kelas ini asyik dan menyenangkan, mengapa kedua mahasiswa di kedua sisiku merasa kuliah ini membosankan bagi mereka.
            Jika dipikir-pikir lagi, memang akan sangat membosankan bagi yang tidak suka menulis. Tidak ada salahnya jika aku melihat jam untuk mengecek apakah kelas ini sudah seharusnya selesai atau belum. Lagi-lagi, ruang ini bahkan tidak memiliki jam dinding. Di dinding, justru hanya ada 2 lembar kertas berukuran A4 ditempel di sebelah kiri papan tulis. Satu lembar berisi tentang larangan mengaktifkan ponsel dan satunya lagi berisi tentang larangan plagiarisme.
            “Kumpulkan tugas hari Jumat, hari Senin akan kita bahas di kelas. Selamat siang dan terima kasih.”

            Suara Pak Sunu cukup menyadarkanku dari lamunan. Rupanya kelas telah diakhiri dengan tugas yang harus dikumpulkan hari Jumat. Minggu depan, tugas itu akan dibahas bersama-sama di kelas. Oh, aku sangat menantikan menit-menit untuk mengerjakan tugas itu di rumah sesegera mungkin. Minggu depan, semoga yang kukerjakan tidak mengecewakan Pak Sunu saat membacanya.

---------------------------------------------
Depok, 19 September 2013
Ditulis dalam rangka tugas pertama mata kuliah Penulisan Populer di FIB UI mengenai Deskripsi Ruang.

12 Maret 2013

Deskripsi Naskah Kuranta Bolong, Kode AH. 22

Deskripsi Naskah Kuranta Bolong, AH. 22

Naskah dengan nomor koleksi LT 169 ini telah tercatat dalam Katalog Induk Naskah-Naskah Nusantara, Jilid 3A, Fakultas Sastra Indonesia. Naskah ini tercatat dengan judul "Kuranta Bolong", beraksara Bali dan berbahasa Jawa Kuna. Alas tulis yang digunakan adalah lontar. Sampul naskah ini berbahan dasar kayu, di bagian sampul depan maupun belakang. Sampul naskah berukuran panjang 45 cm dan lebar 3,2 cm. Warna sampul naskah ini yaitu warna cokelat tua selayaknya warna kayu pada umumnya. Pada bagian sisi kanan sampul depan terdapat sebuah tulisan aksara Bali yang dibaca "kuranta" sedangkan pada bagian sisi kiri terdapat tulisan beraksara latin berupa "Kuranta Bolong Kelangkung" yang ditulis di kertas putih menggunakan pensil. Kertas putih itu di tempel di bagian sisi kiri sampul depan tersebut. Diduga kemungkinan besar bahwa "Kuranta Bolong" merupakan judul dari naskah ini.

Banyaknya halaman naskah ini yaitu berjumlah 37 halaman atau lempir. Jilidan naskah ini pun dalam kondisi baik. Lempir demi lempir naskah ini disatukan dengan cara bagian tengahnya dibolongi untuk jilidan. Jilidan naskah ini berupa tali putih yang dikepang--semacam tali tambang kecil--dengan kondisi yang sama baik.

Apabila sampul depan naskah ini dibuka, tampilan pertama yang terlihat yaitu sebuah lempir bertuliskan (       ) atau biasa disebut dengan kelopak naskah. Begitu lempir selanjutnya dilihat, terdapat teks dengan nomor lempir pertama atau halaman pertama. Ukuran alas tulis naskah ini yaitu panjang 44,9 cm dan lebar 3,2 cm. Ukuran ini nyaris seukuran dengan sampul naskah. Tiap lempir berisi teks dengan jumlah 4 baris teks. Blok teks berukuran 38,5 cm x 3 cm. Setiap helainya, lontar ini diberi tanda A dan B pada sisi yang berlawanan. Pada sisi kiri dan kanan tiap helai lontar diberi garis tepi berwarna hitam. Keseluruhan, naskah ini berjumlah 19 helai.

Pada lempir B (       ) terdapat coretan karena adanya kesalahan tulis. Sebanyak dua gambar juga muncul pada lempir A (         ) dan B sedangkan pada halaman (           ) dan (           ) terdapat kerusakan mekanis bagian bawah teks. Kemungkinan sentuhan fisik yang menyebabkan adanya keretakan pada lempir ini, seperti patah dalam ukuran kecil. Halaman (            ) A dan B terdapat garis bantu pada tiap baris teks. Sementara itu, pada lempir terakhir naskah, hanya terdapat dua barus teks saja. Warna teks yaitu hitam, kemungkinan ditulis menggunakan pengutik dan dalam kondisi baik sehingga masih dapat dengan mudah dibaca. Kecuali pada sampul naskah, judul ditulis menggunakan pensil. Isi teks berbentuk prosa. Dalam naskah tersebut, tidak terdapat keterangan yang jelas terkait asal-usul naskah maupun penyalinan naskah.

Ngalembana Tiyang Estri

Sanadyan ngubengi saindhenging jagad, lelana njajah nagara, ngubengi gisiking segara, munggahi puncak gunung, nlasak alas gung liwang liwung, lan ngudhuni jurang trebis, mokal tinemu (wanita) kang madha rupa karo (sliramu) sira pupujaningwang. Mbokmenawa ing dhasaring bumi, ndhuwuring langit, lan sajroning segara, ananging ora ana sing ngerti. Sanadyan pangiraku ing tribuwana, anaa sing madha sliramu, tetep ngeresepake ing ati anggonmu sumeh. Milane para Hyang ngutamakake para wanita ing bumi kang badhanipun sedheng sedhet, anggone lelewa milangoni jalaran dhemes lan sembada anggonmu tumindak. Kayadene tansah ngumala lan gawe merak ati, sarta pitutur kang manis gapyuk, tumindakmu kang sigaraning nyawa. Juwawut geng kang salaga, pari kudu sun ngengeri*. 

Meskipun berkeliling ke penjuru dunia, menjelajahi banyak negara, menyusuri tepi pantai, mendaki puncak gunung, menerobos hutan rimba, dan menuruni jurang tanpa batas, mustahil kutemukan (wanita) sosok yang serupa dengan(mu) pujaanku. Barangkali di dasar bumi, di atas langit, dan di dalam samudra, tak ada yang mampu mengerti. Meskipun dugaanku pada tiga dunia, akan ada yang serupa denganmu, tetap murah senyummu yang paling berkesan dalam hatiku. Oleh karenanya, para Dewa mengutamakan para wanita di bumi yang perawakannya sesuai, dalam bersikap ia buat mempesona, sebab serba pantas ia berperilaku. Seperti selalu bersinar dan menarik hati, serta kata-kata yang manis dan memikat, tingkah lakumu bak belahan jiwa. Juwawut geng kang salaga, pari kudu sun ngengeri*.

Catatan: (*) Kalimat berikut merupakan wangsalan dengan makna tersendiri, tidak bisa diartikan dengan bahasa Indonesia secara gamblang atau pas.

17 Januari 2012

buat beasiswa

Essai Beasiswa Tanoto Foundation
Oleh Rara Indah Nova Nindyah, 1006764750
Sastra Daerah untuk Sastra Jawa, Universitas Indonesia

Awalnya, niat saya setelah lulus SMA adalah kuliah di jurusan Sastra Indonesia. Sayangnya, grade untuk diterima di jurusan tersebut memang sangat tinggi. Sehingga saya diterima di jurusan Sastra Daerah untuk Sastra Jawa di Universitas Indonesia. Menyadari bahwa saya mendapatkan jurusan yang bukan sepenuhnya keinginan saya, cukup kecewa memang. Tapi lolos ujian seleksi dan terdaftar sebagai salah satu mahasiswa UI merupakan prestasi dan kebanggaan tersendiri bagi saya.

Sejak saat itu, saya mulai menekuni setiap mata kuliah yang saya temui saat masa-masa perkuliahan. Banyak yang belum saya mengerti, tetapi hal itu yang membuat saya menemukan banyak hal baru, ilmu baru, dan pengalaman baru yang tidak pernah saya temui di masa sekolah dulu. Sastra Jawa cukup membuka mata saya yang awalnya sama sekali tidak begitu mengenal tentang budaya, padahal saya masih keturunan darah Jawa Timur. Saya juga mulai terbiasa mendengar dan berbicara satu bahasa dengan teman-teman saya yang kebanyakan dari daerah Jawa Tengahan dan Jawa Timuran.

Sejarah awal saya memilih untuk kuliah di Sastra Jawa memang agak rumit. Saya hanya mencoba memahami diri saya sendiri, kira-kira apa yang paling saya inginkan selama ini, apa yang paling melekat dengan diri saya selama ini. Sejak SMP saya memang sudah hobi menulis, bahkan saya tekuni hingga SMA. Mungkin hal inilah yang membuat saya memiliki tekad, saya ingin lebih memperdalam tentang sastra, bahasa dan sebagainya. Waktu sekolah, saya paling suka pelajaran Bahasa Inodonesia, padahal banyak teman-teman saya yang menghindari pelajaran tersebut. Buat saya, sastra itu menyenangkan.

Sastra Jawa bukan suatu penghalang bagi saya untuk belajar sastra. Antara sastra satu dengan yang lainnya, yang dipelajari tentu sama. Hanya saja bahasa dan budayanya saja yang berbeda. Sastra Jawa itu lebih fokus dibandingkan dengan Sastra Indonesia, itu yang baru saya sadari setelah tiga semester kuliah. Ada lagi hal yang membuat saya beruntung sekali menjadi mahasiswa Sastra Jawa, yaitu ketika sepupu saya berkata bahwa orang-orang yang belajar di Sastra Jawa merupakan orang-orang pilihan dan tidak semua orang bisa dan mau untuk terjun ke sana. Saya mengambil kesimpulan bahwa saya adalah orang pilihan tersebut, artinya saya tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan langka ini.

Ada beberapa alasan unik mengapa saya ingin belajar Sastra Jawa, yaitu saya ingin jalan-jalan ke Candi Borobudur, berkeliling di Yogyakarta dan ingin jadi penulis. Banyak yang tidak percaya bahwa hingga saat ini saya belum pernah ke Candi Borobudur. Jika suatu hari saya diberikan kesempatan untuk jalan-jalan ke Candi Borobudur, saya pasti sangat senang sekali.

Berbicara tentang menjadi penulis, hal itu merupakan cita-cita saya sejak dulu kala ketika saya merasa senang sekali dengan menulis. Untuk menjadi penulis sebenarnya mudah saja apabila kita punya niat dan tekad. Lewat Sastra Jawa, saya berpikir siapa tahu di 5 tahun mendatang setelah saya lulus nanti, saya bisa menjadi penulis. Saya bisa berkeliling Yogyakarta dan menjadikannya latar di beberapa tulisan saya suatu hari. Mungkin juga berkeliling di beberapa wilayah Jawa untuk meneliti sambil mencari inspirasi untuk bahan tulisan saya. Siapa tahu.

Selain menjadi penulis, saya juga ingin sekali bisa mengajar tari daerah untuk anak-anak. Sudah terlalu banyak tari-tarian daerah yang hampir dilupakan oleh remaja saat ini. Oleh karena itu, saya rasa jika mengenalkan budaya sejak dini merupakan salah satu cara yang cukup menjamin. Meskipun di kemudian hari belum tentu mereka mendalami hal itu, tapi paling tidak mereka mengenal dengan budayanya walaupun hanya lewat tari-tarian dan lagu-lagu daerah.

Akan sangat menyenangkan jika suatu hari di 5 tahun mendatang setelah saya lulus nanti, saya bisa tinggal di Yogyakarta. Selain sibuk menulis dan tidak bosan-bosannya berkeliling Yogyakarta untuk mencari inspirasi, saya ingin bisa mempromosikan budaya Jawa, dari barat hingga timur, go to international. Caranya mungkin bisa lewat buku-buku yang saya tulis, atau seminar, membuat event-event tentang budaya Jawa, dan masih banyak lagi. Tetapi, meskipun saya begitu berminat sekali dengan Jawa, tentunya saya tidak pernah bisa membendung harapan bahwa saya juga ingin berkeliling Indonesia untuk mengenal dan mempelajari budaya Indonesia satu persatu.

Semua keinginan yang saya anggap sebagai ratusan cita-cita saya itu tidak akan bisa terwujud dengan begitu saja jika saya hanya diam, duduk menunggu keajaiban. Tentunya saya harus bergerak, melakukan banyak cara untuk mencapai itu semua. Langkah-langkah yang akan saya tempuh yaitu seperti mempelajari, memperdalam, dan terus mencari tahu tentang Sastra Jawa lewat semua mata kuliah yang ada. Saya juga sedang aktif mengikuti organisasi jurusan untuk mengurus majalah dinding Sastra Jawa, dari situ saya akan terlatih untuk mencari berita dan menulis, juga terasah untuk berpikir kreatif.

Selain itu, saya akan menghadiri seminar-seminar tentang kebahasaan dan kebudayaan, juga selalu aktif mengikuti perkuliahan dan acara penelitian jurusan, dan tidak pernah bosan untuk membaca. Ada lagi hal yang ingin sekali saya lakukan untuk menunjang cita-cita saya sebagai guru tari di masa depan nanti, saya ingin bisa mengikuti sanggar tari untuk memperdalam tari-tari daerah. Hanya saja biaya untuk mengikuti sanggar tari terbilang cukup tinggi nominalnya bagi kehidupan finansial saya. Terakhir, saya akan memperluas pergaulan agar mendapat banyak hubungan dan ikatan dengan orang-orang yang siapa tahu suatu hari bisa berkerjasama dengan saya dalam bidang bahasa dan budaya.

Cita-cita tidak akan pernah bisa diraih jika seorang pemilik cita-cita tersebut hanya diam dan menunggu nasib. Dibutuhkan banyak sekali perjuangan dan usaha untuk mencapainya. Niat dan tekad yang kuat juga diperlukan, baru setelah semua itu memohon doa agar Tuhan mau memberikan balasan yang setimpal dengan apa yang telah kita perjuangkan. Besar harapan saya, segala usaha dan perjuangan yang diiringi dengan niat dan tekad yang kuat, Tuhan mau melihat dan mendengar doa saya demi mencapai cita-cita dan harapan.

22 Desember 2011

Tugas Alih Aksara Filologi

(foto 423, hal 223) ... gedhe lemungguh jawa / nora kena nglebur / najan sangking nabi haram / saprikine lunga jabutdanya / arahine kapruena // pernahipun dapsamya ngawruhi / ila iku pewadhah ing rasa / ingsun diri kupernahe / tegese suldi iku / adon adona dere yungkanih / geger dhano deroyoklan / mungguh ing wong jayu / paniku gedhong nging rasa / amruh ana ngelmune dimun patitis / sampurna ning agapa // awan lareh ngelmunipun malih / panminar dindung genlewana / tanlen nakedhik muduhe / paniku damun wayu / ana dona lamun pawesrima / dedhong nging rasa tunggan / tara bab ranipun / ikune tengah ing dhadha / kiwa tengen lang ngarap sasotya manik / kapit sedha ning srima / sayogya namipun lawruh ana / semaraga maweswane / iku sedatenipun / minangka ning rasa ngesrima / lamun lan lawruh ana / pupuh ... (foto 424, hal 224) ... sirnanipun / landa pira sri mau tama / sabab anut patimah ingkang sejati / danya pupuh sampurna // anag magming ngelmu tinulis / yen minutur tuwuhe sedaya / tuduh senajan ngelmune / ucapen langka ruhun / ila balung ngajabut dandi / iku wijin ning bajan / mata yen nglebur / iku tatumut angrasa / marang erroh ing kubur nika matlam sakit / iku tumut angrasa // nora telaka lajuk urip / kaya sira yen turu mengkana / kang erroh tetlaya anupen // tanpisah nikmatwipun / miwah sakut mawan anunggil / iku roro ning tunggal / malah terkengkubur / datane yanun tanpisah / erroh jisim samyu ang nglampahi / tetlayarandupen // yen ngrasa siradro ningguling / angsum penaka tonsakdacumdyana / lan mawes mridro ning sare / miwahes mripun niku / yen nang ngimpia mulang resmi / iya lawan ning yening / erroh kang pulang dun / jiwa raga tan un ninga / ing poyahe ing roh apunlang resmi / temah nundut le ... (foto 425, hal 224)... wala // jiwa raga nulya ang ngling ri / ing poyahe erroh resupen / temah anmelanmanine / iku wertag janipun / senajan iku adoha / ing ngleyampahipun / awan nangku nora pigah / nandyan masrik lanmahgrip / iku kang tunggal rasa // pan mengkono sajro ning mati / aneng kubur senajan apoha / kubur ranglemah ing kon / mesti adoh gonipun / ingkang nganluhur ing langit / ana ing luhur misah / pekaranganipun / ang nging mesti nora pisah / ing nikmate siksane sareng tangenti / erroh kelawan jasat // ing laire sirawus ningali / lamun muru ing wekasun wetan / kang adoh ing ngle lakone / ninggali jroning turu / nglelampah ana aneng ing margi / siranuli tiba / iku jroning turu pana erroh arkutumuba / baman lair anulya tumut nglampah / sukune angger rogjal // apa niku datan sak mali / meskti seda ingkang darngaramoyah / kerana sangetebehe ... (foto 426, hal 225) ... iya iku tuduhipun / kang pinanggih ing danglem pati / walang mpenesmogna / kurprana ingkang gupuh / yen lali seragun loyah / lapanliyas matmakasmya wawarti / iku kang kinukuhan // silawajim sakehe wong kwunmin / jaluhesmrisamyu ngestogna / ing rasa iku tuduhe rinipta lawan membu / namanipun kitap langkeri / ya saprikil pramat / ing papen bikahipun / cimurata ing bosalawang salipun bosa ngarablang tinulis / amrih gamsangwunaca // lamaliye erroh ingkang uning / ingkang tabebasa batme punika / luwih angel pemacane / anging kelawanah kwung / yen malamun boten sinanggih / tujuh kang sampun kocap / sangking kita bahagung / pamrihe menurinipta / palamandar damos sameng lingkang amrih / slameta ing patenira // sarob dening amidhanget warti / dados sampun wong iku angrasa / yen badhe pelahtemahe / nanging slametipun / kinawruh ana ing mupung mangken / nlansarta lan idayat / ... (foto 427, hal 225) ... angsah nlepituduh / daldine angupahupa / pratingkahe asrih slamet tingpati / yasarta yasaidadhat // kangtane oleh pitulung dharwidi / pan senalyan sampun ngawruhana / tagmugjing ruruh lan ning lenprayitna / yen sangsi pemanungsah denadak lapir temahe melu setan // penutipun ingkang tar puniki/ poma pomanipun nestugna / kitap puniki tumua / sampun wamang ing kalbu / menjuman dema ing kang miturur / balang bamane nasedadha / sababusake slamemanora ing wayat lang kocap / punika nenggih pemute / krana wekasanipun / kang senemya jeneng wong ngurip / genang neng ngalamdonya / ngakeratrut wuspinet bingamaladhadha becik / pinanggih ing ngeka ... (foto 428, hal 226) ... rat // anggeripun nasap nelya ning ngati / sinungkupat ngibalah neng lunya / slameta ing ngakerat wasukle / kadis andika ragun / denkukuhing ing para wali / miwah prasekabat / mukmin ingkang kuhu / senalya kang makna / orahe kanglang para ganeyan sakit / miwah kangelanira // kang sinela siyang lawan latri / para paliyan para mukmin sedaya / mukmin langyakin ngelmune / nalyadapuratu / aja kegbih yakining ngati / dene kamulya dunya / pomo lan kukuh / selameta ning ngakerat / mukneng mulya luhamahdipun sabili / iku sabil sampuna // iya iku tingal para nabi / ingkangen wuklasulya ning dunya / takenbilening lunyane / keklasih ira tiyang ngagung / sulya sugih nglangkungi / kaya nari sulesan / sugihe kelangkung / lan diratu wong slameat / saisane ning lunya barang kueseli kabeh samya ngawudha // suprandene iku tanlaligbih / liyakinen dalu lawan siyang / kang cipta (foto 429, hal 226) selmine / nanging selametipun / wekasane tumekang akir / monta matan wurunga / mesti yen tinemu / marmane nabi suleman / tanla ligbih namyan punggih munya iki / mongsa murung ngati niyar // winangsul lendarita wiradhat litam solan / ingkang sampun minuwus / tuburi muna ing mara wali / kubure wong udhidha / muk warsa ingkang tuhu yaiku kang enmukrahmay / wonten malih wong murakang winarni / duk pranwenging panggonan / sayahe katnulya muwus malih / lih ponagal erroh tumengaha / anulya tumengahage / kawasdenglehandulu / ing ing suwarga kang ami dhadi / pepajangan noandah / lan saisenipun kelangkung maning kasodhan / aning ngani suwarga ingkang linuwih / erroh andunya ngucap / / yuh pangeran tekaaken aglis // ing panggonan ingkang tiningan lan / ayuhpuna marospe / sababe menaningsun ... (foto 430, hal 227) ... luk neng donya kang parareng / kating ngalapinesan / sahlanipun magadur / patutya lamununinga / erohhipun aningali mranglaki / abagus mining ngalan // lansenggo ingkang sarwa ali / sekelangkung lenira kacardhan / kekebonan liluwih ali / kekasihe ning landya / pansamyu kanulu / punapa kang lamya trisna / ingari pemarmane banget lanengin / luh aglis mekakaken // lah punika leleroh kapi / mapan bihin sampun cacarita / ing wau sinin kedhonge / sampun kocap rumuhun / sareng pengcatbinekta aglis / nulupinagwingan / mangedhongipun / lah punika wong muraka / mumukawir wonge slamlangkung macani / tan nganggo taata / datan wani wrang ngdyangwildi / pendi iku manggih cilak / napakake mau tusane / malahe kandudya muwus / iya erroh sangrake wongan / marang ingkang katingal / ... (foto 431, hal 227) ... apan sira nat pituture wong nguyapak / anung sira natugi karen pingati / geguyu wong ngibulah // ingkang erroh nanya matur aglis / sekelangkung ayuh pinegam / nekakendipunage / malaekat yetahasru / yen memen sira kemengin / mongsa hanglekonana / muraka sireku / mong kewengin lahinyoklan / pana ing monya lawas pesira urip / akeh tutur ing marga // apa ningsun ingkang nenulispi / ila ingsun canpisah lan pira / iki sunga watulise / ing siyang lawan dalu / sira mungturu landukti / yen muni yes nira / ulare tan patut / kang sepisang king gagjaran / kang muraka sira hujprina pengi / tansah gawe angelan // agung gawe ing sunanulisi / saring sira miwah rerong molah / rahrin lawan mengine / aman liwasipun / tingkah iratangan lan sikin / nongahe awak lira / tanpa tutlangekmulen sira ... (foto 432, hal 228)... remen suwarga / pusteteladra lampah ing wong urip / kaba yen daleh suwarga // mataniyat sira tana ngimpi / yen repasira ing suwarga / panara anatagbane / ing siyang lawan dalu / ora nelya gawe becik / yen nawong bilatalah / malih len gugulu / iku togca wong lurak / kah dene galih erroh tumul aglis / amrih mring malekat // tapal wara nulya aning aglis / ingkang roh isin ing neraka / apan katingal lan langeh / awiwasliton murup / murung marang lengkung ngalrihi / saware akung kathah / selayak mulu / melangu moplakinglan / beruronana ing monya amemet deni / kangarah sarekatingral // ingkang roh sanget denya amrih / meningise hasru rasa samdat / tuwan ngelingakange boten sanget andulu / luh malaekat tulungan mami//nela ing pangeran//sang ngetalrih ingsun//malahekat dunya ngucap / apa emen sira roh iku weldi / mring ing sikpa nerakaka // nulyangu ... (foto 433, hal 228) ... cam erroh amor tenging / sekelangkung ing ngamrih kapuna rong panganali unage / sanahe kye takasru / dhasar ninyo kahang ngakuhamri / namun sira temen / wedisik sakubur / mong sasi rarurokaha / aneng lunyatana angrasa musmati / kadhanang geng neng lo // nahrelik inganan aglis / andulu wakiwa tenganira / rangga na hamdya nitingane / aglis nyunyu punu / kiwa tengana ingasanuriaman nemaka semana / ingkang kosap sela yenerali wani sartahawi neraka // marahakatde / bundutana nunya nyeken marang guno nira / kana wanas makiwa haspakeng tengenipun / tetulisan layane urip / mapyo papan demyug lamyugeni / sarnare tahakemegan // sarla maningalihir / riseksana wong gawe kangelan / sunpunis sisenapasa / tanhane lingimu (foto 434, hal 229) tutuging warti / sarta wani dayan / pitulung yang ngagung / kang binaka ngelmu asa / anamdungi anggita panwitanupih  / gaknusapul drana // panelya kang nyerat puniki / dhateng aukang samya maca / den agung mangapurane / angsal wong migbalangung / pansusar pamilwa angngati / langkung asel saharsa / mungguh awak ingsun / supraguh awir saweksa / pan lumen dusa akel tuwaangawi / tan meruh ing gesem // norange tangpirang lawan isim / mewah milabo saking ratuma / menwi angsala alam dyune / angsala kang pitulung / ingkang ngagita ing kitat iki / seh laita ingkang nama / sekaba ta ing raguk / waliyolah kinasih yon / ing malihah kuburengancap ping nabdi / kang nganggit dyong sanga rak // kinandyi // kang duwa kikayat muwus / ana kawula ning wildi / mardika sugih ponya / tur mulya benkti yang wildi / mrokutha mesir wis mandyan ... (foto 435, hal 229) // arep ora ingsun lakoni / puslarsan ning pangeran / sunelaha ingsun / anulis singamalira / teka sangraga mesalahke maki / lah mrang kono rasak rangna // ingkang ngeroh langkung mening sakit / manangis srungaruara / anderit samerita samdute / luh balakna ingsun / marang londya uripna malih / aluha aklapuya / aluh maki ingsun / malekat dunya ngusam / laya mati sira iku uwis mati / salah tekeng kiyamat // apa maneh sira kena  mati / iya belalap ya ngrasa / ing siksa kubur temahe / wuswali ning yang agung / dendra lara tan lena mati / ana ing kubur rira / ing seyla pasipun / sinikas siralina / pas setaun lopa ngrasa yahi rasa kita / sodansikalis / langkung pagwar lamun gawit / mantutuk marang akira / gamsilmas silahipun / lamunlarya (foto 436, hal 230) angabdullah duari // kana tamani rama saur / salro nenagri pesir / mangkana sawi didin / sira ngabdullah duari / alinggih lan rangenira / sinawang malang kang warni / duari alon amuwus / luh rubilah ingsun iki / asih temen marang sira / pangrasane atisani / wus mancek ana ing sira / rabi sumakar raris // kang madon alon amuwus / kiwulu tansahne nasdyuhi / paninggih atan larenginmong bagus / ora melika ing wong sugih / mung sika dunung ngisanah / ngawulat mekengaking / tulisan tingalingpala / latan dare cipta kalih // men mumek sipracakcan / dados sahatep ing ngati / kelamun lawu lapralah / dika sampun rabi rabi // lon alen andika lan sampun / kawula boten (foto 437, hal 230) sampun wantos gineralang // marang uwong malih malih / mungalilya lambug / kang mar besariramin / ing londya ngakeratipun / angling ngabdulah muhari / yen layamreng bonohiya / nali padha pralagja / sineka serangulam / wus masur wongsag negari // prasetya nira kelangkung nibok ngabdulah hari / tur bekti asih mrung priya leh lepanesmari / mangkana kang ngestri lelah/ kang laning kaya wong bering // sangking sanget tekang wruyung / dhestarepi sumiri / lemping nankuya dranira / ting sarel panden pungkli / tur sarpinarakarun / menlayat wong sagnegaripun yaginapa mring kubur / mineklakwus pala mulih / sakehekang payame tak / nanging ngabdulah luhari / angpabuburan / tunggu kubure kang rayi // sakedham ngabdulah mantuk / mring misma nguwuh mring rabi ing maturon mau taman saya susah heke mati / ayungguh ing pismanira / bayi makuburan malih // (foto 438, hal 231) sirahe pinanoka anjuk / sarwianderlih nangis / lolahe ya wong ngeman / lali mangan lan ngabrukti / surabine kang len ucap / sinelukdelak mulih // salya sampun misuwu / yen li ngabdullah luri / kaligbih ngakal lorasan / sapatina ingkang ngestri / sankasipah marang lukun butun / cinekel gina mamulih / sinidram mutesa ing koya / ana kanggi tik senalis / keh warnane lan mentreng / tanana ingkang mara sasi // tita akan leyedubun / samya seleh tanlalugi / ki ngabdullah kinducara / lamine panem dina / kamilasan langcaranduk metu / sakjing wis manira malih / klasasa nunggan dineyah / ing tengah pipusdraboni / sirah kali nganggo kayat / marang pakubur lan malih // praptane banjura lungguh / aneng kubure kang estri / markulepra lunganlangni / yen dalu ala ratjerit / piralamasse amolang / sira ngabdullah luari // (foto 439, hal 231) kangsai kapti gang taun / sawili nanuloni / sirahe minomtcamah / bendur teturoneng siti / malumah angamangar / umatur mring bli yabiyi // kah pangeran ingkang ngagung / angmulya kahaken ing nabing / muhkamala ingkang mustapa / tupanisylan aglis / ing susahe mana hamba / yablali iya sayimdi / sulyahanasya rak rungu / mring ngabdulah muangri / aglis duglung sirah rira ning ngali wong tuwa Sali / nganggo kangsar waprathu / ka ngabdulah atut wuri / saparane wong ngiku ki ngabdulah ngatura aris / lah ing surnasuka / nugrah aning martabat pi / lah sinmentan matuwan / kang tinakon ngabdikaris // nabingisa seneng ngingsun / ngabdulah kumepdur ngati / rumongsa pitulung ngiyang / kangu matur malih / ya nabi yolah prateya / yasayla kang maha suci // kang ing ngutus ing tuwanku / lan lawunan duruti / ing selagat latuya / nabi yolah ngisa angling / lah tamat latira / matur ngabdulah latiri // (foto 440, hal 232) punika ingkang kinukur / rangitsuya ngemasasi / kawuyatandratah pisah / tuwandinuta ing wildi / gita rabi kawula / lipungesang namalih // panmeksiha warna alu / nabi yolah ing sangling / reh ngabdulah pismuliyu / mangan ngombe ya / sarwi / seyekah amengu laya / ngurmatan naprakir mraslin // kranasira iku lumut / tingkah sring rabi mugi / sukerrati walasipra / lali turomor kemati // milane ing suna alunuh / andongagnaing lang wildi / maturragjekunge ngabdulah / ambuanen dupasa ugi / inggij mongsa mekatena / rabi kapuyapusjagji // mong myatekeng ngakiripun / tankumeyendar beyakang / dhumateng ing lasatkuya / wong sasagendangondati / presetnipunlanah / tuwan teyakaken urip // tansa damel tuwan lawuh / tangledra gagakenatu / asang nget aatur kawula / tumin tengdhak datemunli / mring palah kangma (foto 441, hal 232) amulya / kang sipatrah manjur rungi // nabi yolah nging sumagut / ande ong ngamring yang wildi / sekalabar aglin sramta / gawati mbayla ning mildi / nabi yolah peyana / ngabdulah dhateng yang midli / sampun mutu manpunpurun / nganbek lalatahi wong mekir / nabi nulyaande longa / tekidir roylah amrengi / mantlekah kubur rira / ni bok ngabdulah luari // metuni kanglro ning kubur / king abdulah aningali / kelamun ratinege sang metusi king kubur linggih nanging purnamalih ala / ngabdullah maturi nabi // yen biyolah punika / lolrabi kuyadhingin / warnaneke langkung enduh / alukuning meraka hati / punika rumnehala / mler ngung ngusrambuti rabrigbil // nari ngisa ngandi karus / yarate nirasa gentimunga neni rupane ala / ngangetaprih ati nira rabi / ngresakaa kespondakaya / sisa kubur tar ni warni // ngabdulah luri sakur / tupansupunena ing mildi / manjuka hayakaloslin / nabiya (foto 442, hal 233) lahanurut / tusengalonga ing ngrelah / mulyaa luang luwihi // sapuse mulih/ warnaelu / pamongandyulah / luarri / yang usna nabi ngisa / sangkana ngabdulah lagi / bola krasara benira / kinularwilenliling // luh bendaraku wong arat / bayalinusumdyaga / lanbesilene malahekat / lonata andetmikani // akeh yaglihe ang ngrengres / rabine latanah uri / kakuatine ngabdulah / pongamatur ing yang wildi / tumenga ing ngawang ngawang / cloratubit nabi ngisa aglis // ngabdulah puarrimatur / luh kamipun dileng nabi / rabiku nalatan ngucap / tuwandongak nayang wili / inggih saget mamisara / inggih kamongsring ngiuni // leng nabi ngandikanipun / rabimu iku pusmati / sira kadhinan panggah yan / kaya upamene ngimpi / teka sira pati praksa / kaya urinelukbing ngin // ngabdulah tuseng ngeluhur / anmalih matur ya widli / ya (foto 443, hal 233) sayla kang sipatraman / lagtasurunja barablil / matur marang nabi ngisa / ya nabi dra lah sadhekti // andikanipun yang ngagung / satur rungok drari / ngumure mansapantelas / yen tutumun larsa klenruni / inggih ngumurekang lanang / menpunkakahaken sepalih // inggih dhateng rabanipun / supados disa anglisi / ang ngendika nabi ngisa / keh ya tuwan bingisa / ngumure ngabdulah nlani / keri pria ingkang teksih // wongkal barabitdur kawil boten umuni / nabi malih angendika / yen mekaten dika bali / matur mring saylah tong ngayla / gyamentar labarabil // kalimat molah pasinung / ngandikan ing yang mindi / gyabali sri nabi ngisa / aturi ralabrabil / sampun nabi yolah ngis / andamaturi yang mildi // amung kandun seketaun / ngumure ngabdulah inggih / tapas tantun lamun saka / amung ngumure semalih / lentari ngabdulah suka / aweh umure semelih//

2 November 2011

Candi Plaosan sebagai Warisan Budaya Indonesia

Komplek Candi Plaosan sebagai Warisan Budaya Nasional
Oleh Rara Indah Nova Nindyah, 1006764750

A.    Nama Situs                
Candi Plaosan

B.     Provinsi
Jawa Tengah
C.    Lokasi Geografis
Percandian Plaosan merupakan satu komplek percandian yang terletak di Dukuh Plaosan, Desa Bugisan, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten, Provinsi Jawa Tengah, Indonesia. Candi ini terletak kira-kira satu kilometer ke arah timur-laut dari Candi Prambanan. Secara astronomis percandian Plaosan terletak pada titik ordinat 7° 44'32 Lintang Selatan dan 110 ° 30'11,07 Bujur Timur. Candi Plaosan ini sangat unik dan menarik karena terbagi dari dua bagian yaitu Candi Plaosan Lor dan Candi Plaosan Kidul sehingga sering disebut candi kembar.
D.    Deskripsi Situs

Candi Plaosan merupakan sebuah komplek percandian yang sangat luas. Candi Plaosan merupakan candi bercorak Budha yang dibangun pada abad ke-9 M, saat pada masa kerajaan Mataram Kuna.
Komplek percandian ini dibangun oleh pasangan raja dan permaisurinya yang bernama Rakai Pikatan dengan Pramudya Wardhani. Menurut salah satu sumber, Rakai Pikatan adalah seorang raja keturunan dari Wangsa Sanjaya pada masa kerajaan Mataram Kuno yang beragama Hindu. Sedangkan Pramudya Wardhani adalah keturunan dari Wangsa Sailendra yang merupakan keturunan kerajaan beragama Budha.
Pada data sejarah yang tertulis menurut salah satu sumber, bahwa candi Plaosan merupakan bukti cinta Rakai Pikatan kepada Pramudya Wardhani. Sebab pada waktu itu, telah diketahui bahwa pernikahan antara Rakai Pikatan dengan Pramudya Wardhani tidak disetujui oleh masing-masing keluarga besar (wangsa). Keduanya memang sama-sama berasal dari dua kerajaan yang pernah berjaya di Jawa akan tetapi berbeda prinsip, budaya, dan agama. Meskipun adanya pertentangan, keduanya tetap memutuskan untuk menikah. Maka dibangunlah candi Plaosan sebagai bentuk simbol keabadian cinta mereka. Konon, candi Candi Plaosan dibuat sendiri oleh Rakai Pikatan dengan permasurinya, Pramudya Wardhani.
Candi Plaosan terletak di Letak Candi Plaosan Lor berada di Dukuh Plaosan, Desa Bugisan, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten, Provinsi Jawa Tengah. Candi ini berada 1,5 kilometer di timur Candi Sewu tidak jauh dari Candi Prambanan sekitar 3 kilometer di timur laut dan 1,5 kilometer ke arah utara jalan raya Yogyakarta – Solo.
Candi Plaosan itu terdiri atas candi Plaosan Lor dan candi Plaosan Kidul. Candi Plaosan juga dikenal dengan sebutan candi kembar. Dikatakan candi kembar karena kedua candi tersebut memiliki bentuk dan ukuran yang sama. Candi kembar ini berada dalam halaman berukuran 300 x 476,50 m2, tetapi terpisah oleh jalan desa. Menurut sebuah sumber berpendapat bahwa sekilas bangunan candi Plaosan mirip dengan Candi Prambanan, hanya saja ukuran Candi Plaosan lebih kecil. Kemiripan tadi disebabkan karena kedua candi tersebut sama-sama bercorak Budha.
1.      Candi Plaosan Lor
Candi Plaosan Lor, sesuai dengan namanya tentunya letaknya ada di sebelah utara dengan komplek halaman yang amat luas. Pada pintu masuk candi Plaosan Lor terdapat dua patung penjaga atau arca. Pada candi Plaosan Lor banyak terdapat relief-relief yang menggambarkan tokoh wanita. Seperti pada sejarahnya, bahwa candi Plaosan Lor ini dibuat oleh tangan Rakai Pikatan sendiri. Percandian dengan 176 candi ini terdiri atas 2 candi induk, 58 candi perwara, dan 116 stupa perwara. Candi Plaosan Lor memiliki dua candi induk yang berdiri di halaman utama sejajar utara selatan. Halaman utamanya berbentuk persegi panjang dengan luas 137,50x40m2. Di halaman tengah mengelilingi candi kembar berdiri 58 candi perwara dan 126 stupa perwara. Terdiri atas tiga baris pada candi Plaosan Lor, yaitu pada baris I terdapat 50 candi perwara; sementara baris II terdapat 54 stupa dan 4 candi perwara; sedangkan baris III ada 72 stupa perwara dan 4 candi perwara.
2.      Candi Plaosan Kidul

Di sebelah selatan, terdapat satu candi induk lagi yang bernama candi Plaosan Kidul. Jika candi Plaosan Lor menggambarkan tokoh wanita, maka candi Plaosan Kidul menggambarkan tokoh pria, dan konon dibangun sendiri oleh Pramudya Wardhani. Di dalam halaman utama, susunan candi Plaosan Kidul menyerupai papan catur terdiri atas 81 kotak dengan 69 stupa. Candi induk berada di tengah dikelilingi 16 candi perwara dalam 2 baris di sisi depan, dan 69 stupa perwara dalam 3 baris mengitari candi induk. Sama seperti candi Plaosan Kidul, terdapa 3 baris yang berdirikan candi-candi. Pada baris I terdapat 15 stupa, pada baris II sebanyak 23 stupa, dan baris III terdapat 3 stupa. Pada percandian Plaosan Kidul yang tersisa hanya sejumlah arca Bodhisatwa dan Tara.
Di dalam candi Plaosan terdapat relief-relief dan prasasti-prasasti dengan tulisan Jawa Kuna. Dari relief maupun prasasti tersebut penggambaran tentang sejarah pada masa candi Plaosan dibangun dapat terbaca dan diketahui oleh masyarakat. Dari segi arsitektural, bentuk Candi Plaosan Lor dengan Candi Plaosan Kidul serupa. Stupa-stupa yang tingginya 7,00 memiliki bentuk genta yang unik karena menyempit di dekat kaki stupa.
Pada sejumlah batu stupa dan candi perwara terdapat inskripsi pendek:
ü  ‘Anumoda Sang Sirikan pu Surya’ (hadiah dari Sirikan-pejabat tinggi-pu Surya)
ü  ‘dharma Cri Maharaja (wakaf Sang Maharaja-ialah Rakai Pikatan)
ü  ‘Anumoda Cri Kahulunan (hadiah Sri Baginda Putri)
Menurut salah satu sumber di internet mengenai keadaan di komplek percandian Plaosan ini cukup memprihatinkan. Banyak sekali candi perwara yang runtuh berhamburan dan hanya terdapat beberapa candi perwara yang masih berdiri kokoh. Rupanya candi Plaosan cukup kurang mendapatkan perhatian pemerintah untuk segera dilakukannya pemugaran. Nampaknya banyak sekali candi-candi di Jawa Tengah yang kurang mendapatkan perhatian lebih dari pihak yang berwenang, salah satunya adalah candi Plaosan yang jika dengan segera dilakukan pemugaran, tentunya akan mendatangkan banyak sorot perhatian dari masyarakat. Memang, jika dibandingkan dengan candi Prambanan yang jauh lebih terkenal lebih dulu, candi Plaosan tentu belum mendapatkan ‘tempat’ di hati masyarakat.  Kondisi candi Plaosan yang sangat memprihatinkan juga dilihat dari sedikitnya pengunjung yang datang ke sana. Dalam sehari, pengunjung yang datang tidak mencapai ratusan seperti di candi Prambanan. Terkadang hanya puluhan bahkan belasan. Beberapa bagian di percandian Plaosan memang sudah mengalami pemugaran. Namun, dibutuhkan perawatan dan perhatian yang lebih agar komplek percandian ini tidak rusak lebih parah lagi dan hancur tak tertolong. Maka, satu dari sekian warisan budaya akan menjadi korban.


E.     Penilaian Situs sebagai Warisan Budaya Nasional

Candi Plaosan nampaknya mampu diajukan sebagai warisan budaya tingkat nasional karena memiliki beberapa kriteria, yaitu antara lain:

1.      Candi Plaosan Memiliki Karya Keunggulan Kreatif Manusia

Candi Plaosan dikatakan sebagai suatu karya keunggulan kreatif manusia yaitu karena candi ini dibangun sendiri oleh Rakai Pikatan dan permaisurinya, Pramudya Wardhani. Jika melihat kondisi pada jamannya, saat itu keadaan sekitar penuh dengan penentangan dari kedua belah pihak keluarga masing-masing terhadap pernikahan antara Rakai Pikatan yang keturunan wangsa Sanjaya dan Pramudya Wardhani keturunan wangsa Sailendra, yang pada dasarnya memiliki perbedaan latar belakang budaya, yaitu Hindu dan Budha. Bisa dibayangkan, dalam kondisi yang tidak memungkinkan seperti itu, kedua anak manusia ini tetap pada pendirian mereka untuk tetap menikah dan membangun candi tersebut sebagai simbol keabadian cinta mereka.




2.      Gambaran Perkembangan Seni Arsitektural dan Teknologi pada pembangan Candi Plaosan
Sebelum adanya ajaran Hindu-Budha di Indonesia, masyarakat Indonesia telah memiliki budaya yang cukup tinggi. Dengan masuknya pengaruh Hindu-Budha di Indonesia, rupanya semakin memperkaya masyarakat Indonesia dalam perkembangan teknologi dan seni arsitektural. Perpaduan antara pengetahuan dan teknologi dari India dengan Indonesia terlihat pula pada pembuatan dan pendirian bangunan candi baik candi dari agama Hindu maupun Budha. Bangunan candi merupakan hasil karya ahli-ahli bangunan agama Hindu-Budha yang memiliki nilai budaya yang sangat tinggi. Selain itu terlihat dalam penulisan prasasti-prasastri pada batu-batu besar yang membutuhkan keahlian, pengetahuan, dan teknik penulisan yang tinggi. Pengetahuan dan perkenalan teknologi yang tinggi dilakukan secara turun-temurun dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
Seni bangunan tampak pada bangunan candi sebagai wujud percampuran antara seni aslibangsa Indonesia dengan seni Hindu-Budha. Candi merupakan bentuk perwujudan akulturasibudaya bangsa Indonesia dengan India. Candi merupakan hasil bangunan zaman megalitikum yaitu bangunan punden berundak-undak yang mendapat pengaruh Hindu Budha. Candi-candi di Indonesia kebanyakan mengadaptasi struktur berundak yang sudah menjadi tradisi nenek moyang sejak zaman prasejarah. Beberapa candi yang dibangun di masa kerajaan Hindu dan Budha juga masih mengadaptasi struktur berundak. Penemuan adanya pagar di sekeliling Candi Plaosan juga mengindikasikan bahwa bangunan candi bersebut juga mengadaptasi struktur berundak.


3.      Keunikan yang Menjadi Satu Bukti yang Luar Biasa dari Tradisi Budaya atau peradaban pada Candi Plaosan

Satu hal yang unik yang ada pada candi Plaosan yaitu ditemukan sebuah sumber mengatakan bahwa pembangunan candi Plaosan mengalami perpaduan antara budaya Hindu dan Budha, padahal candi Plaosan sendiri bercorak Budha. Hal ini dibuktikan karena adanya penggabungan budaya Hindu dan Budha atas pernikahan Rakai Pikatan dengan Pramudya Wardhani.
 Pada versi lain, sebuah sumber juga mengatakan tentang hal yang unik dan tidak biasa ditemukan di candi-candi pada umumnya, ternyata hanya ada pada candi Plaosan, yaitu permukaan terasnya yang halus. Teras ini berbeda dengan teras candi yang lain yang dibangun pada masa yang sama. Menurut sumber, teras yang halus tersebut kemungkinan berfungsi sebagai wihara atau tempat suci untuk berdoa.
Selain kedua hal unik di atas, pada salah sebuah artikel menjelaskan tentang akan adanya rencana perluasan lahan percandian Plaosan dengan menonjolkan candi perwara yang dimiliki. Lain halnya dengan candi Prambanan yang justru menonjolkan pada tiga candi induk saja yang ukurannya jauh lebih besar.

4.      Candi Plaosan menggambarkan jenis bangunan atau arsitektur yang menonjol

Mengingat sejarah pembangunan candi Plaosan yang dibuat sendiri oleh tangan Rakai Pikatan dan Pramudya Wardhani, hal ini dapat dihubungkan dengan salah satu kriteria bangunan yang menonjol pada candi tersebut dengan menggambarkan tahap-tahap penting dari sejarah manusia. Candi Plaosan Lor dibangun dengan menggambarkan sosok wanita, sedangkan candi Plaosan Kidul menggambarkan sosok pria. Hal ini dibuktikan dengan adanya relief-relief yang menjelaskan dan memperlihatkan sosok pria-wanita tersebut. Selain relief-relief tersebut, terdapat juga prasasti-prasasti yang menceritakan sejarah dibangunnya percandian Plaosan tersebut sebagai simbol keabadian cinta Rakai Pikatan dan Pramudya Wardhani.

5.      Penggunaan Lahan di sekitar bangunan Candi Plaosan sebagai Kesan Menonjol dari Pemukiman Tradisional Manusia

Percandian Plaosan dibangun di atas halaman yang sangat luas. Di sekelilingnya terdapat perkebunan seperti kebun jagung, persawahan dan kebun tembakau yang menambah suasana di sekitar komplek percandian menjadi semakin asri, sejuk, tenang dan nyaman. Selain itu, terdapat pula parit atau saluran air yang mengelilingi candi. Menurut juru kunci yang ada di candi Plaosan mengatakan bahwa fungsi dari saluran air agar air tanah dimanfaatkan untuk membuat tanah di sekitar menjadi padat. Selain itu, pemerintah juga sedang melakukan penggalian dan jika akan benar-benar digali semua maka rumah-rumah penduduk akan terkena imbasnya. Penggalian ini dimaksudkan untuk mencari keseluruhan dari bagian komplek percandian plaosan.

6.      Kepercayaan Akan Peristiwa dan Tradisi yang Masih Hidup di Candi Plaosan.

Candi Plaosan merupakan candi yang dipercaya oleh masyarakat sekitar dapat memberikan momongan bagi pasangan suami istri yang sudah alam menikah tetapi belum juga dikaruniai anak. Akan tetapi, hal itu perlu diadakan ritual-ritual tertentu yang sudah ditetapkan. Seperti hari-hari yang sudah ditetapkan untuk melakukan ritula-ritual tersebut, yaitu hari kamis kliwon dan malam kliwon sebanyak tiga kali.
Kepercayaan tersebut di latar belakangi oleh sejarah pembuatan candi Plaosan dan ikatan cinta antara Rakai Pikatan dengan Pramudya Wardhani yang begitu kuat sehingga banyak sekali pasangan-pasangan yang mempercayai bahwa hal tersebut memiliki ‘power’ dapat mengabulkan permohonan agar diberikan momongan maupun dilancarkan urusan asmaranya. Dan sudah cukup banyak buktinya bahwa kepercayaan tersebut memang ada hasil dan kebenaranannya, terlepas dari apakah hal itu hanya sebagai pembangun sugesti saja atau memang memiliki ‘power’ tersendiri.
Kawasan Candi Plaosan termasuk kawasan yang terdapat banyak kegiatan-kegiatan sosial kemasyarakatan yang secara rutin di lakukan di sana. Kegiatan sosial masyarakat tersebut dalam bidang seni seperti :
·         Seni musik : Karawitan, Keroncong, Laras Madya, Samroh, Kulintang, Waranggono, dan Macopat. Di Kawasan candi Plaosan cukup dikenal musik tradisional dari bambu ( Musik Bambu Pring Sedapur ) yang pernah ditampilkan di Jepang.
·         Seni tari : jenis tarian tradisional yang merupakan ciri khas dan sering dimainkan oleh penduduk setempat adalah jatilan, yaitu tarian keprajuritan yang menggambarkan perang saudara antara Demak dan Pengging.
·         Seni teater : Ketoprak, Wayang Orang, Srundul, Sruntul, dan juga Pedalangan Purwa.
·         Dongen tradisional : cents Bandung Bondowasa, cents rakyat terjadinya Desa Taji, terjadinya Desa Kongklangan, dan terjadinya Desa Pandansimping.
Selain itu, ada pula upacara-upacara adat yang sering dilakukan di kawasan Candi Plaosan, yaitu  dalam Upacara Keagamaan di kawasan sekitar candi Plaosan masih melakukan kegiatan religius seperti pengajian, tahblan, wayangan dsb secara rutin.
F.     Perbandingan dengan Situs Lain

Candi-candi yang tersebar di Indonesia sangat banyak sekali. Apalagi Candi Plaosan yang berdiri di kawasan percandian di Jawa Tengah. Hal itu tentu akan menimbulkan banyak perbandingan khususnya untuk bangunan candi di Jawa tengah dan di Jawa Timur. Dari segi arsitektur, sekilas bangunan candi bentuknya mirip satu sama lain. Tetapi jika diteliti, tentu tiap-tiap candi memiliki ciri dan karateristik tersendiri.
Bagian dalam candi yang paling berpengaruh untuk sebagai perbandingan, dapat dilihat melalui relief-relief yang ada di candi-candi tersebut. Relief-relief yang ada pada candi di Jawa Tengah memiliki banyak perbedaan dengan candi di Jawa Timur. Misalnya yaitu seperti Candi di Jawa Tengah umurnya lebih tua dibandingkan dengan candi di Jawa Timur. Hal inilah yang juga menjadi salah satu alasan mengapa candi Plaosan terpilih untuk diajukan sebagai warisan budaya nasional. Selain umur berdirinya yang jauh lebih tua, masih banyak keistimewaan-keistimewaan lainnya yang dimiliki candi Plaosan.
Dari segi arsitektural, candi Plaosan memiliki ciri dengan berdirinya dua buah candi yaitu Plaosan Lor dan Plaosan Kidul. Kedua candi induk tersebut juga memiliki simbol sebagai candi ‘pria’ dan candi ‘wanita’ dan dalam sejarahnya dibangun sebagai tanda bukti cinta si pembuat kepada pasangannya. Sedangkan candi-candi lain, contohnya candi Sewu, meskipun faktanya pada sebuah sumber dikatakan candi terbesar kedua setelah candi Borobudur karena jumlah candi perwaranya yang mencapai 240 sehingga kelihatan begitu besar, tidak menjamin bahwa candi Sewu mendapatkan perhatian sebesar terhadap candi Borobudur yang memang sudah terkenal lebih dahulu. Candi Sewu memang memiliki keunikan bahwa berdiri di dekat candi bercorak Hindu yaitu candi Prambanan. Tetapi Candi Plaosan yang bercorak Budha, justru memiliki latar belakang bahwa candi ini dibangun karena penggabungan budaya antara Hindu dan Budha. Hal itu jelas lebih menarik dibandingkan Candi Sewu.
Dan sudah dijelaskan pada deskripsi situs mengenai permukaan teras candi Plaosan yang halus dan jarang ditemui di candi-candi lain yang sama-sama dibangun pada masa itu. Sedangkan kondisi candi Plaosan memang sudah mengalami kerusakan dan telah dilakukan pemugaran. Namun jika dibandingkan dengan situs-situs lain yang sepertinya ada yang jauh lebih parah kerusakannya dari candi Plaosan, yaitu candi Bobroh. Oleh karena itu, ada kiranya jika candi Plaosan memang sudah seharusnya mendapatkan pusat perhatian dari masyarakat dan pemerinta untuk dijadikan warisan budaya nasional, agar kelestariannya yang belum sempat hancur seluruhnya masih dapat dicegah dan diperbaiki.

G.    Alasan Pengajuan dan Relevansi
Mengenai alasan saya dalam mengajukan candi Plaosan menjadi warisan budaya nasional, sedikit bagian sudah saya terangkan di subbab sebelumnya. Candi Borobudur, memang candi terbesar yang telah mendapatkan perhatian masyarakat luas. Sedangkan candi Plaosan hanya sebuah candi yang mungkin tidak dikatahui oleh banyak orang bahwa candi peninggalan kerajaan Mataram Kuna itu ada di daerah Klaten, Jawa Tengah. Hal ini mungkin dikarenakan kurangnya usaha dalam mempromosikan situs budaya ini kepada masyarakat. Seperti halnya yang pernah saya baca dalam sebuah sumber, bahwa Candi Plaosan masih jarang bahkan mungkin memang tidak pernah sama sekali masuk ke dalam paket wisata liburan atau kunjungan ke situ-situs di Jawa Tengah. Biasanya paketan wisata tersebut hanya ke Candi Prambanan, Candi Borobudur, Candi Dieng yang paling sering.
Sangat disayangkan sebenarnya jika sampai keindahan candi Plaosan yang berdiri di tengah halaman luas dengan sekeliling hamparan sawah dan perkebunan jagung juga tembakau, harus tidak diketahui oleh masyarakat. Dari segi arsitektur, candi Plaosan memiliki ciri dengan kedua candi kembarnya. Dari segi kepercayaan, terdapat ritual-ritual dan kepercayaan tentang mendapatkan momongan bagia para pasangan yang belum dikaruniai anak juga kelancaran akan hubungan asmara akibat dari sejarah dibangunnya candi kembar ini adalah sebagai bukti kekuatan cinta Rakai Pikatan dan Pramudya Wardhani yang begitu kuat. Dari kegiatan-kegiatan sosial yang rutin dilakukan di kawasan percandian, tentu akan mendatangkan keuntungan tersendiri jika promosi candi Plaosan dengan berbagai macam segelintir kegiatan sosial yang mencakup unsur kebudayaan yang jarang bisa ditemui di daerah perkotaan.
Selain itu, mengapa candi Plaosan yang terpilih sebagai calon warisan budaya nasional karena candi kembar ini membutuhkan pemugaran dan pelestarian lebih lainjut agar keruntuhan-keruntuhan candi tidak terjadi terus menerus meski dalam waktu tempo yang tidak begitu beriringan antara keruntuhan yang satu dan yang lainnya. Saya yakin, apabila pemugaran terhadap candi Plaosan dilakukan dengan serius, kemudian perkenalan terhadap candi kembar ini dilakukan secara intensif kepada masyarakat dengan cara paket wisata maupun sebagai situs edukasi, pasti candi Plaosan mendapatkan perhatian lebih di hati masyarakat luas. Mengingat biaya masuk ke candi kembar ini juga sangat murah, sebaiknya memang harus dilakukan berbagai cara agar candi Plaosan mengalami bertambahnya pengunjung dan dapat terpelihara dengan lebih baik. Maka satu lagi situs kebudayaan nasional dapat dipertahankan sehingga mampu menjadi warisan budaya nasional.



DAFTAR PUSTAKA
BUKU:
Soeroto, Myrtha. 2009. Album Arsitektur Candi-Cagar Budaya Klasik Hindu Budha. Myrtle Publishing

Internet: