24 Januari 2014

Cerbung (Part II)

Kacau. Dan semuanya gara-gara Indra.

Sepanjang perjalanan, air mataku nggak juga berhenti mengalir. Supir taksi sejak tadi pasti sudah penasaran atau malah kebingungan melihatku terus-terusan menangis di kursi belakang. Jengkel beradu pedih itu rasanya membuat dada sesak. Cewek memang bisanya cuma nangis saat nggak tahu lagi harus bagaimana untuk menghadapi masalahnya.

Sekitar lima menit lalu, aku meninggalkan Indra di depan toko kue. Aku nggak peduli berapa ratus kali dia mengetuk-ketuk kaca jendela mobil agar aku keluar dan tak jadi pulang. Aku butuh waktu untuk sendiri.

Tak berapa lama kemudian, handphone-ku berdering. Kulihat di layar handphone, sahabatku yang menghubungi. Dengan kesal, akhirnya kuangkat juga telepon darinya.

"Halo," kataku.

"Halo, Sy! Di mana lo?" tanya sahabatku di seberang sana. Mendengar nadanya, sepertinya dia panik.

"Taksi."

"Iya, di mana?"

"Kenapa sih emangnya? Lo bukannya lagi masuk kerja ya hari ini?" tanyaku kesal.

"Iya, tapi gue lagi istirahat. Tadi Indra nelpon gue, katanya kalian berantem? Ada apa lagi sih, Sy?"

"Indra tuh ya?!" aku memejamkan mata sambil menahan kekesalanku mengetahui Indra yang begitu mudahnya mencari orang lain dan menceritakan masalahnya. "Bisa nggak sih dia nggak membawa-bawa orang lain di saat lagi ada masalah sama gue,"

"Jadi gue orang lain, Sy?" protes Tata.

"Setidaknya tuh dia menyelesaikannya sendiri, Ta!"

"Dia panik kali, Sy, lo tiba-tiba ngamuk nggak jelas dan pergi ninggalin dia begitu aja. Lo juga dong, jangan melulu nyalahin Indra yang apa-apa bawa orang lain. Lo sendiri, udah cukup dewasa menyelesaikan masalah lo dengan cara pergi ninggalin semuanya begitu aja kayak sekarang?"

"Lo nggak ngerti, Ta!"

"Lo yang nggak mau membuat diri lo sendiri untuk lebih mengerti sama keadaan yang lagi terjadi, Sy. Lo ada masalah, tapi lo nggak menceritakan masalah lo apa. Gimana Indra mau ngerti kalo lo merasa terganggu dengan kegiatannya? Tapi lo juga nggak bisa ninggalin dia begitu aja,"

"Terus semuanya salah gue? Ta, selama ini siapa sih yang lebih sering pergi? Indra, Ta! Dia nggak pernah sedikitpun mikirin perasaan gue saat dia naik gunung inilah, itulah, ke sanalah, ke sinilah. Nggak, Ta! Dia nggak tau gimana kuatirnya gue saat nggak juga dapet kabar dari dia selama berhari-hari, berminggu-minggu. Yang dia tau itu cuma bagaimana caranya berhasil sampai puncak gunung satu dan lainnya!"

"Ya lo bilang dong sama Indra, jangan lo ceritain hal yang sama aja kayak gini ke gue. Bukan gue yang harus tau tentang perasaan lo, Sy, tapi Indra..." kalimat terakhir Tata terdengar lebih lembut dari sebelumnya. Bibirku bergetar menahan tangis yang tiada hentinya.

Pikiranku berputar-putar membuatku pusing. Hatiku terus saja menyalahkan Indra. Sementara mulutku tak lagi mampu mengeluarkan kata-kata. Kutahan tangisku dengan mengigit bibir bawahku. Tak kuat lagi, kulepas isak tangis yang tertahan sejak tadi.

Sengaja, kumatikan tombol power di handphoneku agar tak ada seorang pun dapat mengubungiku. Benarkah Indra khawatir padaku? Benarkah Indra bingung dengan sikapku ini? Benarkah selama ini Indra tidak mengerti apa yang kumaksud selama ini? Benarkah aku terlalu sibuk memikirkan diriku sendiri?

Nggak adil. Ini nggak adil. Harusnya Indra tahu bagaimana seorang perempuan terlebih pacarnya sendiri saat ditinggal berhari-hari tanpa kabar ke tempat-tempat berbahaya seperti di alam bebas sana. Seharusnya Indra tahu apa yang harus dia katakan untuk sekadar menenangkanku selama dia pergi. Tak bisakah dia memahami itu? Apakah harus aku juga yang mengatakannya?

Satu tahun pacaran, hampir lebih sering sendirian dibanding berdua dengan Indra. Apa ini yang namanya pacaran? Oke, terserah Indra sekarang maunya apa. Aku nggak peduli. Dia mau naik gunung sesering apapun, aku nggak akan peduli lagi. Dia harus tahu, dia harus mengerti bagaimana rasanya jika tak ada lagi yang memperhatikannya seperti dulu.

(Bersambung)


23 Januari 2014

Cerbung (Part I)

"Berangkat lagi?!"

Kesel nggak, sih, setelah berhari-hari nggak bisa ketemu pacar, begitu sekalinya ketemu, eh pacar udah mengabari kalau minggu depan akan berangkat naik gunung lagi. Nggak ketemu lagi. Nggak kontak-kontakkan lagi.

Itu yang aku rasakan sekarang. Pagi tadi, dengan semangat empat lima aku bangun pagi-pagi sekali demi hari ini. Ya, hari ini aku akan ketemuan dengan pacarku. Hari-hari seperti ini, sangat terasa spesial buatku. Sebab, kami sudah berhari-hari tidak bertemu dan saling kirim pesan via telepon. Pacarku baru saja pulang dari pendakiannya di gungung Sindoro-Sumbing. Kini, perasaan bahagiaku dan angan-angan bisa memadu rindu hari ini, pupus sudah.

Aku duduk di kursiku dengan pandangan marah, jengkel. kutatap pacarku yang duduk di hadapanku dengan perasaan biasa saja. Seolah-olah keterkejutanku tadi merupakan hal biasa baginya.

"Iya nih, minggu depan aku ke Semeru, Ndut. Ah, aku seneng banget, Ndut, waktu Aldo bilang di perjalanan pulang kemarin kalau kita semua akan ke Semeru minggu depan. Kerennya lagi, Aldo bahkan sudah mempersiapkan semuanya. Aku sama anak-anak tinggal berangkat aja."

Masih kupandangi wajah pacarku yang berbinar-binar saat bercerita. Aku geram sekali rasanya. Seolah-olah ia bahagia sendiri. Saat dia bercerita tentang kegembiraannya itu, apa dia memikirkan perasaanku?

"Ndut," kini Indra menatapku agak lama setelah dia ketawa-ketiwi sambil menyantap Red Velvetnya. "Kenapa sih, kok diem? Pasti kamu juga kaget, ya?"

Apa dia bilang? Jelaslah aku kaget mendengar ceritanya. Bahkan saking kagetnya, aku jengkel sekali rasanya.

"Ndra, saat kamu naik gunung, kamu pernah mikirin aku?" kini aku melemah. Lebih tepatnya menahan amarah, seperti yang sudah-sudah.

"Loh, kok kamu nanya kayak gitu sih, Ndut?" tanya Indra bingung. "Ya pasti aku inget kamu lah, Sayang... Masa sama pacar aku sendiri, aku lupa," Indra melempar senyumnya yang sejak pertama kali bertemu hingga kini selalu membuatku jatuh cinta.

"Stop tersenyum kayak gitu sama aku, Ndra!" amarahku mulai tak mampu kukontrol. Suaraku meninggi begitu saja. Ada sesuatu yang membuat hatiku terasa sesak. Entahlah sejak kapan, kurasakan air mataku mulai menggenang.

"Kamu kenapa sih, Ndut? Kok jadi marah-marah?"

"Harusnya kamu mikir dulu sebelum kamu nanya kayak gitu!" jawabku. "Kamu tuh nggak pernah mikirin perasaan aku, Ndra! Apa kamu pernah nanya sama aku, gimana perasaan kamu saat kamu tinggal mendaki berhari-hari, berminggu-minggu? Tanpa kabar, tanpa pesan?!"

"Ndut... Kok jadi begini sih?" Indra mulai panik melihat amarahku lepas begitu saja. Ia berusaha menggenggam tanganku, tapi aku segera menepisnya. Air mataku terlanjur jatuh bersama kekesalan dan emosiku yang selama ini terpendam.

"Aku capek, Ndra. Aku capek kalau harus ditinggal-tinggal kamu terus. Aku juga butuh waktu... Kamu itu pacar aku, Ndra. Dan aku ini bukan mainan kesayangan kamu yang hanya kamu temui pada saat-saat tertentu saja. Kamu cerita panjang lebar tanpa kasih aku kesempatan untuk balik bercerita. Aku manusia, Ndra, aku juga punya perasaan. Aku bisa nangis, aku bisa marah!"

Kesal, jengkel, marah. Nafsu makanku hilang seketika. Padahal sejak berhari-hari yang lalu aku begitu menantikan hari ini, berkunjung ke toko kue dan mencicipi Red Velvet berdua dengan Indra. Bahkan tempat ini Indra yang merekomendasikan. Apalah arti penantianku jika sampai di sini, aku hanya mendengar Indra akan berangkat mendaki lagi.

Kuputuskan untuk menyudahi menyantap kue berwarna merah itu. Kulap bibirku dengan kasar dari sisa-sisa kue yang menempel di bibir. Lalu aku bangkit dengan gusar, dan pergi begitu saja.

Indra mengejarku. Tetapi ia tertahan karena harus membayar pesanan kami tadi. Aku tak peduli lagi dia meminta untuk ditunggu. Aku terus berjalan keluar toko begitu seorang pelayan membantu membukakan pintu. Kusunggingkan senyumku yang tertahan padanya sebagai ucapan terima kasih.

"Sissy! Tunggu, Sy!"

Aku dengar Indra berkali-kali memanggilku. Keputusanku bulat. Aku ingin pulang. Aku ingin menjauh darinya. Aku tak ingin bertemu dengannya. Dan aku tak peduli jika minggu depan Indra akan berangkat mendaki lagi.

Segeralah aku masuk ke dalam taksi kosong. Kukunci pintu dan kusuruh supir untuk segera menjalankan mobilnya. Teriakan Indra semakin mendekat. Indra mengetuk-ketuk kaca jelndela taksi yang kunaiki, berharap aku turun dan tidak pulang sendiri. Terlebih lagi dengan suasana kacau seperti ini. Bersamaan dengan itu, taksi melaju meninggalkan Indra yang berdiri mematung memandangiku pergi.

(Bersambung)

17 Januari 2014

Menjelang Valentine

Sadar nggak sadar, menjelang valentine bulan depan, hampir sebulan ini pesan masuk berdatangan tanpa nafas. Dari SMS, Whatsapp, dan Line, banyak orang ingin pesan bunga ke gue. Awalnya memang nggak sadar kalau motif pesan masuk yang datang bertubi-tubi itu karena sebentar lagi mau valentine. wah.. sayang juga rasanya karena gue belum bisa terima orderan lagi. Mengingat proposal skripsi belum juga selesai dan masih banyak yang harus direvisi.

www.wawawiskyflanel.blogspot.com
Teman-teman, mohon maaf sebesar-besar untuk respon yang sangat amat lambat sekali akhir-akhir ini. gue sebagai pemilik online shop wawawisky flanel lagi sibuuuuuk banget sama tugas akhir. kebetulan, semua bunga-bunga flanel itu gue sendiri yang buat. jadi selama gue sibuk, nggak ada orang lain yang bisa menggantikan untuk membuat orderan kalian. sebab dibutuhkan keterampilan dan nggak semua tangan bisa mirip dan serupa untuk membuat mawar flanel tersebut. sepertinya dibutuhkan waktu yg lama untuk mengajari satu atau dua orang agar cepat bisa membuat mawar flanel (khusus jadi pegawai wawawisky flanel), sayangnya gue belum ada niatan untuk buka lowongan :)

Tapi tenang yah teman-teman... Masih banyak jalan menuju Roma. Maka, banyak cara juga untuk memberikan hadiah spesial di hari valentine untuk orang-orang terkasih. Memang sih, valentine itu identik banget sama coklat dan bunga. gue juga menyadari, bahwa produk mawar flanel wawawisky ini punya peran penting di hari-hari spesial seperti valentine. mungkin karena pilihan warnanya yang menarik dan mawar flanel akan lebih awet jadi hadiah ketimbang mawar asli. Tapi tapi tapi... yuk kita pikirkan sama-sama karena di luar sana masih banyak benda-benda lucu untuk dijadikan kado. Harga pun relatif mau mahal atau murah, semua terserah kamu hehehe :p

Hadiah valentine itu biasanya selalu ada coklat. itu udah mainstream banget sih menurut gue. nah biar nggak umum, coba deh kasih coklat dalam bentuk yg berbeda. misalnya, coklat yg dijadikan hadiah bukan silverqueen atau cadburry dsb. tapi, pakai deh coklat koin yg dibungkus dgn kertas emas. itu lho coklat gopean jaman kita SD. Murah sih memang... tapi kamu bisa jadikan coklat itu jadi kelihatan MAHAL lho. Caranya coklatnya jangan hanya satu biji, tapi banyak. terserah jumlahnya berapa. lalu kamu kumpulkan coklat-coklat itu dalam satu toples dan kasih pita. di dalam toplesnya bisa kamu kasih kartu ucapan juga kok. Jaman sekarang, banyak model toples yg berkembang di pasaran. Km bisa beli di toko-toko furniture atau online shop di Instagram dengan keyword "jar".

Selain coklat, kamu bisa kasih pasangan kamu baju atau jam tangan. kategori ini memang relatif mahal sih... tapi ini juga alternatif buat kamu yang ngerasa bosen kalau valentine selalu kasih coklat dan bunga.


Alternatif kado lainnya itu scrapbook, guys. scrapbook yang gue maksud di sini banyak macam sih. bisa scrapbook frame (scrapbook yg dihias di dalam fram 3D), scrapbook album (berbetuk lembaran-lembaran), atau scrapbook jar (dalam toples). Kreasi scrapbook ini bisa kamu buat sendiri kok. Bahkan bisa lebih murah budgetnya dan makna pemberian kado juga lebih romantis karena yang membuat kamu sendiri. Kalau nggak mau repot dan nggak masalah dengan harga, kamu bisa cari online shop yang menerima jasa pembuatan scrapbook. Biasanya harus pesan dari jauh-jauh hari kalau alternatif ini sebab pesanan yang datang ke online shop tersebut pasti nggak sedikit. Apalagi begitu banyak orang yang ingin merayakan hari valentine bersama pasangan dengan memberikan hadiah spesial.


Pengalaman gue selama pacaran tiga tahun ini, kado yang gue berikan untuk pacar beda-beda tiap tahun dan didasari oleh banyak alasan. tahun pertama, gue bikin scrapbook mini model popart dan membuatkan pacar puding coklat berbetuk hati (love). Selama pembuatan kedua kado itu penuh godaan dan rintangan loh. Haha. Gue buat scrapbook itu saat pacar lagi naik gunung ke Sindoro Sumbing, hampir seminggu nggak ketemu. Nah, bermodalkan rindu ini makanya gue membuat scrapbook dengan sepenuh hati dan segenap kasih sayang #halah apalagi bikin scrapbook itu butuh waktu berhari-hari mengingat banyak peralatan dan bahan yang belum terbeli. Karena gue gak pengen kasih coklat, akhirnya gue buatin doi puding coklat. Alasannya supaya bisa dibentuk hati. Kalo coklat yang berbentuk hati mahal harganya hahaha!

Tahun kedua, gue nggak sempat bikin hadiah apa-apa kayak tahun pertama. Akhirnya gue buatin doi roti isi telur dadar buatan gue sendiri. Mungkin terbilang biasa, tapi proses pemberiannya ini yg menurut gue nggak biasa. Gue berangkat dijemput dia. sepanjang perjalanan, doi ngajak ngobrol. susah buat gue untuk ngasih kejutan hadiah itu. akhirnya, saat naik tangga gedung kampus, gue pura-pura jalan di belakang dia dan bilang "Eh tas kamu kebuka sayang, sini aku tutup resletingnya," Nah, itulah kesempatan untuk gue masukin kotak makan berisi roti isi rasa cinta ke dalam tas dia. Dan dia nggak menyadari hal itu. Di kotak makan itu, gue juga buat kartu ucapan hasil karya gue sendiri. Begitu masuk kelas dan kuliah dimulai, doi baru menyadari bahwa di tasnya ada hadiah spesial di hari spesial. Tjieee...

Tahun ketiga, lupa-lupa inget gue kasih apa buat pacar. nggak ada yang spesial sih kayaknya. mungkin karena lagi sama-sama sibuk dan terlalu mainstream untuk merayakan valentine, hehehe. Terkadang, semakin bertambahnya umur seseorang, maka kegiatan-kegiatan unyu seperti akan semakin tertinggal. Mungkin memang masanya sudah lewat hehehe. Tapi bukan berarti orang dewasa sekalipun gak pernah melakukan kegiatan romantis bareng pasangan di hari valentine.

Intinya sih, hari valentine itu bisa dirayakan tanpa harus selalu memberi kado spesial. Terkadang, cukup gandengan tangan sambil duduk di taman saat senja itu aja udah romantis loh. Sambil makan coklat berdua, ihirrrr :3

Semangat yah buat teman-teman yg mau merayakan valentine. Sukses kejutannya! Semoga tulisan ini sedikit banyak membantu hehehe!

Keep love!

12 Januari 2014

H-18 Proposal Skripsi

udah 18 hari gue lewati dengan perasaan nggak tenang. tanggal 30 nanti, adalah batas akhir pengumpulan proposal skripsi. gilak, skripsi coy! hahaha nggak nyangka loh masa-masa itu akan datang juga.

pusing rasanya. apalagi banyak buku dan referensi yang harus dibaca. belum lagi data yang dipakai belum pasti asik. sekalinya udah asik, ternyata meragukan. pfft.

deg-degan nih besok mau ketemu PA lagi. semoga besok kebingingan-kebingungan gue nggak akan menjadi kebingungan yang berlanjut. tetapi dapat pencerahan yg berarti lah.

dan semoga PA nggak membuat gue untuk lebih bingung lagi. tapi udah mulai nyuruh gue untuk nulis. bismillah~

16 Desember 2013

22th.

sekadar mengisi tulisan di blog saja supaya blog nggak sepi. kebetulan juga sudah lama nggak posting dan cerita-cerita. takutnya kamu marah sama aku, Fidho :D

sekadar menulis post yang terlambat, huehehe. ini cerita tentang ulang tahunku yang ke-22. di ulang tahun kali ini, aku masih sama Rizky, alhamdulillah. dan masih punya banyak teman-teman, serta mimpi-mimpi yg selalu siaga diwujudkan.

ulang tahun kali ini, cukup beda dari tahun-tahun sebelumnya. ada acara syukuran di rumah saat malam hari. semua keluarga berkumpul, berdoa, dan makan-makan pastinya. terima kasih tak terhingga untuk mama papa yg udah bela-belain bikin acara dadakan itu :")

pagi harinya, satu persatu ucapan kuterima via sms maupun sosmed. yg langsung juga banyak, alhamdulillah. tahun ini ada peningkatan dibanding tahun kemarin, agak lebih menyedihkan karena ga begitu banyak yg ngucapin *iya, aku memang berharap semua orang ngucapin selamat ulang tahun >,<

kejadian lucu juga ada. perihal kejutan yg gagal gitu hihihi. kasian Asti, salah kirim SMS ke aku untuk nanyain lilin ke Rizky. Wkwk~ gapapa, Ti, gue udah seneng lo masih menyempatkan waktu untuk bikin kejutan. Btw, kuenya enak. sampe detik ini gue masih inget rasa manis dan lembutnya Chocolate Cake Harvest :3

dapet kado apa tahun ini? alhamdulillah cukup berlimpah. dari Asti & Dwi dapet scraf motif warna oranye, dari Wahyu & Zenny dapat novel. yeay :D
dari Rizky? Wow, dia memberikan hal terindah tahun ini. doi berhasil bikin gue klepel-klepek. kenapa? karena Rizky kasih kado scrapbook via toples yg dia buat sendiri. biasanya gue yg suka bikin begituan lho.. sekarang dia mau buatin buat gue. senangnyaaaah :D
makasih ya cintah :*

terima kasih buat semuanya yg sudah doain banyak & sedikit. semoga Allah melimpahkan keberkahan untuk kalian juga! love you all :*







uas vs hobi


#quotesoftheday #keepwriting #gotothenextproject

14 Desember 2013

#nextproject

"Katamu kau mencintaiku?"

"Aku memang mencintaimu," jawabku.

"Tapi kamu mencintaiku dengan kepura-puraanmu. Sebatas untuk membahagiakannya yang paling
kau cintai, hingga saat ini."

"Aku hanya ingin tak ada yang terluka antara kau dan dia."

"Kau salah. Tidak atau denganmu sekalipun, kami berdua akan tetap terluka."



8 Desember 2013

Khilaf

Ketika cinta membawa duka
Tentu bukan itu mauku
Ketika sayang memberi luka
Tentu bukan itu inginku

Ketika cinta lupa mengantarkan rindu
Tentu bukan karena dia mengalihkanku
Ketika sayang lupa memperpanjang waktu
Tentu bukan karena dirinya merebutku

Ketika cinta membawaku kepadanya
Percayalah, ini semua bukan salahmu
Ketika sayang menyeretku ke hatinya
Percayalah, ini semua karena khilafku

Ketika cinta telah membuatmu cemburu
Izinkan aku membasuh amarahmu dengan maafku
Ketika sayang telah menjadikanmu pilu
Izinkan aku menyentuh hatimu dengan jujurku

Di kamar tercinta,
Desember 2013

Me,

15 November 2013

Candu

aku seperti seseorang yang sedang jatuh cinta
hatiku menari-nari bergandengan tangan dengan senyuman
ketika tak sengaja kuhirup aroma
parfum tubuhmu yang sangat kukenal,
kusuka, kucinta, dan membuatku candu
ah... mungkin karena wangi ini aku jatuh cinta padamu
dan mungkin karena kamu yang memakai
wangi ini, aku jatuh hati padamu


Me,

13 November 2013

Blue Jeans Outfits

Ceritanya, hari Sabtu tanggal 9 November lalu nonton pacar manggung di Kemang. Kebetulan pacar diajak sama salah seorang teman untuk ikutan main band karena sedang dibutuhkan iringan biola. Katanya, permintaan dari pihak kafe kepada temennya pacar untuk memainkan lagu-lagu Keroncong. Setelah latihan sekitar dua minggu lamanya, akhirnya pacar dkk membawakan 4 lagu. Satu di antaranya intro pembuka, lagu Sabda Alam, Keroncong Kemayoran, dan Kelinci versi Keroncong. Sayangnya, kemarin lupa video-in saking terpukaunya melihat penampilan mereka. Apalagi vokalisnya kece badai membahana loh suaranya, masih temen satu jurusan juga lho :D

Karena ini pertama kalinya pacar manggung di kafe, apalagi di Kemang, rasanya penasaran juga untuk lihat perfomance-nya :D Ikutlah diri ini ke Kemang meramaikan suasana (atau malah ngeribetin ya? haha, entahlah). Sekalian mau kasih support buat mereka. Ternyata memang keren banget penampilannya. Lagu-lagu yang dibawakan dengan versi Keroncongnya itu easy listening banget. Pacar juga makin hari makin WOW main biolanya. Padahal dulu waktu awal-awal manggung, sumbang fales banget gesekan biolanya hahaha (peace honey :*)

Awalnya sempat ragu juga sih mau ikutan nonton atau nggak ya, soalnya bingung mau pakai baju apa. Akhirnya setelah semedi di kamar, diputuskan untuk ikut. Mulailah ngubek-ngubek lemari cari baju yang cocok untuk dipakai malam itu. Entah kenapa yang dipikirkan itu pokoknya malam ini tampilan gue harus beda dan jangan sampai salah kostum hehe. Akhirnya, ketemulah jaket jeans nyokab yang udah lama banget gak dipakai. Kayaknya bisa nih dimanfaatkan. Selain untuk fashion, jaket jeans cukup bermanfaat untuk menghangatkan tubuh dari angin malam heheu :3

Dan..... jadilah tampilan gue malam minggu waktu itu. Taraaaaaa~~~~




 

Style seperti ini, cocok-cocok aja kok untuk acara yang semi-formal atau santai sekaligus. Jaket jeans yang dipadukan dengan kemeja, memberikan kesan santai tapi formal buat kamu. Untuk paduan warna, bisa disesuaikan dengan selera. Kebetulan hari itu, cuma ada celana jeans warna merah marun yang nganggur dan cuma ada sepatu converse warna tosca. Ini nabrak banget warnanya. Tapi gue nyaman hari itu dengan tampilan gue. Kelihatan kece aja gitu hahahaha (narsis abis)!

Lalu hijabnya, ini memang pasmina favorit gue sih. Warnanya paling favorit, bahannya juga lemes dan nggak kaku. Gampang banget diatur. Pakai pasminanya juga nggak ribet, nggak harus diputer sana-sini yang bikin nyekek leher, apalagi sampai bikin sakit kepala. Wkwk~

Usai nonton pacar manggung, karena itu malam minggu, akhirnya kita menikmati jalan pulang dengan keromantisan tak terhingga. Perjalanan yang indah dihiasi lampu-lampu kota. Wow banget deh. Maklum, nggak pernah malam mingguan hihihihi~

12 November 2013

Talkshow "Ketika Perempuan Menulis" Penerbit Bukune

Mungkin saat ini waktu yang pas untuk ngepost tentang Talkshow "Ketika Perempuan Menulis" yang diadakan oleh penerbit Bukune. Acaranya hari Sabtu, tanggal 2 November 2013 lalu. Penulis-penulis yang bercerita seputar dunia tulis menulisnya ada Aditia Yudis, Ifnur Hikmah, dan Hapsari Anggarani. (Mudah-mudahan nggak salah tulis nama >,<)

Setelah lama nggak mengikuti acara-acara semacam talkshow dan workshop di bidang tulis menulis, akhirnya saya bisa lagi ikutan. Itupun sepulang dari bergabung di Workshop Menulis untuk TV dan FILM, dengan pembicaranya Mas Adi Nugroho.

Acara Bukune ini berlangsung sekitar satu jam lebih, dimulai pukul 16:30 hingga 17:30 WIB. Kebetulan, nggak disangka-sangka bisa ketemu lagi dengan mbak Widya Oktavia selaku editor dari buku-buku ketiga penulis tadi. Syukurnya, Mbak Wid masih ingat sama saya karena sebelumnya kita pernah ketemu di Talkshow Penulis Gagas Media dan Bukune dalam rangkaian acara Festival Pembaca Indonesia di Pasar Festival Jakarta.

Meski acara berlangsung hanya satu setengah jam, banyak hal-hal yang bisa saya bawa pulang. Ketiga penulis bercerita tentang pengalamannya menulis hingga bisa diterbitkan menjadi buku. Dari pengalaman-pengalaman yang mereka ceritakan, banyak hal yang bisa saya pelajari atau setidaknya bisa menggumamkan kata-kata 'Oh, jadi ternyata begitu toh caranya...' sambil manggut-manggut sok paham wkwk~

Talkshow "Ketika Perempuan Menulis" (02/11) di TM Book Store, Depok Town Square

Ketiga penulis ini juga punya pengalaman yang berbeda-beda saat mengawali dunia tulis-menulis. Mbak Hapsari contohnya, ia mulai menulis sejak SMP akibat kecintaannya pada seorang idola pada jamannya. Ia mengabadikan memorinya tentang idola-idolanya itu dalam sebuah diary. Dari situ, mulailah ia terpicu untuk memberikan sedikit imajinasi tentang idola-idolanya. Lahirlah sebuah cerita-cerita pendek. Ia aktif menulis sejak itu. Saat kuliah, ia mulai beralih menulis sejenis karya ilmiah dan jurnal-jurnal. Tetapi, ia pun menyadari bahwa ia merindukan untuk menulis fiksi. Kini, novelnya yang terbit sudah ada tiga buku.

Berbeda dengan Mbak Aditia Yudis yang karya-karya sudah lebih banyak. Padahal ia masih sangat muda. Ia mulai menulis sejak SMP. Awalnya ia ingin membuat komik. Tapi akhirnya ia beralih menulis fiksi dalam bentuk cerpen dan novel. Ia juga bercerita tentang ide-ide cerita dari setiap tulisan-tulisannya, semuanya terinspirasi dari kehidupan sekitarnya. Novel terbarunya berjudul "Mendekap Rasa" ia tulis berduet dengan Ifnur Hikmah. Awalnya mereka bisa berduet karena keduanya sering bertukar tulisan berupa cerita pendek.

Para Penulis Bukune: Hapsari A, Aditia Yudis, Ifnur Hikmah. Editor: Widya Oktavia

Ada banyak hal yang dapat dijadikan ilmu tersendiri untuk saya yang saat ini sedang menulis novel berdua dengan teman saya, Patrisia Devitasari. Novel kami sudah sempat ditawarkan ke sebuah penerbit ternama, tetapi sang editor meminta untuk sebagian ceritanya diubah alurnya. Akhirnya kami jungkir balik lagi untuk menulis cerita dari awal. (Jadi curcol hehehe)

Jujur, menulis duet itu memang tidak semudah menulis sendiri. Begitu juga yang dikatakan oleh Mbak Adit dan Mbak Ifnur. Mereka berbagi pengalaman tentang menulis duet. Salah satunya adalah adanya "kesepakatakan" yang sudah diketahui oleh dua penulis.

Kata mereka: jika ingin menulis duet, kedua penulis harus menjaga komunikasi dengan baik. Agar cerita yang dibuat bisa satu pikiran dan tidak banyak perbedaan. Mereka juga harus membuat outline atau kerangka cerita dengan kesepakatan. Jika ada yang merasa tidak sreg dengan salah satu alur atau bagian cerita, setiap penulis berhak untuk mengubah selama itu ternyata lebih baik. Saat menulis duet, setiap penulis harus mampu meredam keegoisannya masing-masing. Sebab ini kan proyek berdua, jadi "keinginan-keinginan" pribadi itu harus bisa disimpan dulu. Dan yang terpenting adalah, kedua penulis WAJIB HUKUMNYA membuat karakter tokoh yang kuat. Lagi-lagi kedua penulis harus saling mengetahui karakter-karakter tokoh dalam novel mereka.

Hampir satu setengah jam lamanya, obrolan dan diskusi berisi tentang keberadaan "Karakter Tokoh" memiliki peran yang sangat penting dalam menulis novel. Bahkan katanya, kalau bisa karakter tokoh itu dibuat dengan melihat atau memperhatikan orang-orang terdekat dan sudah dikenal agar lebih kuat dan nyata. Ya, sebisa mungkin seorang penulis harus bisa membuat tokoh dalam ceritanya menjadi senyata mungkin. Susah? Tidak jika kamu mau mencoba dan berusaha huehehehe ^^

Nah, begitulah cerita singkat dari pertemuan di talkshow beberapa minggu lalu. Senangnya, karena saya banyak bertanya, saya terpilih untuk menjadi orang beruntung yang mendapat bingkisan dari Bukune. Hahay~~

Intinya, kalau mau menulis itu coba dulu. Atau diawali dengan niat. Nah, setelah itu coba buat kerangka cerita agar kamu lebih mudah menulis hingga ending. Ingat tuh kata mbak-mbak penulis, KARAKTER TOKOH NOVEL harus dibuat senyata mungkin, sedetail mungkin, dan sekuat mungkin. Setelah itu, kamu buat deadline yah teman-teman, supaya kamu bisa disiplin menulis. Jadi deh novelmu :)

Saya ucapkan terima kasih untuk Bukune yang sudah mengadakan acara bermanfaat seperti tu. Semoga lain waktu diadakan lagi dan saya bisa ikutan lagi. Buat kamu-kamu yang sedang menulis, semangat yah! Jangan menyerah! Doain juga yah novel saya cepat selesai. Amin :D

Saya bersama mereka, uhuy ^^

Doa saya setelah ikutan talkshow: semoga suatu hari saya bisa duduk di depan banyak orang menjadi pembicara dan berbagi pengalaman seputar dunia tulis menulis seperti mbak-mbak penulis di atas. AMIIIIN.

See you!

11 November 2013

My November!

Akh! Baru sadar sekarang sudah bulan November hari ke-sebelas! Yihaaaa~
Nggak terasa 9 hari lagi diriku berulang tahun~~ uhuy.

Dapet apa ya dari pacar? *berpikir keras*
Akh, nggak usah banyak berharap. Malu sama umur kalau masih ngarepin kado spesial.
Pacar masih mau mendampingi aja itu udah hadiah terindah dan terbaik kok. *ah masa?*

Eh eh eh~ ini ulang tahun di tahun ketiga gue pacaran sama Rizky. Subhanallah... nggak terasaaaaa, serius deh. Kayaknya baru kemaren dikasih kejutan pake candle light bentuk love di taman kampus. #eaaaa

Akh udah akh. belom ulang tahun udah dibahas. ntar nggak afdol ulang tahunnya.
merananya, menjelang ulang tahun, orderan mawar makin banyak. ckck~
pokoknya tgl 19-20-21 November, tutup PO dulu ahhh~ biar bisa ngerayain ulang tahun :D
*katanya malu sama umur, tapi mau ngerayain ulang tahun???

Bodo amatan. rawr. hobi gue kan NGERAYAIN ULANG TAHUN. hakhakhak~

Iseng-Iseng Berhadiah

malam ini lagi suntuk banget sama tugas Bali. meskipun kuliah di jurusan sastra, tetap aja kalau nggak ngerti bahasanya ya nggak akan bisa nulis. apalagi tugasnya bikin karangan 20 kalimat. gue cuma bisa bilang "adan tiyange Rara" :p

dari pada bengong berkepanjangan, mending nulis tentang khayalan kemarin sore. ampun deh, hidup gue ngayal melulu kayaknya~

kemarin sore, mendadak gue mengkhayal bisa punya toko bunga. bunga flanel maksudnya, bukan bunga asli. memang sih, dulu waktu kecil entah SMP atau SMA, gue pengen banget bisa kerja di toko bunga. hmm, mungkin efek abis nonton FTV. wkwk

seru deh kayaknya kalau bisa buka toko bunga flanel. nanti desain interiornya gue yang tata. banyak bunga di mana-mana, warna-warni. orang mau beli tinggal ambil sesuai dengan keinginan mau bunga apa warna apa. tiap bunga udah ada daftar harganya masing-masing. mau yang paket juga ada harga murah meriah.

selain penataan pot-pot berisi bunga-bunga seperti mawar, gerbera, tuli, sun flower, dan lain-lain, ada juga rak yang isinya pilihan warna pita dan kertas kado. bagi yang ingin dibuatkan kartu ucapan spesial juga bisa, tinggal tunjuk mau seperti contoh yang mana. mau bunganya ditambah boneka-boneka couple juga bisaaaa. apalagi yang mau ngasih buat pacarnya.

urusan order mengorder, bisa langsung datang ke toko atau telp dulu sehari sebelum datang ke toko. bagi yang ingin dikirim via kurir, juga bisa. tergantung pesanannya seperti apa dulu.

hmmm, indah kayaknya. belum lagi di beberapa sisi ada foto-foto gue bareng pacar, keluarga, orang tua, dan orang-orang terdekat. ada papan berisi tempelan pesanan pelanggan, atau digantung pakai wooden clip. aiiih, bayangan gue desain interiornya itu kayak toko bunga di luar negeri aja wkwk pernah pergi ke sana juga nggak.

masih belum tau sih tapinya bisa apa nggak. soalnya gue juga masih kepingin kerja jadi editor novel di penerbit. mungkin kapan-kapan kalau gue udah punya modal yg gede dan lebih serius di bisnis satu itu. amin-amin. apalagi kalau dikelola bareng pacar :3 cicuiiitt :3

ohya!
bagi yang penasaran bunga flanel yang saya jual seperti apa, bisa banget mampir di wawawiskyflanel.blogspot.com yah :D
mari sampaikan isi hatimu melalui bunga~~~ ulalalala~~~~



29 Oktober 2013

Tinggal di Jogja

sebenernya, tinggal di Jogja itu bisa dibilang harapan besar, tetapi bisa juga salah satu harapan dari sekian banyak harapan dan impian yg gue daftar. tinggal di Jogja, salah satu impian buat gue. entah sejak kapan gue mulai jatuh cinta sama Jogja dan berusaha untuk memilikinya.

siapa, sih, yg gak kenal sama Jogja? banyak orang yg sudah berkunjung ke sana. bahkan sebagian besar teman-teman gue sudah pernah ke sana dalam berbagai tujuan. ada yang pernah ke sana untuk liburan, mencari referensi untuk skripsi, atau memang mudiknya ke sana. sementara gue, gue pernah ke Jogja tahun 2011 dan itu hanya sekali-sekalinya. waktunya juga singkat. gak lebih dari 1 hari. capek di jalan tapi liburannya belum berasa.

ada rasa penasaran yg gak biasa terhadap Jogja, makanya kenapa gue pengen balik lagi ke sana tapi nggak pernah bisa. alasannya banyak faktor. dari gak ada modal, sampai gak ada izin. mungkin ketidakberhasilan gue mencapai Jogja untuk kesekian kalinya inilah yg membuat gue berpikir gue pengen tinggal di Jogja suatu hari.

mungkin bisa saja. meskipun gue belum pernah tinggal jauh dari orang tua. dari kecil hingga sekarang umur 22 tahun, gue tinggal sama orang tua dan 1 adik laki-laki. semuanya serba ada. dan gue cukup penasaran juga gimana rasanya tinggal jauh dari orang tua, meskipun kebanyak orang bilang suasana itu gak enak. karena rumah memang tempat terbaik untuk pulang.

entahlah... gue tetep pengen bisa tinggal di Jogja kalau ada kesempatan suatu hari nanti. entah itu hanya sementara atau menetap. gue bisa kerja di Jogja karena di sana ada beberapa penerbit yang gue tahu: Bentang Pustaka dan Stilleto Book. dua-duanya penerbit kece dan (mungkin) gue bisa magang atau kerja di sana. seperti cita-cita gue yg lain, gue pengen kerja di sebuah perusahaan penerbitan bagian proof reader atau editor.

selain itu, Jogja buat gue adalah surganya kerajinan tangan. suplier produk bahan-bahan mentah kerajinan tangan flanel dsb (langganan gue) juga ada di Jogja. dan harganya murah-murah. mungkin, gue gak akan takut kehabisan barang-barang mentah dlm waktu yg lama. gue juga gak perlu membelinya via online dan menunggu barang datang agak lama. jalan kaki ke pasar Beringharjo juga nyampe. mau cari apa aja, di sana juga ada. yaa... mungkin di Jakarta juga ada, tapi harganya mahal :(

yang terakhir, ini alasan yang belum kuat sih... gue pengen tinggal di Jogja karena rencananya pacar mau S2 di UGM. hahaha. gue paling nggak bisa LDR. dari pada LDR, lebih baik gue juga usaha cari kerja di daerah Jogja. siapa tahu bisa dan hubungan sama pacar gak perlu berjarak huehehehe :p

nulis begini, bayangan gue tentang Jogja jadi ke mana-mana. langsung kebayang ramahnya Malioboro, belum sempatnya ketemu sama Tugu Jogja, megahnya Stasiun Tugu, penasaran sama UGM, kangen main lagi ke alun-alun utara Kraton, dan lain-lain. teringat juga sama dua peta Jogja yang tertempel di kamar. mereka siap nemenin gue kapan aja gue mau berangkat ke sana :)

SEMANGAT!

28 Oktober 2013

Dongeng: Nawangsih dan Rinangku

Suasana pesantren sedang tegang. Aku sadar, Ayah sedang berususah payah mengembalikan semua keadaan seperti semula. Aku juga tahu, Ayah sedang berusaha mencari bukti bahwa yang terdengar dan digunjingkan akhir-akhir ini adalah salah.
Di pesantren, tiada hari tanpa aku melihat banyak santri membicarakan tentang fitnah yang disebarkan Cabolek. Pria itu telah berhasil membuat Rinangku masuk dalam perangkapnya. Kini Ayah semakin diuji kebijaksanaannya sebagai pemimpin di pondok pesantren. Semua ini terjadi hanya karena Cabolek iri hati pada Rinangku.
Sudah sejak lama aku tahu jika Ayah sedang mencari seorang menantu untuk dijodohkan denganku. Dalam hal ini, sebagai seorang guru di pondok pesantren, Ayah pun tidak sembarangan memilih calon suami untukku. Ayah mulai memperhatikan para santri di pondok pesantren, terutama para santri yang pandai-pandai. Kelak, Ayah ingin memiliki seorang menantu yang dapat dipercaya tanggung jawabnya terhadap keluarga.
Hingga akhirnya Ayah seakan telah menentukan pilihan. Tak kusangka Ayah merasa simpati pada salah seorang santri yang bernama Cabolek. Sungguh aku terkejut mengetahui hal itu. Tak pernah kubayangkan, aku akan mengabdi seumur hidupku pada pria bertubuh cebol itu. Sudah cebol, wajahnya pun tak tampan. Itulah mengapa orang-orang memanggilnya Cebolek.
“Anakku, sebagai seorang ayah, sudah tanggung jawabku mencarikanmu calon pendamping hidup yang kelak dapat dipercaya dan bertanggung jawab kepada keluarga. Telah kuputuskan, Cebolek memang pria yang pantas untukmu, Nak,” begitulah kata-kata Ayah begitu aku dipanggil untuk berbicara empat mata dengannya.
Kuberanikan diri membuka suara. “Maafkan aku jika aku lancang, Ayah. Aku berterima kasih karena Ayah mau repot-repot mencarikanku calon suami, tapi… sungguh aku belum ingin menikah. Apalagi dengan pria pilihan Ayah saat ini,” kusadari suaraku bergetar. Seumur hidupku, aku belum pernah membantah Ayah.
“Jangan terburu-buru, Nawangsih, Anakku,” Ayah menyentuh bahuku seakan memberi kekuatan. “Kau bisa melakukan pendekatan dulu dengan Cebolek. Sering-seringlah bicara dengannya, maka kau akan tahu tentangnya lebih jauh dan dalam lagi. Hanya dia yang kupercaya dapat mendampingimu dibanding santri yang lain,”
Aku terdiam tak menjawab perkataan Ayah. Aku mengigit bibir bawahku menahan kekesalan di dalam hatiku. Sungguh aku tak mengerti mengapa Ayah dengan begitu mudahnya bersimpati kepada Cebolek. Sejak saat itu, kuperhatikan Cebolek mulai mendekatiku lebih gencar. Sebisa mungkin aku terus menghindarinya. Rupanya, Cebolek tidak mudah menyerah. Kudengar dari para santri yang lain, Cebolek terlanjur menaruh hati padaku. Tuhan, jangan persulit aku pada keadaan ini.
Sejenak aku berpikir, Tuhan mendengar rintihan doaku. Hingga Tuhan kirimkan seorang pemuda ke pondok pesantren Ayah. Ia bernama Rinangku, putra dari Ki Pangandaran yang kutahu sangat berkuasa di daerah Semarang lewat cerita Ayah. Sebagai pemimpin pondok pesantren, Ayah menyambut kedatangan Rinangku. Ia pemuda tampan dan memikat hati. Pertama kali aku melihatnya, aku merasakan ada sesuatu yang membuatku ingin mengetahui lebih banyak tentang putra Ki Pangandaran itu.
Di suatu hari, aku dan Rinangku bertemu pandang. Kudapati ia memberi salam hormat padaku. Tingkah sopannya membuatku semakin jatuh hati padanya.
“Bolehkan hamba bertanya pada Tuan Putri?” tanya Rinangku.
“Dengan senang hati, aku akan menjawabnya,” jawabku.
“Benarkah engkau wahai putri nan cantik jelita adalah Nawangsih, putri dari Sunan Muria, pemimpin dari pondok pesantren ini?”
“Betul, Pangeran. Aku adalah Nawangsih, anak Sunan Muria. Jika boleh aku meminta, cukuplah engkau memanggilku dengan nama Nawangsih,”
Lagi-lagi kudapati Rinangku agak membungkuk menghormatiku. “Baiklah jika engkau meminta, Tuan Putri,”
“Cukup Nawangsih, Rinangku,” sekali lagi, kutatap Rinangku yang juga menatapku. Setelah itu, dengan segera aku pergi dari hadapannya. Aku tidak ingin terlalu lama bertatapan dengannya. Sebab aku tak kuat menahan pesona kharismanya.
Tetapi tak kusangka, pertemuanku yang singkat itu diketahui oleh Cebolek. Api cemburu telah membakar hatinya. Kecemburuan itu membuatnya tak dapat berpikir jernih. Ia menghalalkan segala cara untuk mencelakakan Rinangku. Pada suatu hari di kerusuhan perampok, Cebolek dengan kepandaiannya mengambil hati Ayah agar Ayah menyuruh Rinangku menangkap perampok-perampok itu. Ayah pun menanggapi saran Cebolek dengan kewajaran. Sudah sepantasnya sebagai santri di pondok pesantren, Rinangku diuji kepandaiannya. Di balik itu semua, Cebolek justru menginginkan Rinangku mati di tangan perampok-perampok. Tapi kenyataan berkata lain, Rinangku justru berhasil menangkap perampok-perampok itu dan membawanya ke pondok pesantren. Bahkan perampok-perampok itu ingin bertobat dan berguru kepada Ayah. Mengetahui hal itu, Cebolek semakin tersisihkan dan dendam pada Rinangku.
Dendam Cebolek berlanjut. Ia menyebarkan fitnah tentang Rinangku yang diam-diam memasuki kamarku yang jelas-jelas melanggar kesopanan dan adat sebagai santri. Aku tahu Cebolek telah merencanakan ini semua. Ia menjebak kami. Malangnya, Ayah tidak percaya jika Cebolek pelaku dari semua ini. Hingga akhirnya Ayah menghukum Rinangku untuk menjaga burung-burung yang memakan padi di sawah Ayah. Sejak itu kami terpisah.
“Kuperintahkan engkau untuk menjaga burung-burung yang memakan padi di sawah Dukuh Masih. Janganlah engkau kembali sebelum aku sendiri yang memanggilmu,” perintah Ayah pada Rinangku. Aku menyaksikan perintah itu. Ada Cebolek juga di sana dengan senyum kemenangannya.
Kutatap Rinangku yang dengan mantap menuruti perintah Ayah. Ia segera meninggalkan pondok pesantren, terlebih lagi meninggalkanku. Aku tak mampu mencegahnya, sekalipun untuk mengucapkan salam perpisahan. Ayah yang terlanjur terhasut, melarangku untuk berhubungan dengan Rinangku. Hal ini membuatku semakin tersudut. Sejak awal, aku tahu bahwa Cebolek tidak benar-benar baik untukku. Tidakkah Ayah menyadari itu?
“Tenanglah, Anakku. Aku yakin Rinangku tidak benar-benar melakukan hal buruk itu. Bersabarlah, aku akan mencari tahu kebenarannya,” kata Ayah.
“Ayah percaya padaku bahwa Rinangku tidak bersalah? Rinangku hanya difitnah, Ayah. Mungkin ada seseorang yang tidak menyukainya,” tuturku setengah menangis pada Ayah.
“Bersabarlah,” pesan Ayah.
Aku akan bersabar, Ayah. Kusadari kau begitu bersusah payah mencari tahu kebenaran ini. Kau yakin bahwa Rinangku memang tidak bersalah. Dan aku yakin bahwa kau adalah pemimpin yang bijaksana.
Ketegangan demi ketegangan pun terus kuhadapi. Tuduhan-tuduhan pada Rinangku terus kuterima dengan besar hati. Aku bersabar hingga akhirnya Ayah berhasil menemukan jawabannya bahwa Rinangku tidak bersalah. Segeralah Ayah, aku, dan para santri mendatangi Rinangku hendak mengajak pulang.
Kulihat gubuk yang menjadi tempat Rinangku tinggal selama di sawah. Kudapati ia sedang duduk di depan gubuk menghadap sawah. Ingin sekali aku berlari dan mengatakan padanya bahwa Ayah telah percaya dirinya tidak bersalah, dan aku sangat merindukan wajah tampannya.
Akan tetapi, raut wajah Ayah berubah begitu sampai di depan gubuk. Hal itu membuat khayalan indahku pun buyar.
“Ayah, ada apa?” tanyaku lembut.
Ayah tak menjawab. Dengan menahan amarah, ia bertanya pada Rinangku. “Hei Rinangku, mengapa tak kau usir burung-burung itu? Jika burung-burung terus memakan padiku, padiku tidak akan bisa dipanen,”
Dengan hormat dan santun, Rinangku menjawab, “Bapak Guru, di manakah kesalahanku yang mendengar perintahmu untuk menjaga burung-burung yang memakan padi? Jika semua ini rusak, izinkan aku memperbaikinya,” dalam sekejap, padi-padi itu pulih kembali dan siap panen.
“Lancang kau, Rinangku. Aku tahu kau hebat, tapi tidaklah kau pantas berpamer dihadapan gurumu ini!” marah Ayah.
“Ayah, sudah, Ayah,” aku memohon pada Ayah yang tersinggung hatinya melihat niat baik Rinangku. Bagi Ayah, tidaklah pantas seorang murid menunjukkan keahliannya tanpa diminta atau pamer di hadapan gurunya.
“Diam kau, Nawangsih. Aku sungguh kecewa padanya!” bentak Ayah.
“Ayah, aku mohon, Ayah. Sungguh tentu bukan maksud Rinangku menghina Ayah dengan apa yang dilakukannya,” aku menangis sambil memohon. Aku terlanjur mengharapkan ada akhir yang indah setelah Ayah menjemput Rinangku, bukan akhir yang justru akan sangat dinikmati oleh Cebolek.
“Aku tidak terima, Rinangku. Sekarang, rasakan kerisku ini!”
“Jangan, Ayah….!” Aku berlari ke arah Rinangku dan memeluknya. Bersamaan dengan keris Ayah yang hendak Ayah hujamkan ke dada Rinangku, justru tertancap ke punggungku.
“Nawangsih!” kudengar teriakan Ayah bersamaan dengan Rinangku. Mereka sama-sama terkejut.
Kurasakan sakit yang amat sangat di punggungku. Tak kuasa aku menahannya. Dalam pelukan Rinangku, aku menatapnya. Dan melihat wajah Ayah yang menatap kosong ke arahku.
“Ayah…” rintihku.
“Anakku…” kulihat Ayah menitikkan air matanya. “Anakku… mengapa harus dirimu…?”
“Maafkan aku, Ayah… Tolong, jangan sakiti Rinangku, Ayah tahu Rinangku tidak bersalah… Ayah tahu bukan Rinangku dalang dari semua ini…” ucapku terbata-bata. Darah keluar dari mulutku. Kurasakan kehangatan yang Rinangku hantarkan lewat genggaman tangannya. Kutatap wajahnya lekat. Mungkin bisa menjadi sebuah kehangatan dalam kepergianku.
“Mengapa kau lakukan ini, Nawangsih? Harusnya aku yang mati… Jangan tinggalkan aku, Nawangsih…” itulah kata-kata Rinangku yang terakhir kali kudengar. Setelah itu, semuanya gelap. Aku tak mendengar apa-apa lagi. Semoga di kehidupan selanjutnya, aku dan Rinangku akan bertemu lagi.

------------------------------------------
Depok, 20 Oktober 2013
Digubah dari cerita dongeng Kudus berjudul Kisah Cinta Nawangsih dan Rinangku sebagai tugas kuliah Penulisan Populer di FIB UI.

Kantin Sastra


Matahari cukup terik ketika kulirik jarum jam menunjukkan pukul satu siang. Kuputuskan untuk membelokkan langah kakiku menuju kantin. Orang-orang menyebutnya Kansas, singkatan dari Kantin Sastra.

Kansas sudah berdiri sejak aku kuliah di Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya. Bahkan, sudah berdiri jauh sebelum aku diterima menjadi mahasiswa UI. Pertama kali aku melihat Kansas, bentuknya hampir mirip seperti gubuk. Tak kusangka ada juga banyak dosen yang menyebut Kansas seperti kandang sapi. Dari luar, Kansas memang terlihat menyedihkan dan kurang meyakinkan. Tetapi, bagi sebagian orang yang betah di sana, mereka menganggap Kansas sebagai rumah kedua mereka.

Kini, aku terduduk di salah satu kursi kosong ditemani dengan segelas Capucinno yang baru saja kubeli. Sekilas, Kansas yang sekarang jauh berbeda dengan Kansas tiga tahun yang lalu. Atap Kansas tidak lagi terbuat dari jerami, kondisinya jauh lebih baik sekarang. Kursi-kursi dan mejanya tidak lagi berwarna merah-kuning-hijau-biru, semuanya berwarna putih. Sekarang siapa saja bisa duduk di mana saja. Tidak seperti dulu, setiap jurusan memiliki wilayahnya sendiri sesuai dengan warna kursi.

“Aku tunggu di Kansas,” kukirim sebuah pesan singkat ke nomor ponsel sahabatku. Aku janjian dengan sahabatku di kampus. Sepertinya ia masih les bahasa Jepang di LBI. Kuputuskan untuk menunggu.

Capucinnoku mulai berkurang sedikit demi sedikit. Hawa Kansas sangat panas jika siang-siang seperti ini. Tapi anehnya, banyak orang yang betah makan siang sambil kipas-kipas atau sibuk mengelap keringat yang terus mengalir. Dua kipas angin yang terpasang di atap Kansas semakin tidak berguna. Buang-buang listrik.

Kansas terlihat lebih sepi pada hari Sabtu dibandingkan hari kuliah seperti hari Senin hingga Jumat. Pada kelima hari itu, kursi Kansas jauh lebih penuh diduduki. Bahkan terbilang sangat padat. Semua orang menuju satu titik untuk menyumpal caing-cacing di perut mereka sedangkan waktu yang mereka punya untuk makan siang tidak banyak. Tidak ada jalan lain, hanya Kansas tempat makan yang paling dekat dan terjangkau. Meskipun harus makan dalam kondisi terburu-buru, kursi yang terbatas, banyak piring kotor di meja-meja yang baru saja ditinggalkan oleh penghuni setia Kansas, dan puluhan lalat ikut meramaikan.

Tak peduli hari ini hari apa, Kansas tetap panas dan berlalat. Beberapa kursi kosong tak berpenghuni. Hanya ada sekitar 5 meja yang terisi oleh sekelompok mahasiswa. Aku duduk di salah satu sisi Kansas yang menghadap ke arah taman pohon Kamboja. Sekilas dari kejauhan, kursi dan meja Kansas memang dicat putih. Jika dilihat lebih dekat, warnanya justru terbilang mendekati abu-abu. Coretan di mana-mana. Bahkan ada juga gambar-gambar ilustrasi di sana.

Beberapa mahasiswa berbondong-bondong mulai memasuki Kansas dari arah taman pohon Kamboja. Sepertinya para peserta kelas LBI baru saja usai kelas. Kansas pun mulai ramai. Di belakang saya, duduklah segerombol mahasiswi dengan obrolan yang cukup mengasyikkan. Sebab suara mereka hampir mendominasi di Kansas. Meskipun musik koplo dari warung satai di sudut sebelah kiri dari aku duduk, masih jauh lebih keras berkumandang. Di hadapanku, ada beberapa pria-pria yang duduk sendirian di meja yang berbeda. Mereka menyantap makan siang mereka dengan tatapan kesepian, berharap ada seorang teman mengajaknya makan siang sambil berbincang-bincang.

Tiba-tiba suara cicit burung mengalihkan pandanganku. Sekelebat beberapa burung gereja tampak mondar mandir terbang menyebrangi Kansas. Beberapa penjual makanan juga seliweran ke sana kemari untuk mengantarkan pesanan. Di hari Sabtu begini, Mas Roni, penjual ayam penyet yang paling terkenal di Kansas, masih sibuk menyiapkan pesanan. Ayam penyetnya selalu laku. Tidak jauh dari warung Mas Roni, terdapat dua orang pria sedang beradu kepintaran di atas papan catur.

Aku semakin tidak tahan dengan hawa panas yang meyerangku. Juga para lalat yang sejak tadi mampir mendarat di mejaku. Selain itu, kutatap pula seekor kucing yang berhasil naik ke meja untuk menghabiskan sisa-sisa makanan dan beberapa remahan di sekelilingnya. Kesal karena tak punya kipas, kukibas-kibaskan tanganku demi mendapatkan sebuah angin. Tetapi hasilnya, nihil. Atap Kansas yang mengerucut sepertinya tidak berfungsi dengan baik, udara yang masuk seakan-akan terperangkap dan tidak bisa keluar.

Kuputuskan untuk menghabiskan Capucinnoku yang tinggal sedikit. Sejak tadi aku mencari-cari, tetapi sahabatku belum juga muncul di Kansas. Jangan-jangan pesan singkatku tadi belum dibacanya dan ia meninggalkanku di sini. Baru saja aku akan menelponnya, ia lebih dulu menghubungiku.

“Halo, Ra,” serunya di seberang.

“Halo, Ti, di mana? Masih kelas?” tanyaku tak sabar.

“Aku baru baca SMS-mu. Maaf, Ra, aku lupa memberitahumu bahwa aku tidak ke kampus hari ini. Lesku libur dan sekarang aku masih di kosan, baru bangun.”

Kudengar tawa renyah cekikikan di seberang sana. Geram sekali rasanya dibiarkan menunggu di tengah hawa panas seperti ini dan tidak menghasilkan apa-apa. Tanpa membalas ucapan sahabatku tadi, aku langsung memutus telepon.

“Awas saja kamu, akan aku guyur kamu nanti setibanya aku di kosanmu!” ancamku dalam hati. Segeralah dengan kesal, aku bergegas menuju kosan sahabatku.

-------------------------------
Depok, 29 September 2013
Ditulis dalam rangka tugas mata kuliah Penulisan Populer di FIB UI mengenai Deskripsi Tempat

Ruang 9303


            Sejujurnya, aku tidak suka dingin. Seperti saat ini, aku duduk di kursi kelas tepat di bawah pendingin ruangan dengan suhu sekitar 25 hingga 24 derajat celcius. Bagi orang lain, mungkin suhu itu tidak terlalu dingin. Akan tetapi, duduk di bawah pendingin ruangan seperti ini bukan hal yang bagus bagiku.
            Beberapa kali kulirik jam tangan di tangan kiriku. Detaknya belum beranjak melewati angka 1. Kualihkan tatapanku ke arah depan. Pak Sunu masih betah dengan posisinya, bersandar di pinggiran meja, berceramah memberikan perkuliahan. Sesekali beliau menyisipkan lelucon-lelucon untuk mencairkan suasana kelas agar tidak membosankan. Penampilan beliau tidak jauh berbeda dengan minggu lalu, masih setia dengan setelan kemeja garis-garis dan bercelana longgar. Kali ini, celananya berwarna hijau army. Rambutnya sedikit beruban dan beliau terbilang santai dalam mengajar.
            Di tengah perkuliahan yang mulai membuatku gelisah akan tanda tanya kapan jarum jam berpindah ke angka 1, kulihat Pak Sunu masih semangat bercerita tantang dunia sastra dan tulis menulis. Sesekali beliau menyeruput air mineral di atas meja, pasti tenggorakan beliau kering juga bicara panjang lebar selama hampir dua jam. Meja pengajar diisi oleh buku-buku yang dibawa oleh Pak Sunu. Sangat mengherankan, saat masuk kelas tadi, beliau menggendong ransel yang hampir mirip tas orang naik gunung. Akan tetapi, tangannya masih sibuk membawa buku-buku berhalaman sekitar 100-150 halaman. Mungkin beliau akan terlihat lebih baik jika membawa para jendela dunia itu dengan tangannya sendiri, bukan disimpan di dalam ransel.
            Kudengar tawa membahana memenuhi atsmorfer ruang 9303. Rupanya aku ketinggalan kalimat-kalimat lucu mengundang tawa yang diucapkan Pak Sunu. Kutengok ke barisan kursi di sisi kiri dari tempat kududuk. Kursi nyaris terisi penuh oleh mahasiswa-mahasiswa tingkat akhir. Beberapa di antaranya adalah teman satu jurusanku. Beberapa lainnya, ada yang kukenal dan asing di mataku. Salah satunya di pojok belakang, aku kenal siapa yang duduk di sana. Namanya Tito, mahasiswa jurusan Ilmu Sejarah yang pernah satu kelas di kelas MPKT saat semester satu. Tak terasa sudah tiga tahun masa itu berlalu. Tito juga pasti lupa bahkan sama sekali tidak tahu siapa aku. Baru kusadari, hampir semua kursi di deretan baris belakang terisi oleh pria-pria bersuara besar.
            Sebetulanya, perkuliahan ini tidaklah membosankan. Aku sangat menantikan kelas Penulisan Populer dibuka di setiap semester. Aku cinta menulis, apalagi kisah cinta. Hanya saja, ruang kelasnya yang tidak menyenangkan. Selain karena pendingin ruangannya, juga karena kelas ini berada di lantai 3. Satu lagi, aku benci terlambat sampai di kelas. Kebencianku akan semakin bertambah jika sudah terlambat, aku harus berlari menaiki tangga ke lantai tiga. Betapa semangatnya menjadi mahasiswa, bukan? Seandainya aku boleh mengganti cat tembok kelas yang berwarna kuning kusam ini dengan warna biru muda atau hijau muda, agaknya lebih menyenangkan dan memberikan efek segar dalam berkuliah. Ah sialnya, kondisi langit-langit di bagian sudut depan ruang kelas memperburuk kenyamanan belajar di sini. Warnanya bukan lagi putih bersih, tetapi coklat bergaris-garis. Warna itu pasti ditimbulkan oleh rembesan air hujan yang masuk lewat atap yang bocor. Akan sangat bahaya jika kondisi itu dibiarkan saat hujan. Sebab di dinding yang sejajar dengan atap rusak itu, terdapat kabel-kabel panjang dan berantakan.
            Pak Sunu jarang menggunakan LCD saat berkuliah. Tetapi hari ini, ia juga belum menggunakan spidol untuk membagi ilmunya di papan tulis. Papan berukuran hampir tiga per empat dinding masih putih bersih. Penghapus papan tulis pun masih tenang bersandar di tempatnya. Pintu kelas beberapa kali dibuka dan ditutup oleh Pak Sunu untuk mencontohkan sebuah cerpen yang beliau bacakan. Sungguh, kuliah di kelas ini haruslah ekspresif. Itu menurutku. 23 orang mahasiswa tampak serius mengamati setiap pergerakan yang dicontohkan beliau. Di sebelah kananku, seorang mahasiswa beberapa kali mengadu bahwa ia mengantuk. Sementara yang di sebelah kiriku, sibuk bolak-balik bertanya jam berapa sekarang. Menurutku, kelas ini asyik dan menyenangkan, mengapa kedua mahasiswa di kedua sisiku merasa kuliah ini membosankan bagi mereka.
            Jika dipikir-pikir lagi, memang akan sangat membosankan bagi yang tidak suka menulis. Tidak ada salahnya jika aku melihat jam untuk mengecek apakah kelas ini sudah seharusnya selesai atau belum. Lagi-lagi, ruang ini bahkan tidak memiliki jam dinding. Di dinding, justru hanya ada 2 lembar kertas berukuran A4 ditempel di sebelah kiri papan tulis. Satu lembar berisi tentang larangan mengaktifkan ponsel dan satunya lagi berisi tentang larangan plagiarisme.
            “Kumpulkan tugas hari Jumat, hari Senin akan kita bahas di kelas. Selamat siang dan terima kasih.”

            Suara Pak Sunu cukup menyadarkanku dari lamunan. Rupanya kelas telah diakhiri dengan tugas yang harus dikumpulkan hari Jumat. Minggu depan, tugas itu akan dibahas bersama-sama di kelas. Oh, aku sangat menantikan menit-menit untuk mengerjakan tugas itu di rumah sesegera mungkin. Minggu depan, semoga yang kukerjakan tidak mengecewakan Pak Sunu saat membacanya.

---------------------------------------------
Depok, 19 September 2013
Ditulis dalam rangka tugas pertama mata kuliah Penulisan Populer di FIB UI mengenai Deskripsi Ruang.

24 Oktober 2013

Craft!

Hai, long time no see!

Siang ini gue mau cerita dong. Baru saja gue lihat-lihat blog para crafter Indonesia. Hmm, seneng rasanya mampir ke sana dan lihat-lihat hasil karyanya. Bagus, cantik, lucu, imut, manis, dan masih banyak lagi. Dari kreasi boneka, bentuk-bentuk makanan, binatang, dan lain-lain. Rasanya ngiri deh sama mereka yang bisa fokus meluangkan waktunya untuk menjahit dan crafting :'(

Gue sebagai crafter yang masih terbilang pemula, cukup banyak belajar dari hasil browsing di internet. Lihat-lihat model bentuk yang lucu-lucu. Dari bikin karya yang sama "plek" persis di blog crafter terdahulu, hingga yang betul-betul gue buat sendiri.

Salah satu produk andalan gue yang betul-betul gue buat sendiri idenya, tutorialnya, hingga kreasinya ya cuma mawar flanel yang gue jualin di wawawisky flanel saat ini. gue merasa bangga sebetulnya bisa menghasilkan produk itu dengan ilmu yang gue temukan sendiri. *halah, macam profesor aja gue ngomong begitu*

Terkadang, pengen banget punya waktu banyak untuk crafting. gue pernah mengkhayal suatu hari bisa punya kantor atau ruangan khusus untuk crafting. di mana di tempat itu, gue bisa menjahit dan berkreasi kapan aja tanpa harus diganggu banyak orang. nanti dekorasi ruangannya gue juga yang buat. ada rak khusus flanel, rak khusus material seperti benang-jarum-payet-dll, ada rak khusus pita, dan masih banyak lagi. huaaaaah terus hasil karya gue dari mawar, gantungan kunci, dan boneka bisa dipajang di sana. Senangnya... :3

Kapan ya bisa mewujudkan semua itu?
Selain berkreasi dengan flanel, kegiatan craft yang laun yg gue suka itu scrapbooking, making a card, wrapping a gift, dan lain-lain. Bahagia rasanya kalau suatu hari itu semua bisa dijadikan bisnis :D :D
Jadi gue kerjanya sesuai dengan hobi. Tapi, apa boleh?

Semoga Tuhan selalu bersama gue aja deh kalo gitu. Amin :")

18 Oktober 2013

Hei, you!






HAPPY DAY
AND
HAPPY FOR US

Outfits by owner
Hijab by @darameutia
Shoes by @melissajellyshoes