Hai, kamu yang ada di hatiku. Terima kasih ya sudah bertahan berada di sampingku, kala aku butuh sandaran. Terima kasih juga sudah selalu ada di belakangku, kala aku nyaris putus asa dan butuh penyemangat.
Hai, kamu yang ada di hatiku. Jangan pernah bosan ya mengirimiku pesan "selamat pagi" di setiap harimu membuka mata. Jangan pernah lelah juga ya untuk aku mintai pendapat di setiap semua kegelisahanku. Maaf, aku nggak jago mikir sepertimu. Hehe
Hai, kamu yang ada di hatiku. Teruslah berada di sana, menjaga dan menebarkan bunga-bunga cinta, pemegang kunci pintu hatiku yang utama. Jangan pernah biarkan, aku yang memegang kunci pintu hatiku sendiri. Aku ingin kamu yang menjaganya, menjagaku, menjaga hari-hari kita.
Hai, kamu yang ada di hatiku. Hanya kamu yang aku mau. Hanya kamu yang aku harap. Dan hanya kamu yang selalu ada dalam benak, angan-anganku di masa depan.
Hai, kamu yang ada di hatiku. Aku selalu berharap kita akan bisa melewati setiap tanggal satu yang ada, bersama-sama. Hingga tanggal satu tak lagi pernah ada. Mungkinkah? Semoga Tuhan selalu mendengar doa-doaku untuk kita, yang terbaik untuk kita.
Hai, kamu yang ada di hatiku. Aku menunggumu memintaku tuk bersanding di sebelahmu, selamanya. :)
28 Februari 2015
7 Februari 2015
Reuni SMP
![]() |
| My Best <3 |
Jujur, awalnya males banget mau ikutan reuni. Soalnya udah lama banget gak ketemu sama temen-temen SMP dan mungkin (memang iya) udah lupa sama nama-namanya. Belum lagi karena jarak tidak bertemu yang terlalu lama, pasti bikin obrolan juga agak-agak nggak nyambung satu sama lain. But, bukankah fungsi reuni adalah untuk mempertemukan jarak yang sudah lama tidak mempertemukan kami satu sama lain? menceritakan segala hal yang telah dilalui masing-masing satu sama lain? saling berbagi info tentang kesibukan dan kesuksesan masing-masing? dan... menyambung kembali tali silahturahmi seperti mengingatkan kembali nama teman-teman yang memang sudah lupa :)
Akhirnya, gue putuskan untuk ikutan reuni setelah berpikir panjang. Dengan niat itu juga akhirnya mulai nyicil nyiapin dresscode untuk dipake ke acara reuni. Bonusnya, bisa berangkat bareng sama sahabat: Anis dan Ayu. Jam 7 kurang, kita meluncur bertiga ke Matoa, lokasi reuninya. Begitu sampe sana, bener aja, udah ada beberapa orang yang datang dengan pakaian serba hitam-putih (gue juga pake baju warna itu sih) ngumpul di depan meja registrasi. Sialnya, gue nggak inget ada siapa aja di sana! Hahaha.
Satu persatu saling nyapa. Ah, yang nyapa taunya temen SD gue, hahaha. Jelas aja gue masih inget hihihi. Begitu ketemu sama teman-temen yang lain... ahhhhh ini siapa ya namanya? yaudahlah nanya aja deh hihihi sambil cipika cipiki sama temen-temen cewek. Untuk beberapa temen cowok, gue nggak nyapa secara langsung KARENA malu aja sih, nggak enakan haha. Mereka juga lagi ngumpul sesama cowok gitu sih, kan aku malu~ *apasih
Acara pun dimulai dengan perkenalan (lagi, kayak macem ospek aja ya!). Tapi perkenalan itu penting untuk saling inget ini nanya siapa, dulu kelas berapa, dan sekarang lagi sibuk apa. Seneng banget bisa inget satu per satu nama-namanya (meski abis itu lupa lagi, untung ada nametag! hahaha). Mulai deh keingetan lagi jaman dulu dia itu yang ini loh,,, dia itu yang dulu di kelas ini loh... bla-bla bla. Kalo bagian perkenalan kaya gini tuh, gue paling nggak pedean. Kenapa? Karena suara gue cempreng dan aneh aja denger suara sendiri kalo pake mic. wkwk! Tibalah giliran gue.
Semua mata pun tertuju pada gue. Ah! deg-degan! Haha. Gue perkenalkan diri, dulu ada di kelas berapa, dan lagi sibuk apa sekarang. Seneng juga akhirnya bisa ngomong di depan temen-temen lama. Apalagi pas gue bilang lagi persiapan buku kedua, ternyata beberapa dari mereka udah tau kalau gue punya buku. Seneeeeeng, jadi ngerasa keren di depan temen-temen. Setidaknya, gue yang dulu jaman SMP dikenal doyan nulis, sekarang berhasil bikin buku beneran hihihi alhamdulillah~ Jadilah ajang promosi buku secara singkat hahaha
Setelah selesai acara perkenalan, lanjut acara makan, games, musik, dorprize, tuker kado, dan foto-foto. Hei, apa sih yang paling menarik saat kalian ikutan reuni? Pasti pernah ngalamin dong? Kalo gue... haha, ya begitulah. Kayaknya gue nggak pernah berubah dari jaman SMP sejak gue mutusin dia. Iya dia, mantan gue.
Reuni, ajang ketemu temen lama ditambah bumbu nostalgia. Itu bagi mereka yang mau niat ikutan reuni dan ngobrol ke semua temen-temen lama. Kalo gue? Haha entahlah. Dari awal acara dimulai, gue duduk di bangku yang sama. Hanya pindah dan meninggalkan kursi saat ngambil makanan dan foto-foto. Padahal... mantan duduk di meja persis di belakang gue. Gue, dia, sedekat apapun kami, tetep nggak ada yang inisiatif maju duluan untuk saling sekadar bilang "Hai, apa kabar?". Ya, itulah kami. Ups, lebih tepatnya, itulah gue.
Putus setelah dua bulan pacaran pas SMA, membuat hubungan pertemanan kami berubah sejak hari itu. Padahal sebelum pacaran, kami akrab banget. Salah kayaknya kalau ada cinta di antara pertemanan. Ya beginilah hasilnya. Ya sudahlah... positif thinking aja, boleh kan? Gue berpikir, mungkin... kami sama-sama sudah dewasa dan... sungkan untuk saling menyapa. Apalagi dulu kami pernah ada apa-apa. Buat gue, masih bisa lihat dia sehat saja, itu sudah patut disyukuri. Masih lihat dia akrab dengan rokoknya, disenyumi saja dalam hati. Doakan terus supaya suatu hari bisa berhenti merokok. Apapun, doakan saja yang terbaik.
Jika semalam gue lihat dia dengan dandanan yang yah... seperti itulah, cukup tau saja. Mungkin memang style-nya seperti itu. Mungkin juga karena sampai sekarang dia masih jomblo, jadinya nggak ada yang ngurusin rambutnya yang nggak beraturan, atau pilihan bajunya yang kurang pas. Pokoknya kalau dia punya pacar, dipastikan tampilannya nggak akan seperti semalam. Semoga... lima tahun lagi saat ada reuni lagi, tampilannya sudah lebih berwibawa dan bersanding di sebelah pendamping hidupnya :)) Amin.
Jeleknya nggak saling sapa, yaa.. reuninya kayak nggak berfungsi sih jadinya. Tapi bagusnya... gue nggak perlu mengabadikan momen pertemuan kami di photo booth, ya kan? :D Meskipun dulu jaman perpisahan SMP, gue kepengen banget foto bareng doi. Tapi ya sudahlah. Biarlah kisah kami menjadi masa lalu yang tak perlu dinostalgiakan kembali :")
![]() |
| Wajah-wajah calon ibu rumah tangga wkwk |
Serius deh. Kita bertiga jaraaaaaaaaaaaaang banget ketemu. Sekalinya ketemu, NGGAK PERNAH foto bertiga. Keterlaluan banget loh itu namanya. Hahaha. Tapi gue sayang sama mereka. Well, makasih banget untuk panitia yang udah buatin acara REUNI SATAS ini. Gue jadi bisa foto bareng sama sahabat-sahabat gue. Makasiiiiiih banget! :D
Harapan gue kalo nanti ada reuni lagi: menu makan malamnya lebih enak dong dan lebih hangat hehehe. Plus games atau acaranya lebih kece lagi. Tapi secara keseluruhan, gue menikmati acara semalam. Makasih ya panitiaaaa: Rizka, Andre, Anggit, Ayom, Helmi, Nurdin, dll :D
![]() |
| Beruntung gue punya kalian berdua :') |
2 November 2014
Me, Navy Blue, and Jurnalis Idola
Nggak ngerti sejak kapan, aku mulai suka bahkan tergila-gila dengan warna biru navy. Rasanya adem dan cocok saja sama warna kulit. Lebih percaya diri kalau pakai baju atau sepatu atau apapun yang berwarna biru navy atau biru dongker ini. Nggak nyangka, hampir semua baju, sepatu, dan beberapa stuff lainnya di rumah warnanya biru navy hehehe.
Warna favorit kalian apa? ;)
Cheers,
Rara.
-----------------------------------------
Photo taken by @rramadhani
Location at Kebun Binatang Ragunan Jakarta
Outfit by own collection
46 Months(sarry)
Wah, sudah lama nggak curhat di blog. Sekalinya curhat, nulis tentang hubungan aku sama Rizky sudah 46 bulan. Weleh-weleh... kata Rizky, "Banyak sekali bulannya. Itu bulan, atau sekolahan?". Hmmm, mentang-mentang alumni SMA 46 jadi gitu deh hehe.
Alhamdulillah, tanggal 1 November kemarin adalah hari yang paling membahagiakan buat aku. Kenapa? Karena tanggal itu adalah hari di mana aku sama Rizky genap 46 bulan, tanggal itu juga merupakan awal dimulainya bulan November. Bulan kelahiranku... Iya, sebentar lagi aku ulang tahun. Hahaha!
Kebetulan tanggal 1 bertepatan dengan hari Sabtu. Nggak ada perayaan apa-apa sih. Ngucapinnya juga tepat banget jam 12 malam soalnya kita berdua baru balik nonton konser di Pekan Budaya Jawa FIB UI. Hm, sebenernya lebih tepatnya abis nonton Rizky manggung bersama Sekar Sriwedari hehehe. *Ciye, pacarnya anak band. Violinis pula.*
Balik lagi ke hari Sabtu di tanggal 1. Aku memutuskan untuk minta izin sama bokap supaya bisa keluar rumah selepas Isya. Ya buat apa lagi kalau bukan untuk malam mingguan sama Rizky hehehe. Setelah lama nggak pernah malam mingguan, akhirnya awal bulan November ini kami melewatinya dengan malam mingguan. Ih, co cweet!
Nggak ke mana-mana kok. Nggak nonton... cuma mampir ke KFC, nemenin Rizky makan malem. Dan gue yang nggak lapar akhirnya menikmati cream soup KFC kesukaan gue. Memang jauh dari kata romantis seperti kebanyakan orang sih... Yaelah, masa harus pake lilin-lilin gitu sih. Nggak perlu juga deh kayaknya haha. Romantis itu kan gak harus diukur dengan candle light dinner. But, suatu hari pasti kami akan merasakannya juga, tapi nggak sekarang. Mepet bro waktunya. Jam 9 udah harus pulang ke rumah wkwk
Hal yang paling menyebalkan saat malam mingguan tanggal 1 itu ada 2. Pertama, Rizky cerita katanya waktu abis manggung di Bulungan bulan lalu itu, ada cewek yang pengen kenalan gitu sama dia. Tapi nggak jadi gara-gara salah seorang temen satu band-nya bilang kalau Rizky udah punya cewek. Hmmm, gue masih kepikiran sampe sekarang kenapa itu cewek nggak jadi kenalan sama Rizky ya? Harusnya sih kalau memang niatnya pengen kenalan aja yaaa kenalan aja kali meski tau Rizky-nya udah punya cewek. Kenapa harus nggak jadi gitu? Berarti ketauan kan kalo niatnya udah kejauhan? Maaf ya Mbak, Rizky-nya punya saya! Hehehehe
Kedua adalah... hmm, agak males sebenernya mau cerita. Tapi ini paling menyebalkan! Di hari yang paling menyenangkan itu karena bisa malam mingguan harus rusak gara-gara aku mulessssss T,T hiks. Entahlah kenapa tiba-tiba mules-mules. Masuk angin kali ya gue? Ya ampun... sedih banget gak sih? Huhuhu.
Tapi nggak apa-apa lah. Terpenting adalah kali ini aku bisa melewati tanggal 1 bareng Rizky tanpa bete-betean seperti tanggal 1 Oktober kemarin hehehe. Seru, menyenangkan lah walau singkat. Harapannya gak muluk-muluk, semoga jalan masih akan panjang untuk kami berdua. Itu saja. Karena... dua bulan lagi kami genap 4 tahun bersama. Aduh... mules kalo inget udah selama itu hahaha merinding... semoga sih, nggak kelamaan pacarannya. Semoga rejekinya buat segera nikah bisa terlaksana *alah-alah, masih pagi udah ngomongin nikah wkwk* yaaa namanya juga berdoa. Hehehe
Intinya semoga kami berdua sehat terus, rejekinya ngalir terus, dan Allah selalu merestui perjalanan yang nggak singkat ini. Amin. Rasanya makin hari makin gak pengen jauh-jauh. Hehehe. Terima kasih ya Rizky, sudah mau bercapek-capek dan berbahagia bersama selama 46 bulan ini :)) Sayang kamu :*
Alhamdulillah, tanggal 1 November kemarin adalah hari yang paling membahagiakan buat aku. Kenapa? Karena tanggal itu adalah hari di mana aku sama Rizky genap 46 bulan, tanggal itu juga merupakan awal dimulainya bulan November. Bulan kelahiranku... Iya, sebentar lagi aku ulang tahun. Hahaha!
Kebetulan tanggal 1 bertepatan dengan hari Sabtu. Nggak ada perayaan apa-apa sih. Ngucapinnya juga tepat banget jam 12 malam soalnya kita berdua baru balik nonton konser di Pekan Budaya Jawa FIB UI. Hm, sebenernya lebih tepatnya abis nonton Rizky manggung bersama Sekar Sriwedari hehehe. *Ciye, pacarnya anak band. Violinis pula.*
Balik lagi ke hari Sabtu di tanggal 1. Aku memutuskan untuk minta izin sama bokap supaya bisa keluar rumah selepas Isya. Ya buat apa lagi kalau bukan untuk malam mingguan sama Rizky hehehe. Setelah lama nggak pernah malam mingguan, akhirnya awal bulan November ini kami melewatinya dengan malam mingguan. Ih, co cweet!
Nggak ke mana-mana kok. Nggak nonton... cuma mampir ke KFC, nemenin Rizky makan malem. Dan gue yang nggak lapar akhirnya menikmati cream soup KFC kesukaan gue. Memang jauh dari kata romantis seperti kebanyakan orang sih... Yaelah, masa harus pake lilin-lilin gitu sih. Nggak perlu juga deh kayaknya haha. Romantis itu kan gak harus diukur dengan candle light dinner. But, suatu hari pasti kami akan merasakannya juga, tapi nggak sekarang. Mepet bro waktunya. Jam 9 udah harus pulang ke rumah wkwk
Hal yang paling menyebalkan saat malam mingguan tanggal 1 itu ada 2. Pertama, Rizky cerita katanya waktu abis manggung di Bulungan bulan lalu itu, ada cewek yang pengen kenalan gitu sama dia. Tapi nggak jadi gara-gara salah seorang temen satu band-nya bilang kalau Rizky udah punya cewek. Hmmm, gue masih kepikiran sampe sekarang kenapa itu cewek nggak jadi kenalan sama Rizky ya? Harusnya sih kalau memang niatnya pengen kenalan aja yaaa kenalan aja kali meski tau Rizky-nya udah punya cewek. Kenapa harus nggak jadi gitu? Berarti ketauan kan kalo niatnya udah kejauhan? Maaf ya Mbak, Rizky-nya punya saya! Hehehehe
Kedua adalah... hmm, agak males sebenernya mau cerita. Tapi ini paling menyebalkan! Di hari yang paling menyenangkan itu karena bisa malam mingguan harus rusak gara-gara aku mulessssss T,T hiks. Entahlah kenapa tiba-tiba mules-mules. Masuk angin kali ya gue? Ya ampun... sedih banget gak sih? Huhuhu.
Tapi nggak apa-apa lah. Terpenting adalah kali ini aku bisa melewati tanggal 1 bareng Rizky tanpa bete-betean seperti tanggal 1 Oktober kemarin hehehe. Seru, menyenangkan lah walau singkat. Harapannya gak muluk-muluk, semoga jalan masih akan panjang untuk kami berdua. Itu saja. Karena... dua bulan lagi kami genap 4 tahun bersama. Aduh... mules kalo inget udah selama itu hahaha merinding... semoga sih, nggak kelamaan pacarannya. Semoga rejekinya buat segera nikah bisa terlaksana *alah-alah, masih pagi udah ngomongin nikah wkwk* yaaa namanya juga berdoa. Hehehe
Intinya semoga kami berdua sehat terus, rejekinya ngalir terus, dan Allah selalu merestui perjalanan yang nggak singkat ini. Amin. Rasanya makin hari makin gak pengen jauh-jauh. Hehehe. Terima kasih ya Rizky, sudah mau bercapek-capek dan berbahagia bersama selama 46 bulan ini :)) Sayang kamu :*
6 Agustus 2014
Giveaway Novel Jurnalis Idola (DL: 10 Agustus)
Hai hai hai semua! Dalam
rangka peluncuran novel perdanaku yang berjudul “Jurnalis Idola” tanggal 18
Agustus 2014 nanti, aku mau bagi-bagi novel gratis melalui Giveaway Novel
Jurnalis Idola! Kan, lumayan dan asyik loh jika kamu bisa menjadi orang pertama
yang membaca novel Jurnalis Idola sebelum novelnya terbit di toko buku. :D
Caranya gampang banget! Ikuti
persyaratannya ya!
- Follow akun Twitter @wawawisky dan @Gramedia
- Ubah ava Twitter kamu dengan kaver novel Jurnalis Idola (bisa download dari ava @wawawisky atau foto yang ada di postingan ini)
- Mention jawabanmu dengan format: Jawaban_#JurnalisIdola @wawawisky @Gramedia (Maks. 4 tweet dan beri nomor 1-4 pada tweetmu)
- Mention teman-temanmu (sebanyak-banyaknya) untuk ikutan giveaway ini. Jangan lupa sertakan tagar #JurnalisIdola dan cc @wawawisky
Pertanyaan yang harus kamu
jawab adalah:
Jika kamu diberikan kesempatan
sehari bersama idolamu, apa saja yang akan kamu lakukan bersamanya?
(Jawaban
boleh serius, bercanda, konyol, lucu, bebasssss sesukamu!)
Akan dipilih 3 orang pemenang dengan
jawaban paling unik dan menarik. Ketiganya akan mendapatkan masing-masing 1 eksemplar novel Jurnalis Idola + tanda tangan asli
langsung dari penulisnya.
Giveaway berlangsung selama
tanggal 6 – 10 Agustus 2014, pukul 23.59 WIB.
Pengumuman pemenang tanggal 11
Agustus 2014, pukul 20.00 WIB.
So, tunggu apa lagi?! :D
31 Juli 2014
Cerpen: Jogja Itu Mimpi
Jogja itu mimpi.
Kau punya cita-cita? Tentu saja, semua orang pasti
memiliki cita-cita. Sebuah keinginan yang di dalamnya terselip harapan, usaha, dan
doa. Kau percaya cita-citamu akan terwujud? Jika ada keyakinan dalam hatimu,
apapun cita-citamu pasti jadi nyata.
Banyak orang bercita-cita ingin jadi ini, ingin
jadi itu. Cita-cita setiap orang memang berbeda. Seperti aku. Salah satu dari
cita-cita terbesarku adalah aku ingin ke Jogja. Salah satu kota dengan
keindahan yang khas, hanya di Indonesia.
Semuanya pun terasa tidak jelas saat aku memikirkan
sejak kapan cita-cita aneh ini muncul dalam otakku. Kemudian merambat ke
hatiku. Sehingga tekad itu ada, aku ingin ke sana, ke Jogja.
Mungkin semua alasan berawal dari sahabatku yang
akhirnya memutuskan untuk kuliah di kota pelajar itu. Bisa juga karena kakak
sepupuku yang akhirnya memiliki kekasih yang masih memiliki hubungan keluarga
dengan Kraton Jogja. Mungkin juga karena lingkungan pergaulanku di kampus, yang
nyatanya teman-temanku sudah pernah mencicipi nasi kucing khas angkringan
Jogja, mampir sekedar foto-foto di Taman Sari Jogja, atau keliling Jogja naik
TransJogja.
Angan-angan tentang Jogja semakin lama semakin
bergelut dalam pikiranku. Menggelisahkan tidur malamku. Setiap hari, rasanya aroma
Jogja begitu semerbak menjejal penciumanku. Wangi Malioboro.. Ahh.. Tahukah kau
bahwa setiap daerah itu memiliki aroma yang khas dan berbeda-beda? Kau tidak
percaya? Coba kunjungi satu daerah dan langkahkan kakimu dengan hati. Maka akan
kau hirup atmosfernya yang berbeda.
Dan, ini kisahku tentang Jogja. Tentang kota yang
paling kucinta, melebihi tanah kelahiranku sendiri.
-ooo-
“November nanti ada sekatenan
di Jogja. Gue mau ke sana. Ini tuh acara yang ‘WAH’ banget pastinya,” bukan
samar-samar lagi telingaku mendengar kalimat itu berbunyi. Salah seorang teman
sekelasku sedang asyik merencanakan liburannya kali ini. Diam-diam, aku
menguping. Nampaknya telingaku ini kelewat sensitif begitu mendengar orang
menyebut Jogja. Ahh.. Kota itu.
“Jadi, ada yang mau
ikut nggak? Kita pergi dengan paket miskin saja.” tambahnya lagi. Hem, ya,
paket miskin. Sebutan itu sudah menjadi ciri khas teman sekelasku itu. Namanya
Galuh, dari semester satu hingga semester tiga perkuliahan, hampir seluruh
kabupaten dari Jawa Barat hingga Jawa Timur sudah pernah ia singgahi.
Teman-teman seangkatan juga tahu bahwa dia memang backpacker sejati. Ditambah dengan paket miskinnya itu: pulang
pergi naik kereta ekonomi. Tak ada penginapan pun tak masalah, bisa tidur di
masjid katanya. Terkadang aku iri padanya. Kalau tak salah ingat, jika rencana
perjalanan ke Jogja ini berhasil, ini adalah kunjungan Galuh yang ketiga. Aku?
Sekalipun belum pernah.
Aku menghela napas
jika teringat cita-citaku ini belum tersampaikan. Bahkan, wisata ke Jogja sudah
kutulis dalam daftar resolusi tahun ini. Sebentar lagi sudah bulan November,
tetapi tanda-tanda akan pergi ke sana belum juga terendus. Apakah Jogja hanya
benar-benar mimpi semata?
“Hei, kok bengong?”
Rizky, pemuda bermata indah ini hampir setahun menjadi kekasihku. Sejak awal
pacaran, ia sudah tahu dengan cita-cita anehku ini. Terkadang ia memberiku
banyak solusi dan info-info penting jika ingin bepergian. Maklum, Rizky ini
hobinya hiking. Terakhir, ia berhasil
menaklukan gunung kembar Sindoro-Sumbing bersama sahabatnya saat liburan
semester genap dua bulan lalu.
“Nggak apa-apa. Aku
lagi nguping sebenarnya,” jawabku pelan.
“Nguping pembicaraan
mereka?” Rizky sudah tau rupanya. “Mau ikut? Ikut saja!” ia berusaha
menyemangatiku. Untuk kesekian kalinya, ragu-ragu itu datang menyelimutiku.
Aku tersenyum.
“Pengen sih... Tapi nggak diajak, hahaha!”
“Memangnya, kalaupun
mereka mengajak kamu, kamu pasti berangkat?” pertanyaan Rizky membuat senyumku
surut. Aku menunduk. Jantungku berdebar-debar jika mengingat masalah terbesar
yang menghambatku, mengapa sampai detik ini aku belum pernah ke Jogja.
Aku menghela napas
panjang. Masih diam belum menjawab pertanyaan Rizky. Sebab, aku pun juga tak
tahu jawabannya apa. Hanya Papa dan Mama yang tahu jawabannya. Ya, hanya
mereka.
-ooo-
“Coba ditanya lagi, Sa, siapa tahu kali ini diizinkan,” seru Asti. Dia
teman dekatku sejak awal masuk kuliah. Setidaknya, dia yang mengerti tentang
‘aku dan Jogja’ selain Rizky.
“Nggak mungkin, Asti.
Itu tuh mustahil kalau sampai gue diizinkan pergi ke Jogja,” jawabku gelisah.
“Nggak ada yang nggak
mungkin kok, Sa, kalau lo mau usaha. Hidup ini pilihan. Lo mau bilang ke bokap
lo atau nggak, itu pilihan.”
“Tapi lo nggak ngerti
watak bokap gue seperti apa, Ti. Bokap gue pasti nanya pergi ke Jogja sama
siapa, tidur di mana, berapa lama, naik apa berangkat dan pulangnya. Dan yang
paling menyebalkan adalah kalau bokap gue nanya ke Jogja mau apa? Penelitian?
Ada dosen yang membimbing?” aku sudah lepas kontrol, tanpa sadar nada bicaraku
meninggi. Aku menghela napas lagi. Kali ini bicara dengan suara pelan. “Dan gue
nggak bisa bohong, Ti, kalau perjalanan ini memang murni jalan-jalan. Nggak ada
penelitian dan dosen.”
Asti tersenyum
mencoba tenang. Aku tahu, dia pasti geregetan dengan kenyataan ini, denganku
yang tak pernah berani bicara pada Papa untuk kesekian kalinya soal Jogja. Aku
memang pengecut.
“Sekarang begini
saja. Lo bilang sama bokap lo, kita bersepuluh mau ke Jogja menyaksikan upacara
sekaten. Kalau bokap lo masih nanya
ada dosen atau nggak, ya bilang saja ini inisiatif mahasiswa. Sebab nunggu
dosen mah kita nggak akan berangkat, Ra. Terlalu lama birokrasinya. Yang ada
keburu sekaten bubar, dosen-dosen
baru bilang berangkat. Ini tuh masih bagian dari penelitian jurusan kita loh.
Upacara sekaten kan juga bagian dari
kebudayaan,” ucap Asti panjang lebar.
Aku terdiam, berpikir
lagi. Jogja sudah membuatku kurus hampir dua semester ini. badanku kurus
dimakan harapan dan mimpi-mimpi soal Jogja. Kuberikan senyum terbaikku pada
Asti untuk menghargai masukannya. Mungkin memang sudah waktunya aku bertanya
lagi pada Papa, setelah hampir enam bulan memendam kepedihan karena pernah
tidak diizinkan pergi ke sana. Semoga kali ini keberuntungan datang
menghampiriku.
-ooo-
Usai makan malam, aku mencuci piring-piring kotor di dapur. Sesekali
mataku melirik ke arah ruang tengah, ada Papa sedang ngobrol dengan adik
laki-lakiku soal band favorit adikku.
Sambil menyabuni piring-piring ini, aku merangkai
kata-kata terbaik untuk memulai pembicaraan dengan Papa nanti. Berkali-kali
dirangkai, disusun, digumamkan dalam hati. Tak ada satu kalimat pun yang pas
untuk memulai percakapan malam ini. Kecuali mood
Papa malam ini sedang bagus, sejelek apapun kalimatku nanti, pasti akhirnya pun
akan bagus.
Selesai sudah semua piring kucuci. Aku menarik
napas panjang dan menghembuskannya perlahan. Setelah itu melangkah ke ruang
tengah mendekati Papa. Beliau sedang nonton berita sore tentang kasus korupsi
yang tak ada habisnya. Meski lulusan managemen ekonomi, akhir-akhir ini Papa
bilang ia sedang tertarik dengan dunia politik.
Sekali lagi, aku menghembuskan nafas perlahan
sebelum akhirnya membuka obrolan. Jantungku berdetak cepat.
“Pa, bulan November
awal nanti, teman-teman mau pergi ke Jogja. Ada upacara sekaten di sana. Aku boleh ikut?” tak kusangka suaraku nyaris
bergetar saat bicara. Bahkan saat akhirnya aku diam pun, bibirku masih
bergetar. Degupan jantungku pun terpompa semakin cepat.
“Ah ngapain sih pergi
jauh-jauh. Sudah di rumah saja.” sudah kuduga pasti Papa akan jawab begitu.
Belum sempat aku membalas ucapan Papa, beliau melanjutkan lagi. “Naik apa ke
sana?”
“Kereta ekonomi.”
Jawabku cepat. Aku sudah mempersiapkan jawaban itu jika Papa bertanya naik apa
ke sana.
“Memangnya kamu
sanggup naik kereta ekonomi?” kata Papa sambil setengah tertawa. Tertawa remeh
tepatnya. “Naik kereta ekonomi tuh penuh, berdiri kalau nggak dapat tempat
duduk, nggak ada AC, campur jadi satu sama pedagang-pedagang. Bisa memang
kamu?”
Nah, kalau pertanyaan
Papa yang ini aku belum mempersiapkan jawabannya. Akhirnya aku hanya diam.
Megarahkan pandanganku ke arah TV. Tak berani sedikitpun melihat Papa balik.
Tapi dengan keberanian aku menjawab, “Kan banyak teman-teman, pasti nggak akan
sesulit itu rasanya nanti,”
“Sok tahu... Papa ini
lahir lebih dulu dari kamu. Papa sudah merasakan duluan apa yang belum kamu
rasakan, Nak... Papa nggak yakin kamu betah naik kereta ekonomi. Sudahlah di
rumah saja!”
Perlahan, wajahku
terasa memanas. Ada yang menggenang dan mengaburkan pandanganku. Bibirku masih
bergetar. Aku menahan sekuat mungkin agar tidak meneteskan air mata.
“Papa juga pernah
muda kok, Nak. Seumuran kamu sekarang ini memang lagi senangnya jalan-jalan.
Tapi jalan-jalannya lupa waktu, lupa keadaan, lupa tempat, lupa tujuan. Apalagi
jalan-jalan sendiri, tanpa dosen atau orang dewasa yang mengawas. Tidur juga
nggak jelas di mana. Belum lagi kondisi kamu itu lemah. Capek sedikit bisa
langsung sakit. Kamu itu nggak bisa pergi jauh-jauh, apalagi sendirian hanya
didampingi teman-teman yang baru kenal kemarin.”
Ucapan Papa terhenti dengan
aku yang masih terdiam. Jemariku mengepal menahan ketegaran hati. Fix, aku ditolak Papa lagi untuk pergi
ke Jogja. sampai hari ini aku masih tidak mengerti mengapa Papa begitu melarangku
untuk pergi ke sana.
Apa karena tak ada
dosen yang membimbing perjalanan kami? Karena tujuan perjalanan kami yang tak
begitu pasti? Juga karena kondisiku yang menurut Papa lemah dan gampang nge-drop? Lalu bagaimana caranya aku
membuktikan pada Papa bahwa tanpa dosen pun perjalanan ini akan sangat
bermanfaat bagi kuliahku nantinya? Bahwa tujuan perjalanan kami pun tidak
ngawur meski tidak tertulis dalam jadwal susunan acara yang sudah dibagi-bagi
waktunya? Bahwa kondisiku untuk bepergian jauh tanpa orangtua sekalipun tidak
akan selemah itu?
Aku menarik napas dan
menghembuskannya perlahan. Mencoba meredakan detak jantungku. Menghentikan
getaran di bibirku. Menyurutkan genangan air mata di pelupuk mataku. Tuhan,
beri tahu aku, sebenarnya benteng apa yang menghalangiku menembus hati Papa?
Berkali-kali aku menyetuhnya, lagi-lagi gagal.
Dosenku pernah
berkata saat aku curhat soal kebajaan hati Papa yang tak mampu kutembus. Beliau
bilang bahwa mungkin Papa belum percaya padaku. Jika benar hal itu terjadi,
maka sulit untukku mencairkan hati Papa. Aku disarankan untuk mengalah pada
semua ucapan Papa dan jangan sekali-sekali bersikeras tetap ingin melakukan apa
yang aku inginkan lalu Papa mengiyakan. Hal itu akan mustahil karena yang ada
Papa justru semakin tidak akan pernah mengizinkan aku pergi ke Jogja.
Mungkin aku harus
cari cara seperti yang disarankan dosenku. Tapi apa cara itu, aku tidak pernah
menemukan jawabannya. Yang kulakukan hanya bisa pasrah dan bersabar. Entahlah
sampai kapan.
-ooo-
“Yah, nggak diizinkan lagi?” tanya Galuh dengan raut wajah kecewa.
Begitu juga Asti dan Rizky. Serta beberapa teman lainnya yang sudah tak sabar
menyambut hari keberangkatan mereka.
Aku menebar senyum
meyakinkan mereka bahwa hal ini tak membuatku begitu terpuruk. “Santai saja.
Kalian berangkat saja tanpa gue. Kalau nunggu gue sih, kalian nggak akan
berangkat,” kuselipkan tawa dalam kata-kataku.
“Semangat ya, Sasa!
Suatu hari pasti lo bisa ke Jogja kok!” hibur Asti.
“Pasti. Gue yakin kok
kalau suatu hari gue bisa ke sana!” ucapku mantap.
“Kasihan banget ya,
padahal sudah mahasiswa, tapi masih saja nggak dibolehkan pergi ke mana-mana.”
Sebuah kalimat terucap, entahlah datang dari mana
dan terasa sangat menusuk telinga. Aku mencari sumber suara itu. “Katanya sudah
mahasiswa, harusnya, sih, dibolehkan pergi ke mana-mana. Apalagi, kan, ini
masih ada hubungannya sama kuliah gitu,” tambahnya lagi.
Aku melirik sebentar
ke arah seseorang yang masih sekelas denganku itu. Ia duduk tak jauh dari
posisiku bersama gerombolan yang lain. “Ya.. kasihan, sih, memang, gue yang
sudah segede ini masih nggak dibolehkan ke mana-mana. Bahkan pulang kuliah saja
nggak boleh kelewat jam enam sore. Tapi paling nggak sih, itu tandanya gue
masih ada yang memperhatikan.. Dan soal pergi ke Jogja itu kan nggak harus
bulan depan. Apalagi kalau perginya ngotot minta diizinkan pergi dan tangan
tinggal nerima duit orang tua seenaknya. Gue lebih kasihan sama orang yang
seperti itu sebenarnya.”
Sepertinya kalimatku
barusan membuat orang itu tercekik. Lihat saja wajahnya sekarang, penuh dengan
kebencian. Maklum saja, orang sirik itu pasti tidak pernah puas dengan apa yang
dimilikinya.
Sepertinya temanku yang satu ini belum lama
bercerita bahwa ia dilarang untuk bepergian jauh karena terlalu sering
bepergian. Mungkin sudah terlalu sering minta biaya ke orangtuanya. Tapi hebatnya,
begitu mengetahui Asti mengajakku pergi ke Jogja, tahu-tahu ia mengabari bahwa
ia diizinkan ikut perjalanan ini.
Aku tak habis pikir, seperti apa dia merengek
kepada orangtuanya agar diperbolehkan pergi? Belum lagi biaya yang akan
dikeluarkan oleh orangtuanya untuk perjalanannya nanti. Ah, lagi pula buat apa
dipikirkan. Orang seperti itu hanya menyulitkan dirinya sendiri. Hanya ingin
dilihat yang bagus-bagusnya saja oleh orang lain. Kasihan.
“Gue kemarin beli peta Jogja loh,” ucapku senang.
“Mungkin, lebih baik gue khatam baca
peta ini dulu baru pergi ke sana. Sekalian nabung dulu. Jadi nggak perlu
dibiayain orangtua, kan? Pasti perjalanan lebih menyenangkan,” kubentangkan
senyum kebangganku pada teman-temanku yang tidak pernah bosan mendengar
penolakan izin dari Papa, atau bosan mendengarkan cerita-cerita anganku soal
Jogja.
Entah kenapa
celetukan teman yang tidak suka padaku tadi serasa membangkitkan semangatku
untuk terus berusaha mencapai Jogja. Ya, mulai hari ini aku mencium aroma Jogja
yang semakin dekat. Aku yakin, suatu hari kaki ini bisa berdiri di depan Tugu
Jogja.
-ooo-
“Kamu nggak lagi merasa kalah kan, Sa, saat ini?” tanya Rizky sore
itu. Kemarin malam, rombongan paket miskin sudah berangkat menuju Jogja. Dan
demi aku, Rizky rela tidak ikut perjalanan itu. Padahal sudah kupaksa untuk
ikut saja.
“Kalah? Sama sekali
nggak kok. Aku sedang berusaha memaklumi dan mengerti bahwa Papa pasti punya
alasan kenapa aku belum diizinkan pergi ke Jogja,” aku menatap langit yang
mulai senja. “Tuhan pasti nggak pernah tidur, doaku pasti selalu didengar-Nya.”
“Jangan pernah merasa
berkecil hati ya, Sa. Semua cita-cita nggak ada yang nggak jadi kenyataan kalau
kita mau berusaha.”
Aku menatap Rizky.
“Terima kasih ya untuk dukungan dan dorongan semangat kamu selama ini. Berkat
kamu aku percaya bahwa mimpi itu bisa jadi nyata kalau kita mempercayainya.”
“Orang yang memiliki
mimpi itu, kan, berarti dia punya harapan.”
“Kalau orang yang
nggak punya mimpi?”
“Dia terlalu
memandang realitis kalau begitu. Realitis dan pesimis itu beda tipis.”
“Hahaha! Sok tau kamu
keluar lagi tuh...” tak terasa sudah hampir satu tahun lebih aku menetapkan hatiku
pada kota indah satu itu.
“Oh iya, Sa, kabar
novel kamu yang dikirim ke penerbit waktu itu belum ada kabar? Sudah tiga bulan
lebih loh,” tiba-tiba Rizky mengingatkanku pada naskah yang tiga bulan lalu
kukirim ke penerbit. Sebuah novel yang aku tulis sejak aku masuk kuliah.
Awalnya aku berharap, semoga novel itu bisa diterima penerbit dan cita-citaku
menjadi penulis tidak lagi diragukan oleh Papa. Hingga akhirnya aku mengenal
Jogja dan hal itu memunculkan konflik baru antara aku dengan Papa.
Aku menghela napas.
“Memang sih kamu selalu bilang bahwa kita harus percaya setiap perjuangan itu
ada hasilnya, tapi...”
“Tapi apa?”
“Tapi untuk mimpi yang satu ini, aku kok pesimistis
yah, Riz?”
“Loh? Pesimistis kenapa?”
“Aku nggak yakin kalau novel aku ini bakal keterima
penerbit... Kalau ingat yang dulu-dulu waktu berkali-kali naskahku ditolak
penerbit, itu yang membuat aku jadi nggak yakin novel yang ini pun akan lolos.
Aku juga nggak ngerti kenapa mau menerbitkan buku saja susah banget. Jangankan
novel, kirim cerpen ke majalah-majalah saja nggak ada kepastian sampai
sekarang. Bahkan, aku juga pernah punya pengalaman paling menyakitkan waktu
naskahku justru hilang dan penerbit nggak bertanggung jawab untuk mencari
naskah aku. Ditolak berkali-kali, naskah nggak jelas hilang ke mana, nggak ada
kepastian sampai bertahun-tahun, makanya kenapa aku pesimistis dan lebih
memilih untuk nggak mengharapkan saja deh.”
Rizky mengangguk-angguk seolah mengerti apa yang
aku rasakan. “Tapi jangan begitulah... Kamu tetap harus percaya, Sa. Sekarang
lebih baik lupakan saja naskah-naskah yang dulu itu, yang hilang dan nggak ada
kabar. Yang terpenting, kita tunggu kabar dari penerbit tentang naskah yang
kamu kirim tiga bulan lalu... Nggak ada yang nggak mungkin, Sa!”
Kata-kata Rizky tetap tak mengubah keyakinanku. Aku
hanya bisa diam sambil bertanya-tanya, bagaimana kabar naskahku di penerbit
sana. Apa mungkin sudah dalam proses pembacaan oleh editor? Atau malah belum
masuk proses reading karena baru
masuk dalam daftar naskah yang akan dibaca oleh editor? Atau bahkan yang lebih
parah adalah naskahku justru tertumpuk di tumpukan paling bawah karena banyak
naskah-naskah lain yang diajukan ke penerbit? Astagaaa.. Mau jadi penulis saja
sulit sekali.
“Aduuuuh, sudah deh, Riz. Lebih baik kita pulang
saja sekarang. Soal kabar dari penerbit biarkan saja lah. Yang penting sudah
berusaha.” Aku memang pengecut. Nampaknya, kegagalan belum berhasil membuatku
belajar dari pengalaman. Seharusnya, aku bisa lebih menghargai kegagalan.
Seharusnya, aku intropeksi diri mengapa kegagalan itu bisa sampai terjadi
berkali-kali. Tapi aku terlalu pengecut untuk menerima kegagalan lagi.
-ooo-
Waktu sudah menunjukkan pukul satu dini hari. Akan tetapi, mata ini
belum mau terlelap. Meskipun sudah diusahakan untuk terpejam sejak jam
sembilan.
Malam menjelang pagi
ini aku merindukannya yang belum pernah kujamah sama sekali. Hati ini begitu
gelisah akibat rasa ingin yang nampaknya sulit sekali kubendung malam ini. Aku
ingin sekali berada di sana, berdiri di salah satu trotoar Jalan Malioboro.
Menikmati malam yang masih tetap ramah dan hangat, ditemani dendangan nyanyian
para musisi jalanan. Saat perut lapar, hanya dengan berjalan kaki pun aku bisa
sampai di deretan lesehan angkringan. Tinggal pilih aku ingin makan nasi kucing
rasa apa. Malam menjadi semakin hangat begitu terhirup aroma susu jahe khas
kota pelajar itu.
Bosan dengan
keramaian Malioboro? Itu mustahil. Seramai apapun kondisinya, suasana tetap
hangat dan menyenangkan. Akan ada banyak senyum sapa yang begitu bersahabat.
Atau mungkin, ingin suasana yang lebih ramai dari suasana di sepanjang jalan
Malioboro? Masih ada Alun-Alun Kraton dengan sajian hiburan di sekelilingnya.
Cahaya lampu berwarna-warni dari mainan-mainan yang dijual membuat Alun-Alun
Kraton begitu memikat. Bahkan, kita bisa melakukan sejenis ritual kecil di
Alun-Alun Kraton. Hanya dengan menutup mata dan mampu melewati dua pohon
beringin yang ada di sana tanpa berbelok sedikitpun, konon katanya harapan atau
keinginan yang kita ucapkan selama melakukan ritual itu akan terkabul. Penduduk
sana mempercayai mitos itu.
Tapi yang pasti, aku
ingin sekali mampir ke Taman Sari lalu memotret tiap sudut keindahan tempat
pemandian para selir Raja pada zaman dulu itu. Sahabatku sering kali bercerita
tentang tempat itu. Membuatku semakin penasaran. Rindu ini semakin ingin tumpah
saja begitu teringat dengan pantai Prangtritis yang eksotik dan fenomenal itu.
Lengkap sudah yang namanya surga.
Tanpa sadar,
lamunanku membuatku terlelap kemudian. Dalam pejaman mataku, kulihat Tugu Jogja
dengan cahayanya yang indah di malama hari. Aku berlari, terus berlari menghampirinya.
Tapi yang kudapat, tugu itu semakin menjauh dan menghilang.
-ooo-
Sayup-sayup kudengar suara kokok ayam membangunkan tidurku. Kubuka
kedua mataku perlahan. Peta Jogjakarta yang beberapa bulan lalu kubeli dengan
uang jajanku sendiri, tertempel manis di dinding kamar. Benda itulah yang
kulihat pertama kali begitu aku terbangun dari lelapku.
“Hai, Jogja. Selamat
pagi! Malioboro masih tetap ramai, kan, pagi ini? Aku ingin beli sampur di
pasar Beringharjo, titip salam untuk penjualnya, ya!” kataku bicara sendiri,
lebih tepatnya bicara pada peta.
Aku bangkit segera
keluar kamar. menuju kamar mandi dan mencuci muka, serta menyikat gigi. Begitu
keluar dari kamar mandi, kulihat Papa sedang membaca koran di ruang makan.
“Sudah bangun?” sapa
Papa pagi itu. Aku berjalan mendekati meja makan dan menyambar segelas susu
yang sudah disiapkan Mama untukku.
“Sudah..”
“Jadi, mau naik apa
nanti ke Jogja? Jangan lupa makan tepat waktu, istirahat yang cukup.
Berkeliling boleh saja, tapi tetap jaga kondisi tubuh. Menginap di mana nanti?”
Aku terdiam. Sungguh,
ucapan Papa barusan membuatku bingung. Maksudnya apa?
“Menginap? Menginap
di mana bagaimana? Naik apa ke Jogja bagaimana maksudnya?”
“Loh, kok kamu malah
nanya balik pada Papa? Kamu mau berangkat ke Jogja, kan?”
“Hah? Jogja?”
kebingunganku semakin bergejolak. Apa mimpiku masih berlangsung dan sebenarnya
aku belum bangun dari tidurku?
“Kamu belum baca
surat beramplop coklat di ruang tamu itu, ya? Papa baca itu soalnya, Papa pikir
kamu sudah tau..”
“Surat? Amplop coklat
yang mana?” penasaran, aku segera ke ruang tamu. Ada amplop coklat di meja
dengan kondisi sudah terbuka lemnya. Mungkin karena dibaca oleh Mama yang
menerima, lalu Papa barusan. Aku merogoh kertas di dalam amplop dan
mengeluarkannya. Tak sabar aku ingin membaca apa isi surat itu.
Yth. Raisa Zafira Prameswari
di Jakarta
Dengan hormat,
Sehubungan
dengan naskah Anda yang berjudul “Ada Cinta di Jogjakarta”, kami informasikan
bahwa kami tertarik untuk menerbitkan naskah tersebut. Mohon segera mengirimkan
naskah dalam bentuk softcopy untuk kelanjutan penerbitan, kami tunggu hingga
tanggal 31 Januari 2012.
Dengan
ini pula kami informasikan bahwa sehubungan dengan terbitnya naskah Anda, kami
mengundang Anda dalam acara launching buku di salah satu toko buku di
Jogjakarta. Waktu dan lokasi akan kami hubungi lebih lanjut.
Atas
perhatian dan kerja sama Anda, kami ucapkan terima kasih.
Hormat kami,
Editor Fiksi Penerbit Violet
Aku terduduk lemas di
sofa ruang tamu. Sebuah titik basah menghiasi surat yang masih dengan erat ku
genggam. Air mata bahagiaku menetes. Aku tak mampu berkata apa-apa lagi selain
menangis sambil tertawa. Memeluk surat sekencang-kencangnya. Aku bahkan masih
tak menyangka bahwa ini benar-benar nyata.
Aku masih ingat betul
bagaimana waktu itu aku berkata pada Rizky bahwa aku begitu pesmistis novel ini
akan diterbitkan. Tapi hari ini, ketidakyakinanku terjawab sudah. Aku merasa
sangat bodoh karena harus setengah-setengah dalam mepercayai mimpi-mimpiku.
Tuhan bahkan tidak marah ketika aku tidak lagi mau berusaha meyakinkan diriku
sendiri bahwa aku memang bisa, aku memang berkualitas. Tuhan masih memberikan
hadiah terindah untukku pagi ini.
Aku membaca sekali
lagi surat itu. Bahkan berkali-kali. Isinya masih sama dan tak berubah sedikitpun.
Sebentar lagi aku akan jadi penulis. Karyaku akan dipajang di rak-rak toko buku
di seluruh Indonesia. Mungkin akan diletakkan di rak ‘buku laris’ beberapa toko
buku. Amin, ya Tuhan... Amin.
Setelah menjadi
penulis, akan ada banyak orang yang mengenalku. Mungkin mengidolakan karyaku. Berbondong-bondong
duduk di barisan kursi depan untuk menyaksikan talkshow seputar novelku. Rela mengantri dan bersabar menunggu
giliran bertatap wajah denganku, meminta tandatanganku. Ahhh... Mungkinkah
suatu hari aku akan merasakan itu semua?
Tunggu, sepertinya
ada yang lebih penting dari sekedar novelku diterima oleh penerbit. Kubaca lagi
surat itu. Apa? Jogja? Apa aku tidak salah baca? Atau semua ini hanya mimpi
yang begitu aku terbangun, aku masih tetap aku yang dengan mimpi-mimpinya.
Bukan aku yang naskahnya akan diterbitkan dan akan pergi ke Jogja karena
bukunya.
“Ya Allah... Jogja?”
tanyaku pada diriku sendiri. “Ini nggak bohong kan?”
“Jadi bagaimana? Mau
naik apa ke Jogja? Papa sarankan sih Argo saja yang nyaman dan cepat sampai. Oh
ya, itu tanggal berapa? Izin kuliah beberapa hari juga tidak masalah kok. Yang
penting selama di sana kamu jelas bepergian dengan siapa, menginap di mana,
jangan lupa untuk makan tepat waktu dan istirahat yang cukup.”
Ucapan Papa yang
panjang lebar belum juga membuatku sadar seratus persen. Aku benar-benar takut
jika semua ini hanya mimpi, bunga tidur. Tidak akan pernah menjadi kenyataan.
“Ini.. nggak mimpi
kan, Pa?” tanyaku pada Papa. beliau justru menatapku heran.
“Mimpi apa? Kamu
masih tidur ya menyangka ini mimpi?”
“Jadi, ini
benar-benar nyata?”
“Iya, Nak...”
Kupeluk Papa kuat-kuat. Aku menangis
sejadi-jadinya. Melepas semua tangisan yang pernah tertahan hanya karena ingin
dianggap anak kuat oleh Papa. Kulepas semua deru air mataku yang mengalir tanpa
perlu menahan isak seperti dulu, hanya karena supaya tidak dianggap anak
cengeng oleh Papa.
“Teruslah berkarya, jangan cepat merasa puas dengan
keberhasilanmu saat ini. Ini semua baru permulaan, Nak. Di depan sana, masih
banyak rintangan yang harus kamu hadapi. Kamu harus bisa menargetkan dirimu
sendiri untuk masa depanmu. Meskipun mimpimu sudah tercapai, jangan pernah
hidup tanpa punya mimpi. Teruslah bermimpi dan teruslah berusaha untuk
mewujudkannya...”
Pasti, Pa.. Pasti!
Aku sudah tak bisa berkata apa-apa lagi selain menjawab semua ucapan Papa lewat
suara hati. Yang terdengar saat ini hanya isak tangis bahagiaku dalam pelukan
Papa.
Terima kasih Papa atas semua kasih sayangmu,
bimbinganmu, nasihatmu, semua hal yang telah Papa ajarkan padaku. Tentang
kemandirian, keberanian, ketegaran, dan tentang cita-cita... Tanpamu, aku hanya
seorang anak yang tak punya mimpi, yang tak mengerti bagaimana caranya berusaha
dan berjuang demi cita-cita. Terima kasih, Papa. Aku sayang Papa.
-ooo-
Hai, Jogja. Apa kabar? Aku harap kamu masih tetap istimewa. Tetap
menjadi yang terindah dalam hatiku. Tetap menjadi yang nomor satu dalam
perjuangan hidupku.
Sebentar lagi, kita
akan bertemu, Jogja. Setelah sekian lama aku menantikan saat-saat seperti ini, akhirnya
sebentar lagi kedua kakiku akan menyentuh bumi Jogja. Penciumanku yang peka
akan aromamu, sebentar lagi akan benar-benar nyata menghirup wangi keramahanmu.
Jogja... Aku akan memelukmu sebentar lagi. Untukmu Jogja, kupersembahkan semua
perjuangan yang telah aku lewati hingga hari ini, semua doa yang tak henti kupanjatkan
pada Tuhan hingga hari ini.
Tunggu aku, Jogja.
Sebentar lagi, kita akan berjumpa. Semoga saat kita bertatap, senyummu masih
tetap sama.
“Sa, siap-siap ya,
sebentar lagi kita sampai!” kata Rizky membuyarkan lamunanku. Papa tidak bisa
ikut denganku ke Jogja karena pekerjaan di kantor yang tidak mungkin ditinggal
untuk tiga hari ke depan. Sebagai gantinya, Papa meminta tolong Rizky untuk
mendampingiku. Keberangkatanku semakin terasa membahagiakan karena
teman-temanku sempat mengantar hingga stasiun Senen tadi malam.
“Deg-deg-an?” tanya
Rizky.
“Iya,” aku
mengangguk. Perlahan Rizky mengenggam tanganku. Aku balas mengenggamnya lebih
erat.
“Dingin banget tangan
kamu,”
“Nervous,”
“Jogja kan ramah,
tidak perlu takut dia tidak akan mau menerimamu. Kedatangan kamu pasti dengan
sangat terbuka diterimanya,” ucapan Rizky berhasil membuatku tersentuh. Hampir
saja aku menangis terharu dibuatnya. “Sampai Jogja, apa yang ingin pertama kali
kamu lakukan?”
“Foto dengan plang
Jalan Malioboro,” senyumku mengembang disusul dengan senyuman Rizky. Kupeluk
lengannya erat-erat mencoba membagi kebahagiaan ini padanya.
Papa, sebentar lagi
aku tiba di Jogja. Doamu dikabulkan oleh Tuhan karena aku sampai Jogja dengan
selamat. Terima kasih, Papa, atas doamu yang tak pernah berhenti untukku.
Kereta memasuki peron
stasiun Tugu Jogja. Lewat jendela kereta, untuk pertama kalinya aku melihat
tempat yang tak pernah kulihat sebelumnya. “Bismillahirrahmanirrahim...”
aku keluar dari kereta dan menghirup udara Jogja, untuk pertama kalinya. Tanpa
sadar, aku menitikkan air mataku karena kakiku akhirnya menapak di atas tanah
Jogja. Bahkan aku belum mampu melangkah lagi. Aku justru memilih untuk bersujud
sebagai rasa syukurku atas semua keberkahan yang tak hentinya Tuhan berikan
padaku.
Terima kasih,
Tuhan... Terima kasih. Kali ini Kau telah membuktikan bahwa mimpi bukan hanya
sekedar mimpi. Cita-cita bukan hanya sekedar cita-cita. Dan Jogja bukan hanya
sekedar Jogja. Kini aku benar-benar bersyukur, Tuhan. Sebab berkatMu, aku mampu
mewujudkan mimpi-mimpiku. Dan Jogja, yang sedari awal kupercaya hanya sebuah
mimpi, itu memang benar Tuhan.
Jogja hanya mimpi.
Mimpi yang dapat kuwujudkan dengan perjuanganku sendiri. Mimpi yang kupercaya
memang bisa tercapai. Mimpi yang berkatMu, semua ini menjadi sangat
teristimewa.
“Terima kasih,
Rizky...” ucapku pada Rizky yang berusaha membantuku bangkit dari sujudku.
“Terima kasih untuk
apa?”
“Untuk semuanya.
Untuk mimpi yang memang seharusnya kita percaya.”
Rizky tersenyum.
“Sama-sama, Sa. Aku bahagia kalau kamu bahagia. Ayo bangun! Jogja sudah
menantimu,”
Di depan sana,
sepanjang mataku jauh memandang, ada petualangan seru yang akan segera dimulai.
Ada ribuan perjalanan yang akan terlampaui dengan cita-cita dan mimpi-mimpi
baru. Jogja, aku datang...
-Tamat-
25 Juli 2014
2014: Tahun Terhoki Buat Saya
Sejak SMA, saya terbiasa untuk menuliskan segala hal yang
saya inginkan dalam buku. Teman saya yang mengajarkan hal ini. Hal yang dapat
ditulis pun, bebas. Terserah saya. Asalkan semua hal itu merupakan segala hal
yang saya inginkan: untuk dilakukan, dimiliki, dibeli, dan lain-lain. Barisan
keinginan itu saya tulis dengan judul “Dari yang terkecil hingga sebesar
gajah”.
Banyak mimpi-mimpi yang saya tulis di sana, masuk dalam
daftar keinginan saya. Beberapa, bahkan telah banyak yang sudah saya coret.
Artinya, saya sudah berhasil mewujudkannya. Yeah! Dan dari sekian banyak yang
sudah saya coret, di tahun 2014 ini, saya berhasil mencoret dua mimpi terbesar
saya: skripsi selesai dan novel pertama terbit.
Rasanya gimana, ya? Di tahun 2014, saya berhasil menulis,
menyelesaikan, dan menerbitkan dua tulisan hingga menjadi buku. Ah! Itu tuh
rasanya... syukur alhamdulillah banget ya Allah :3
Bayangin lah, nulis skripsi itu paling saya takutkan selama
kuliah. Nulis skripsi itu nggak semudah nulis novel, Bro, Sis... Nulis skripsi
itu ilmiah, sama sekali nggak ada fiksi-fiksinya. Tetapi, setelah kurang lebih
4 bulan ditekuni, akhirnya skripsi itu selesai jugaaaa~ Betapa indahnya dunia
begitu skripsi selesai, sidang lancar, dan nilai memuaskan! Ditambah lagi...
novel pertama terbit meeeennn :D
Kabar mengejutkan tentang terbitnya novel ini pun nyaris
berbarengan dengan keputusan saya saat akhirnya harus menulis skripsi. Di saat
lagi ketar-ketirnya mikirin proposal skripsi, tiba-tiba ada telepon dari
Gramedia bahwa novel saya layak terbit. Otomatis gembira dan bahagia sekali
hati ini! Bohong banget kalau nggak kaget, serius deh. Hahaha!
Sejak hari itu, saya berusaha untuk semangat menyelesaikan
skripsi. Soalnya saya tahu, ketika skripsi saya selesai, maka saya akan
memiliki dua buku kebanggan di penghujung bulan Agustus. Dan benar saja, selama
saya mati-matian menyelesaikan skripsi ini, draft novel saya pun masuk proses
pengeditan oleh kakak editor. Begitu saya sidang dan revisian beres, tinggal
wisuda, novel saya pun dinyatakan resmi terbit dan akan diluncurkan tanggal 18
Agustus ini.
Aaaaaaaaa, terima kasih ya Allah atas nikmat-Mu yang tak
terhingga, yang belum tentu dapat kubalas meski dengan setiap hari solat lima
waktu, ditambah solat sunnah, puasa senin-kamis, dan amal sana-sini. Karena
memang nggak ada yang bisa menandingi dahsyatnya kekuatan Allah SWT :)
Dari dua perjuangan ini, saya menyadari dan lebih mengerti
artinya sebuah perjuangan dan usaha seseorang. Ternyata benar lho, nggak ada
yang instan di dunia ini. Semua hasil akhir, diperlukan usaha dan ketekunan
untuk mewujudkannya. Menjadi pribadi yang sabar juga penting lho, karena hasil
dari kesabaran itu luar biasa banget rasanya!
Mulai hari ini, kalian (yang membaca tulisan saya ini)
jangan pernah takut bermimpi ya! Kalian harus percaya bahwa nggak ada mimpi
yang nggak bisa diwujudkan. Coba deh, mulai sekarang ikutan menuliskan semua
hal yang kalian inginkan dan cita-citakan dalam buku terbaik kalian. Jangan
lupa dicoret jika sudah terwujud ya!
Percaya deh, Allah nggak pernah tidur. Allah nggak pernah
bosan mendengar keluhan kalian saat menginginkan sesuatu. Allah bahkan
mendengar semua setiap harapan kalian, sekalipun kalian mengucapkannya dalam
hati. Jangan sedih dan menyerah dulu kalau keinginanmu nggak juga dikabulkan
Allah. Coba deh, terapkan ilmu sabar dan tetap berusaha. Allah pasti lihat itu!
:)
So, saya tunggu ya cerita kalian. Cerita tentang
mimpi-mimpi kalian yang berhasil kalian coret dalam barisan mimpi-mimpi yang
kalian tulis. Pasti asyik kalau bisa saling sharing tentang mimpi dan cita-cita
bersama kalian. Semoga setelah membaca postingan saya ini, kalian jadi semakin
bersemangat untuk mengejar cita-cita dan mimpi-mimpi kalian.
See you!
Rara.
Langganan:
Postingan (Atom)








